| Informasi Buku | Detail Spesifikasi |
| Judul | KELANAMASA: Arkeologi Klasik Dunia Pesisir Demak-Rembang |
| Penulis | Bukhori Masruri |
| Penerbit | Selaklali |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Jumlah Halaman | 242 hlm + xiv |
| ISBN | 978-634-05-2808-4 |
apijiwa.id – Pernahkah kita membayangkan bahwa tanah Jawa yang kini dipenuhi deru modernitas dan hiruk-pikuk aktivitas perkotaan sebenarnya menyimpan ribuan teka-teki sejarah? Teka-teki tersebut terkubur sunyi di balik rimbunnya hutan jati, bersembunyi di sudut pematang sawah, atau tersimpan di kompleks bangunan tua yang jarang dijamah orang.
Ketika berbicara tentang pesisir utara Jawa, ingatan kolektif kita biasanya langsung melayang pada kemegahan Masjid Agung Demak yang sarat nilai kewalian, lanskap mistis Pegunungan Muria yang penuh cerita luhur, hingga jejak peradaban tua di Pati yang rekam jejaknya masih bisa dilacak hingga hari ini.
Namun, di balik narasi besar yang sering kita dengar dan pelajari di bangku sekolah, tersimpan catatan arkeologis yang jauh lebih mengejutkan, unik, dan kerap disembunyikan oleh roda waktu. Pada pertengahan 2026, seorang alumni Jurusan Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) bernama Bukhori Masruri mencoba menghadirkan kembali catatan sejarah yang tercecer dari daerah pesisir utara tersebut melalui buku terbarunya yang bertajuk KELANAMASA: Arkeologi Klasik Dunia Pesisir Demak-Rembang.
Buku ini bukan sekadar bacaan sejarah yang kaku dan membosankan, melainkan sebuah undangan terbuka bagi siapa saja untuk melakukan penjelajahan mental dan fisik menelusuri kepingan masa lalu. Di dalamnya penuh warna, kontroversi, temuan arkeologis yang mencengangkan, serta misteri yang hingga kini belum sepenuhnya terpecahkan.
Titik Temu Demak dan Grobogan: Sisa Peradaban Klasik yang Terlupakan
Wilayah Grobogan dan Demak adalah dua daerah yang selama ini sangat identik dengan kisah legendaris Ki Ageng Selo serta tradisi lisan yang mengiringi awal mula berdirinya Kesultanan Demak. Namun, di balik narasi Islamisasi yang sangat dominan di wilayah ini, ternyata tersimpan misteri unik tentang masa-masa sebelumnya yang jarang diungkap ke publik.
Dalam Kelanamasa, penulis menyajikan perjalanan sejarah Demak dan Grobogan melalui kacamata museum serta peninggalan situs sejarah yang autentik. Di Demak, penulis mengulas secara tajam situs era klasik Demak, yaitu Situs Mbah Kopek. Di situs tersebut, terdapat temuan arca Durga Mahisasuramardini yang cukup megah, meskipun kondisinya saat ini sudah tanpa kepala.
Penjelajahan situs ini kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mendalam mengenai Situs Dudukan. Di lokasi ini, ditemukan artefak berupa yoni berukuran cukup besar, arca Ganesha, serta arca Durga Mahisasuramardini lainnya yang kondisinya sudah aus termakan usia.
Tak kalah menarik, penulis juga mengupas secara detail berbagai koleksi berharga yang tersimpan di dalam Museum Glagah Wangi. Di sana, pengunjung dapat menjumpai artefak seperti yoni, arca Mahadewa, saringan kuno, dan masih banyak lagi benda peninggalan masa lalu yang membuktikan tingginya tingkat peradaban saat itu. Pada bagian titik temu Demak dan Grobogan ini, penulis juga menyajikan informasi mengenai Museum Lokal Grobogan beserta aneka koleksi benda purbakalanya yang kaya akan nilai historis.
Bagian awal buku ini memang banyak mengulas tentang berbagai sisa pemujaan Hindu-Buddha di daerah Demak dan sekitarnya. Padahal, wilayah ini sebelumnya sering dianggap sudah bersih total dari unsur-unsur tersebut karena kerap dikaitkan dengan faktor keagamaan yang ketat pada masa awal Kerajaan Demak.
Penulis mencatat dengan teliti penemuan alas yoni, arca Ganesha, Nandi, Durga, serta berbagai situs pendukung lainnya di daerah tersebut. Temuan fisik itu menunjukkan fakta yang tak terbantahkan: di daerah yang selama ini dikenal sebagai pusat kekuasaan Islam pertama di Jawa, jejak peradaban Hindu-Buddha ternyata masih mampu bertahan, meskipun sebagian besar di antaranya ditemukan dalam kondisi rusak, terkubur, atau sengaja dipindahkan oleh masyarakat pada masa lampau.
Selain itu, buku tersebut juga menjelaskan secara rasional misteri Medang Kamulan, sebuah ibu kota legendaris yang identik dengan tokoh mitologis Aji Saka. Penjelasan ini memberikan perspektif baru bagi pembaca bahwa tempat tersebut sebenarnya lebih bersifat cerita rakyat daripada fakta sejarah yang dapat dibuktikan secara empiris melalui ilmu arkeologi modern.
