apijiwa.id – Daging empuk dari tetelan kerbau yang berpadu dengan gurihnya kuah rempah kluwek kini kembali mendidih di atas tungku perapian kuno. Aromanya mengepul ke udara, berpadu dengan harumnya nasi pulen yang baru saja ditanak di dalam periuk besar. Di halaman tanah sima yang luas, suasana begitu riuh dan penuh sukacita. Ratusan orang dari berbagai kalangan duduk bersila melingkar, menantikan aba-aba dimulainya sebuah perjamuan agung.
Inilah sekelumit pemandangan hidup yang terekam utuh dari masa lampau—sebuah bukti nyata bahwa hobi “kulineran” atau berburu makanan enak bukanlah tren instan bentukan era digital, melainkan warisan budaya yang telah mengakar di bumi Nusantara sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Kisah di Balik Prasasti Masahar (930 Masehi)
Jauh sebelum manusia mengenal internet, gawai canggih, atau ulasan restoran di media sosial, para leluhur di era Jawa Kuno ternyata sudah memiliki tradisi perjamuan yang sangat maju dan terorganisasi rapi. Kisah menarik ini diabadikan bukan di atas kertas yang mudah lapuk, melainkan dipahat secara abadi di atas batu keras berbentuk prasasti raksasa.
Prasasti tersebut adalah Prasasti Masahar, atau yang oleh para sejarawan kerap disebut Prasasti Gemekan. Dikeluarkan secara resmi oleh Maharaja Mpu Sindok, penguasa agung Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 852 Saka (930 Masehi), prasasti ini menjadi arsip sejarah yang sangat berharga bagi peradaban bangsa Indonesia.
Penemuan Prasasti Masahar sendiri menyimpan cerita tersendiri. Batu bersejarah ini ditemukan oleh tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI ketika mereka melakukan ekskavasi penyelamatan di Situs Gemekan pada 2022 silam.
Memiliki empat sisi dengan pahatan aksara Kawi atau Jawa Kuno yang masih cukup jelas, prasasti ini memuat titah penting tentang peresmian tanah sima. Tanah sima adalah tanah perdikan khusus yang diberikan keistimewaan berupa pembebasan pajak karena di atasnya berdiri sebuah bangunan keagamaan yang disucikan oleh masyarakat.
Menariknya, pada salah satu sisi prasasti yang terdiri dari 29 baris pahatan aksara, terselip catatan sejarah yang sangat kaya tentang dunia kuliner masa lalu. Mulai dari daftar menu makanan yang dihidangkan, tata cara perjamuan sakral, hingga ragam jenis minuman tradisional yang disajikan, semuanya didokumentasikan secara rinci.
Hal ini membuktikan bahwa kegiatan makan bersama bukanlah sekadar aktivitas biologis untuk mengisi perut yang lapar, melainkan elemen fundamental yang tidak terpisahkan dari perayaan, ritual keagamaan, dan diplomasi kerajaan di masa lampau.
Pesta Raya: Dari Nasi hingga Hidangan Laut
Prosesi perjamuan akbar dalam Prasasti Masahar ini biasanya dimulai setelah rangkaian upacara resmi peresmian tanah sima selesai dilaksanakan. Para bangsawan istana yang berpakaian megah, pejabat tinggi kerajaan, patih yang berwibawa, tetua desa yang dihormati, hingga rakyat jelata dari berbagai usia—baik anak-anak, pemuda, maupun orang tua—duduk bersama dalam satu area perjamuan. Tidak ada batasan yang kaku di antara mereka; semuanya berhimpun dalam suasana kebersamaan yang hangat dan egaliter.

Menu makanan yang dihidangkan dalam pesta raya tersebut sangat beragam, kaya rasa, dan mencerminkan tingginya peradaban kuliner masyarakat abad ke-10. Hidangan utamanya adalah nasi yang ditanak pulen, disandingkan dengan sayur kelo atau kelan. Sayur kelo ini semacam sup bersantan hangat yang berisi aneka sayuran segar pilihan, yang terkadang dicampur dengan potongan daging atau ikan segar untuk memperkaya cita rasa gurihnya.
Sebagai pendamping hidangan utama, para tamu disuguhi lauk-pauk yang kaya akan protein hewani dan nabati. Terdapat sajian daging cincang berbumbu, urap segar, aneka sayuran rebus (kulupan), sambal kuah yang pedas mengunggah selera, hingga daging dendeng yang dikeringkan agar awet disimpan. Hal yang makin membuat berdecak kagum, menu perjamuan kerajaan abad ke-10 ini rupanya juga mencakup aneka hidangan laut dan hasil perairan darat yang melimpah.
