apijiwa.id – Siapa yang tak kenal es lilin? Bagi generasi yang tumbuh pada era 1970-an hingga awal 2000-an, lantunan suara penjual es lilin keliling adalah salah satu momen paling dinanti sepulang sekolah. Perpaduan rasa manis, dingin, dan gurihnya selalu ampuh menyegarkan diri di tengah teriknya cuaca tropis. Namun, di balik bentuknya yang sederhana dan harganya yang terjangkau, tersimpan perjalanan sejarah yang cukup panjang—mulai dari eksperimen tak sengaja seorang anak di Amerika, jejak era kolonial Belanda, hingga kelihaian masyarakat lokal dalam mengolah bahan seadanya.
Cikal Bakal Es Lilin di Amerika Serikat
Sejarah es lilin secara global tidak bisa dilepaskan dari penemuan es loli atau yang biasa disebut ice pop. Semua ini bermula dari sebuah kejadian tidak sengaja pada malam musim dingin di Amerika Serikat, tepatnya pada tahun 1905. Saat itu, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun bernama Frank Epperson sedang asyik bereksperimen meracik minumannya sendiri.
Ia mencampur serbuk soda manis dengan air di dalam sebuah gelas, lalu mengaduknya menggunakan sebatang kayu kecil. Karena kelelahan bermain, Frank lupa meminumnya dan meninggalkan gelas beserta batang kayu pengaduk tersebut di teras rumahnya semalaman. Tanpa diduga, suhu udara malam itu merosot di bawah titik beku. Keesokan paginya, ketika Frank keluar rumah, ia mendapati campuran soda di dalam gelasnya sudah membeku total menjadi bongkahan es padat.
Saat ia mencoba menarik batang kayu yang ikut tertancap di dalamnya, seluruh bongkahan es itu ikut terangkat. Frank kemudian mencoba menjilat es tersebut dan menyadari bahwa ia baru saja menciptakan cara baru yang menyenangkan untuk menikmati minuman manis. Ia sempat memproduksi dan menjualnya dalam skala kecil dengan nama Epsicle kepada teman-teman sekolah serta lingkungan sekitarnya. Namun, ia baru mendaftarkan hak paten resmi hampir dua dekade kemudian, sekitar tahun 1923–1924.
Atas saran dari anak-anaknya yang sering menyebutnya Pop’s sicle, nama dagang produknya kemudian berubah menjadi Popsicle—sebutan yang hingga kini menjadi istilah umum untuk es loli di banyak negara.
Masuknya Tren Makanan Dingin ke Nusantara
Konsep membekukan cairan manis di ujung sebatang stik atau di dalam cetakan perlahan menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk ke wilayah Nusantara yang saat itu masih berada di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Inilah yang menjadi salah satu dugaan populer tentang awal mula es lilin dikenal di kalangan masyarakat kita.
Pada awal abad ke-20, orang-orang Eropa yang tinggal di kota-kota berudara sejuk seperti Bandung, Bogor, dan Malang membawa serta gaya hidup dan preferensi kuliner dari kampung halaman mereka. Salah satu tren yang digemari saat itu adalah budaya menikmati hidangan penutup dingin, seperti es krim berbahan dasar susu sapi segar. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah kolonial mengembangkan peternakan sapi perah dan kedai es krim.
Bagi masyarakat Eropa dan sebagian kaum bangsawan pribumi, es krim menjadi simbol status sosial. Namun, bagi mayoritas masyarakat lokal, es krim berbahan susu sapi murni merupakan barang mewah yang harganya sulit dijangkau. Kesenjangan ini diyakini mendorong munculnya kreativitas di kalangan masyarakat setempat.
Masyarakat lokal yang tertarik dengan kesegaran hidangan es mulai beradaptasi dengan bahan yang lebih mudah didapatkan. Karena susu sapi segar relatif mahal dan terbatas, diduga mereka mulai memanfaatkan santan kelapa sebagai basis cairan. Perubahan ini menghasilkan cita rasa yang berbeda: jika es krim ala Eropa cenderung creamy dan manis dari lemak susu, versi berbasis santan menawarkan perpaduan manis dan gurih yang lebih khas.
Produk eksperimen rumahan semacam ini diperkirakan menjadi salah satu cikal bakal lahirnya es puter serta berbagai variasi es lilin tradisional. Masyarakat juga memanfaatkan bahan pangan lokal yang sudah akrab di lidah mereka, seperti gula merah (gula jawa), kacang hijau, ketan hitam, sirup cocopandan, hingga nangka. Kombinasi bahan-bahan ini kemudian membentuk karakteristik rasa es tradisional Indonesia yang kuat dan autentik.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa es lilin (saat itu disebut ijs lilin atau ijs-lilin) sudah dikenal setidaknya sejak tahun 1928. Berita di koran Belanda De Nieuwe Vorstenlanden (28 Juni 1928) dan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië (2 Juli 1928) dari Surabaya memberitakan adanya pabrik es lilin yang menggunakan air tidak sehat. Parada Harahap dalam bukunya Indonesia Sekarang (1952) menyebut bahwa usaha es lilin mula-mula dijalankan oleh orang Jepang dan menarik perhatian warga. Dengan demikian, kehadiran es lilin di Nusantara sudah cukup mapan jauh sebelum era kemerdekaan.
