Advertisement
Detail Keterangan
Judul Buku Kokki Bitja, Kitab Masakan Indis 1854
Penulis Nonna Cornelia
Penerbit Komunitas Bambu
Cetakan Februari 2026
Tebal Buku xxvi + 216 halaman
ISBN 978-623-7357-67-4

 

apijiwa.id – Dalam diskursus historiografi kebudayaan Nusantara, buku masak kerap dipandang sebelah mata dan dinilai sebatas panduan olah saji di dapur. Padahal, Kokki Bitja Ataoe Kitab Masak-Masakan India hadir sebagai sebuah artefak sejarah yang jauh lebih luhur. Naskah ini bukan sekadar manual teknis biasa, melainkan sebuah pernyataan tegas atas eksistensi dan peran strategis para juru masak di era Hindia Belanda.

Kehadiran Kokki Bitja menandai titik balik penting dalam literasi kuliner karena untuk pertama kalinya kata “Koki” diangkat menjadi subjek utama pada judul naskah. Hal ini menjadi bentuk pengakuan formal terhadap ranah keahlian profesional di ruang kolonial.

Secara historis, sebelum mencapai puncak popularitasnya di bawah naungan penerbit Lange & Co. di Batavia pada pertengahan abad ke-19, naskah ini telah mencatatkan momen kepeloporannya pada tahun 1843 melalui cetakan anonim oleh penerbit Ukena & Co. Melalui standarisasi literasi cetak tersebut, buku ini berhasil merangkum masa transisi penting yang kelak melandasi pembentukan identitas cita rasa Nusantara.

Nonna Cornelia dan Evolusi Penerbitan Kokki Bitja

Menganalisis Kokki Bitja menuntut penelusuran lebih dalam untuk menembus selubung identitas Nonna Cornelia. Sebagai perempuan muda dari keluarga Indo-Eropa, Cornelia menunjukkan keberanian intelektual sekaligus fisik saat melangkah ke dapur—sebuah ruang yang pada abad ke-19 dijuluki sebagai “neraka” karena kondisinya yang panas, berasap tebal, dan kotor. Langkah tersebut bukan sekadar hobi, melainkan upaya mendokumentasikan dialektika budaya yang tengah berlangsung.

Pengetahuan yang dihimpun Cornelia bersifat kolektif, menyerupai jejaring pengetahuan perempuan yang disusun secara teliti. Ia secara terhormat mencatat kontribusi dari berbagai figur, mulai dari Mevrouw Sarondeng, Mejuffrouw Sesate, Njonja Smoor, Nonna Lelawar, Makokki Karmanatji, hingga Embok Kottelet. Ia bahkan menyertakan kontribusi dari kelompok usaha seperti Bami, Kimblo & Co.

Meskipun resep dari Mevrouw Katimoen lebih condong pada selera Eropa murni dan tidak sepenuhnya terakomodasi dalam cetakan kelima, kemunculan deretan nama ini memperkuat narasi bahwa kuliner Indis merupakan hasil dari simpul sosial yang kompleks.

Evolusi bibliografis Kokki Bitja mencerminkan pemantapan identitas naskah tersebut dari masa ke masa. Perjalanannya dimulai pada tahun 1843 saat Ukena & Co. menerbitkan naskah awal secara anonim, yang kelak menjadi benih utama literasi kuliner Indis di Batavia.

Memasuki pertengahan abad ke-19, naskah ini mulai dikelola oleh penerbit Lange & Co. Pada tahun 1857, mereka menerbitkan cetakan keempat yang dipasarkan dengan judul Indisch Kookboek atau Kitab Masak-Masakan India.

Dua tahun berselang, yaitu pada cetakan kelima tahun 1859, naskah ini mencapai wujud resminya yang kian kukuh melalui penpenamaan Kokki Bitja Ataoe Kitab Masak-Masakan India jang Bahroe dan Semporna.

Emansipasi Dapur dan Dialektika Kuliner Indis

Tahun 1854 menjadi momen penting dalam sejarah sosial Nusantara. Era ini sering dikaitkan dengan ambang fajar penghapusan perbudakan secara formal melalui Regeringsreglement 1854. Di ruang dapur elite kolonial, perubahan hukum tersebut memicu sebuah “emansipasi semantik”—status tenaga kerja dapur bertransformasi dari sekadar properti menjadi subjek profesional.