Masyarakat Jawa Kuno saat itu sudah menikmati sajian ikan asin yang gurih, ikan kakap segar tangkapan sungai atau laut, udang berukuran besar, kepiting air tawar, hingga olahan kuah daging pekat berempah yang karakternya sangat mirip dengan rawon kesukaan kita di masa kini.
Sumber protein pelengkap lainnya turut meramaikan meja perjamuan, mulai dari telur, berbagai jenis kacang polong, olahan susu dari sapi perah lokal, balungan (tulang hewan berbumbu) yang sedap diisap, hingga hidangan unik yang diolah dari batang pisang muda. Seluruh sajian megah dan melimpah ruah ini dihidangkan di hadapan para tamu dalam tenong atau wadah besar di tengah arena perjamuan.
Jajanan Pasar dan Minuman Tradisional
Sebuah acara kuliner tentu tidak lengkap tanpa makanan ringan sebagai pendamping. Dalam Prasasti Masahar, tercatat pula keberadaan kudapan yang pada masa itu berfungsi sebagai tambul (camilan teman minum). Salah satunya adalah kurawu, makanan berbahan dasar singkong parut yang dicampur dengan kelapa parut gurih, lalu dipadukan secara cermat dengan kurma, buah asam, serta dodol manis yang memanjakan lidah.
Sementara itu, untuk menghilangkan dahaga setelah menikmati hidangan kaya rempah, para tamu disuguhi beragam minuman tradisional. Ada tiga jenis minuman wajib yang hadir dalam ritual adat tersebut, yakni siddhu (minuman segar dari tetes tebu pilihan), kinca (minuman menyegarkan berbahan dasar asam jawa), serta tuak (minuman fermentasi tradisional dari beras, nira pohon enau, atau legen siwalan). Sebagai penutup yang sempurna, rangkaian perjamuan ini diakhiri saat para pelayan kerajaan menyajikan minuman sari bunga kepada seluruh tamu sebagai simbol penghormatan tertinggi dari sang penguasa.
Pesan Kesetaraan di Balik Meja Perjamuan
Ulasan mendalam yang ditulis oleh Lauhil Fatihah dalam artikel berjudul Tradisi Kulineran dalam Prasasti Masahar: Identitas Budaya Masyarakat Jawa Kuno (Harian Disway, edisi Sabtu, 1 Juni 2024) mengungkapkan bahwa pelbagai hidangan dalam upacara peresmian tanah sima tersebut tidak berdiri sendiri. Makanan-makanan itu merupakan bentuk representasi kekayaan alam Nusantara yang subur, peran sakral kuliner dalam ritus keagamaan, lambang kemajuan teknologi kuliner tradisional, sekaligus penanda status sosial masyarakat Jawa Kuno. Seluruh unsur tersebut saling berpadu membentuk identitas budaya yang kuat.
Namun, di balik kemegahan menu dan simbol status sosial yang menyertainya, Prasasti Masahar menyimpan pesan yang jauh lebih mendalam: fondasi persatuan bangsa. Perjamuan akbar yang mempertemukan maharaja, bangsawan istana, patih, tetua desa, hingga rakyat jelata dalam satu perjamuan membuktikan bahwa tradisi makan bersama sejak dulu telah menjadi ruang kebersamaan yang efektif. Di hadapan hidangan lezat yang tersaji, sekat-sekat status sosial melebur tanpa sisa. Nilai gotong royong, kesetaraan, dan rasa kekeluargaan yang kental inilah yang kemudian menjadi denyut nadi utama peradaban Nusantara dari masa ke masa.
Benang Merah Persatuan Nusantara
Terlepas dari keberadaan hidangan yang dihindari oleh kelompok agama tertentu, esensi persatuan inklusif dalam Prasasti Masahar inilah yang terus hidup dan mewarnai identitas Indonesia hingga hari ini. Semangat duduk bersama lintas kalangan dalam tradisi kuliner tersebut menjelma menjadi nilai-nilai kebangsaan yang lebih luas, seperti tradisi musyawarah untuk mufakat, tingginya solidaritas sosial, serta keragaman budaya yang dirayakan dalam bingkai kebersamaan.
Melalui warisan sejarah yang terkandung dalam Prasasti Masahar, kita diingatkan kembali bahwa kekuatan utama bangsa ini terletak pada kemampuan warganya dalam menjaga keharmonisan di tengah keragaman. Hal ini persis seperti yang dilakukan oleh para leluhur saat merajut kebersamaan di tanah perdikan ratusan tahun silam—membuktikan bahwa makanan bukan sekadar sarana bertahan hidup, melainkan lem perekat sosial yang menyatukan hati setiap anak bangsa.