Perjalanan Panjang Es Lilin
Meskipun catatan sejarah belum secara pasti menunjukkan tanggal penemuan atau adaptasi lokalnya, banyak pihak meyakini es lilin mulai dikenal pada awal abad ke-20 dan terus berkembang setelahnya.
Nama “es lilin” sendiri kemungkinan besar muncul karena bentuknya yang panjang, bulat, dan ramping, mirip batang lilin penerang yang biasa dipakai masyarakat pada masa itu. Ketika produksi mulai meningkat di wilayah Jawa Barat, khususnya di sekitar Bandung pada periode 1950-an, para perajin menghadapi tantangan pengemasan.
Cetakan logam masih relatif mahal dan terbatas. Salah satu solusi yang kemudian populer adalah menggunakan kantong plastik transparan tipis yang dipotong memanjang. Adonan dimasukkan ke dalamnya, lalu ujungnya diikat dengan karet gelang. Bentuk kemasan ini semakin memperkuat kesan mirip batang lilin, sehingga nama es lilin semakin melekat di masyarakat.
Pada pertengahan abad ke-20, para perajin es lilin tradisional umumnya belum menggunakan kulkas modern. Untuk membekukan adonan, mereka memanfaatkan campuran es balok dan garam kasar di dalam wadah khusus. Garam berfungsi menurunkan titik beku es sehingga suhu di dalam wadah bisa turun jauh di bawah nol derajat, sementara proses pemutaran manual membantu pembekuan berjalan lebih merata.
Popularitas jajanan ini semakin meroket berkat lagu tradisional Sunda berjudul “Es Lilin” yang dikaitkan dengan Nyi Mursih sekitar tahun 1936–1937. Lagu tersebut disebarluaskan oleh banyak seniman dan seolah menjadi “iklan budaya” yang membuat es lilin semakin dikenal. Seperti yang dicatat oleh Riska Andiana dalam Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia (2025), lagu “Es Lilin” terus dihidupkan kembali melalui kreativitas penyanyi seperti Tatty Saleh yang berhasil memadukan teknik vokal tradisional Sunda dengan gaya musik pop modern tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Memasuki era 1950-an hingga 1980-an, es lilin sukses merajai jalanan di berbagai wilayah. Jajanan ini dijajakan oleh pedagang keliling menggunakan kotak termos pikulan atau sepeda, berkeliling dari satu perkampungan ke perkampungan lain, dan sering mangkal di depan gerbang sekolah dengan harga yang ramah di kantong anak-anak pada masanya.
Nostalgia Kesederhanaan dalam Es Lilin
Perjalanan panjang es lilin jauh melampaui sekadar lembar sejarah kuliner. Ia adalah monumen tentang ketahanan hidup, sebuah produk adaptasi dari kreativitas masyarakat kecil yang meracik bahan lokal di tengah keterbatasan zaman. Namun, di balik balutan rasa manis, dingin, dan gurihnya yang melekat erat di ingatan masa kecil ini, es lilin hari ini mungkin menjelma menjadi cermin retak yang memantulkan kerinduan kita akan esensi hidup yang seolah sirna.
Ketika kita mengenang masa-masa ketika suara penjual keliling dinanti sepulang sekolah, ingatan itu bukan sekadar soal jajanan murah di bawah terik matahari. Lebih dari itu, ia adalah pengingat tentang sebuah era ketika manusia dihargai bukan karena deretan jabatan, status sosial, atau tumpukan pencapaian material.
Di bawah kerindangan pohon atau di depan gerbang sekolah pada dekade silam, relasi antarmanusia terjalin dengan begitu murni dan apa adanya. Pertemuan terjadi tanpa pamrih, sapaan diucapkan tanpa motif transaksional, dan tawa anak-anak tercipta tanpa beban ambisi yang melelahkan.
Hari ini, di tengah dunia yang seolah kompetitif dan penuh kepentingan, kita seringkali merasa asing di antara keramaian. Manusia diukur dari seberapa cepat mereka berlari dan seberapa banyak kepentingan yang ada.
Menikmati sebatang es lilin pada akhirnya bukan sekadar meredakan penat di siang yang terik, melainkan bentuk refleksi untuk kembali meraba kemanusiaan kita yang paling dasar; bahwa hidup yang tenang tidak selalu tentang pencapaian megah, melainkan tentang ketulusan hati, kesederhanaan, dan kemampuan untuk kembali merasakan kehangatan hubungan.