Masa ini melahirkan Gouden Eeuw atau Zaman Keemasan, ketika istilah “Koki” (serapan dari bahasa Belanda kok) mulai memuliakan kedudukan para pengolah rasa. Dapur pun berubah menjadi arena negosiasi budaya antara perempuan pribumi sebagai pemegang otoritas teknis dan majikan Eropa. Melalui Kokki Bitja, Cornelia tidak hanya berbagi resep, tetapi juga mengajak kaum elite untuk memberikan penghormatan yang lebih tinggi kepada para “putri dapur” ini sebagai pilar penggerak kehidupan rumah tangga yang mumpuni.

Dari negosiasi tersebut, kuliner Indis dalam Kokki Bitja hadir sebagai manifestasi awal globalisasi di atas piring. Cornelia secara strategis menggunakan bahasa Melayu Pasar sebagai alat komunikasi lintas kelas untuk merajut istilah Belanda, Jawa, dan Melayu. Salah satu temuan menarik dalam naskah ini adalah penyebutan “Miso”, bumbu fermentasi kedelai khas Jepang. Kehadirannya membuktikan bahwa dapur Indis pada pertengahan abad ke-19 telah terhubung dengan jalur perdagangan global yang luas, melampaui perpaduan sederhana antara tradisi Belanda dan lokal.

Karakteristik ontologis kuliner Indis ini tercermin dalam spektrum kategori hidangan yang sangat beragam—mulai dari Sop, Kari, Sambalan, hingga Ijs (es). Naskah ini mendokumentasikan secara presisi hidangan ikonik lintas budaya seperti Sop Vermicelli (bihun asal Tiongkok), Kari Penjoe, hingga Lelawar Bali.

Selain keanekaragaman hidangan, naskah ini juga menonjolkan keunggulan penguasaan rasa khas Timur (Eastern Mastery), di mana pengolahan masakan bertumpu pada intuisi menakar bumbu daripada obsesi Barat terhadap presisi alat ukur (maat). Sinkretisme teknis pun terlihat alami saat terminologi seperti Stoof (teknik merebus/kompor) dan Deeg (adonan) bersanding selaras dengan penggunaan Taoetjo serta satuan lokal seperti Kati (sekitar 600 gram).

Meski Kokki Bitja berhasil merayakan perpaduan budaya ini, kejayaan tersebut sempat memudar pada awal abad ke-20 akibat gelombang “Totokisasi”. Upaya eropaisasi dapur melalui penggunaan bahan impor dan bahasa Belanda murni saat itu berusaha meminggirkan pesona serta keluwesan bahasa Melayu Pasar.

Tragedi Kwee-Broeder dan Warisan Identitas Bangsa

Di balik kemasyhuran aromatiknya, Kokki Bitja menyimpan narasi kemanusiaan yang tragis. Nonna Cornelia meninggal dunia mendadak pada 6 Oktober 1859 di kediamannya, rumah “Tiada-Katahoewan”. Kematiannya menjadi mitos yang menyayat hati dalam komunitas kuliner Batavia, yang dikabarkan terjadi akibat gangguan saraf hebat usai dipicu oleh kegagalan pembuatan kue Kwee-Broeder.

Desas-desus yang beredar di kalangan jemaat gereja Tionghoa kala itu menyiratkan adanya sabotase atau kecemburuan profesional dari “Nonna Soes” yang merasa tersisih oleh popularitas Cornelia. Ironisnya, sebuah naskah masakan justru menjadi panggung bagi drama persaingan hidup dan mati. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Cornelia sempat meninggalkan wasiat berupa sebungkus resep baru yang disegel rapat, disertai instruksi eksplisit bahwa wasiat rasa tersebut hanya boleh disingkap pada cetakan kelak.

Tragedi personal tersebut tidak melunturkan nilai historisnya; Kokki Bitja tetap tegak berdiri sebagai monumen yang mencatat denyut nadi pembentukan jati diri kuliner nasional. Melalui lembar-lembar resepnya, terekam proses hibridasi budaya yang melampaui batas-batas kolonial. Naskah ini membuktikan bahwa identitas sebuah bangsa seringkali tidak dirumuskan di atas meja perundingan politik, melainkan dirajut di atas meja makan melalui perjumpaan rempah dan teknik.

Upaya pelestarian naskah ini—seperti yang diinisiasi oleh edisi Komunitas Bambu (2026)—menjadi langkah vital untuk menjaga integritas bahasa serta rasa dalam wujud aslinya. Pada akhirnya, Kokki Bitja hadir sebagai penghormatan abadi bagi Nonna Cornelia dan para juru masak anonim yang telah meletakkan fondasi bagi kekayaan rasa Nusantara, menegaskan bahwa sejarah besar dapat ditelusuri dari jejak aroma yang tersisa di dalam piring.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.