Pati dan Muria Timur: Menyigi Jejak Klasik di Balik Rimbunnya Alam
Bagian selanjutnya membawa pembaca melangkah lebih jauh ke kawasan Pati dan Muria Timur. Di wilayah ini, buku memperlihatkan realitas yang cukup menyayat hati tentang betapa minimnya perhatian masyarakat maupun instansi terkait keberadaan peninggalan masa klasik.
Kendati demikian, catatan historis yang ditinggalkan oleh peneliti kolonial seperti Brumund mengenai dua arca raksasa di Rumah Dinas Residen Pati, keberadaan Sumur Tua Sani, sisa-sisa Gapura Majapahit di Rendole, serta beberapa situs penting lainnya tetap menjadi modal intelektual yang sangat berharga. Dua arca Dwarapala yang hingga hari ini masih berdiri kokoh di depan rumah residen tersebut seolah menjadi saksi bisu abadi bahwa kawasan ini di masa lampau pernah menjadi pusat peribadatan Hindu-Buddha yang cukup besar dan dihormati.
Tidak berhenti pada data arsip kolonial semata, buku ini juga mencatat berbagai temuan kontemporer yang terus bermunculan di tengah masyarakat, di antaranya: penemuan Prasasti Jolong yang tersembunyi jauh di dalam kawasan hutan Perhutani; dan keberadaan Prasasti Wunandaik yang diduga berasal dari era pemerintahan Raja Balitung pada rentang tahun 898 hingga 910 Masehi; serta berbagai situs pendukung lainnya.
Semua temuan ini membuktikan satu hal penting: jejak peradaban klasik di pesisir utara ternyata masih tersebar luas—bersembunyi di balik lebatnya hutan, terendam di lumpur sawah, hingga tersimpan di sudut pemukiman warga yang sederhana.
Blora dan Rembang: Kritik Tajam dan Garis Waktu Sejarah
Jika bagian-bagian sebelumnya banyak menyajikan kekaguman atas temuan fisik, bagian yang membahas daerah Blora terasa paling tajam dan menggugah nurani pembaca. Di sini, penulis tidak hanya mengapresiasi limpahan artefak masa lalu yang ditemukan, tetapi juga secara berani melayangkan kritik pedas terhadap praktik destruktif di lapangan.
Penulis menyoroti fenomena pengubahan candi purbakala menjadi makam ziarah serta tindakan penghilangan atau pemenggalan kepala arca yang kerap dilakukan atas nama “pembelaan agama”. Kritik tersebut disampaikan dengan lugas namun tetap dilandasi kejujuran intelektual: merawat peninggalan sejarah seharusnya menjadi bagian nyata dari sikap rahmatan lil ‘alamin (membawa rahmat bagi semesta alam), alih-alih merusaknya demi fanatisme kelompok yang sempit.
Eksplorasi kemudian dilanjutkan dengan catatan menarik tentang daerah Rembang yang tampil dengan suasana pesisirnya yang khas dan eksotis. Penulis menghadirkan sejarah Rembang menggunakan susunan linimasa (timeline) yang memikat, mulai dari rekam jejak purba Perahu Punjulharjo, keberadaan Prasasti Pamotan, hingga jejak pertempuran bersejarah antara Pate Rodim dan Guste Pate.
Selain itu, di bagian penutup eksplorasi wilayah ini, penulis melontarkan kritik konstruktif tentang bagaimana apresiasi terhadap penulisan sejarah lokal seharusnya dilakukan secara lebih objektif dan mendalam.
Menghidupkan Kembali Narasi Sejarah Pesisir Nusantara
Buku Kelanamasa karya Bukhori Masruri berhasil menyuguhkan sudut pandang yang segar dan menantang arus utama terkait sejarah pesisir utara Jawa. Alih-alih hanya berfokus pada narasi besar yang sudah lazim diketahui publik, buku ini secara teliti merangkum kepingan peradaban masa lalu yang tercecer di berbagai daerah, mulai dari Demak, Grobogan, Pati, Blora, hingga Rembang. Berbagai temuan fisik seperti arca, prasasti, hingga sisa struktur candi membuktikan bahwa jejak peradaban Hindu-Buddha dan era klasik tetap eksis di tengah pusat kebudayaan Islam awal, menepis anggapan bahwa masa lalu tersebut musnah begitu saja.
Selain kekayaan temuan arkeologisnya, buku ini membawa pesan moral dan kritik sosial yang sangat tajam bagi dunia pelestarian sejarah di Indonesia. Penulis dengan berani menyoroti keprihatinan atas minimnya perhatian terhadap situs peninggalan masa lampau, aksi vandalisme, hingga fenomena pengubahan situs candi yang kerap terjadi di lapangan.
Melalui Kelanamasa, pembaca diajak untuk menyadari bahwa merawat warisan sejarah bukanlah bentuk pengkultusan masa lalu, melainkan sebuah ikhtiar penting untuk memperkuat identitas kebangsaan agar kita tidak menjadi masyarakat yang amnesia terhadap akar budayanya sendiri.















