apijiwa.id—Di balik ketenangan lanskap Kabupaten Grobogan, tersimpan rahasia besar zaman kuno yang menanti untuk disingkap. Selain temuan tiga artefak masa klasik di Kecamatan Gubug—berupa arca Nandi, yoni, dan sebuah sendang yang diduga petirtaan suci—ada hal unik lain yang tersimpan di Museum Lokal Purwodadi.
Berpadu dengan jejak legenda Medang Kamulan, tanah ini seolah menyimpan memori kolektif tentang masa ketika wangsa-wangsa besar Nusantara menorehkan sejarahnya. Lantas, apakah Grobogan sekadar wilayah pinggiran, ataukah ia justru panggung utama peradaban Mataram Kuno di utara Jawa?
Mari menyelami kepingan masa lalu, memilah mitos dari fakta arkeologis, serta merunut jejak peradaban klasik yang pernah berdenyut di bumi Grobogan.
Jejak Hindu-Buddha di Museum Lokal Purwodadi
Tak kalah menarik dari kota-kota lain yang kaya akan sejarah, Grobogan menyimpan jejak masa lalu melalui Museum Lokal Purwodadi. Terletak di Jalan Pemuda No. 35, museum ini mengoleksi berbagai peninggalan purbakala, mulai dari fosil gading hingga kerang purba yang ditemukan langsung di tanah Grobogan.
Selain benda-benda prasejarah, museum ini juga menyimpan deretan arca bercorak Hindu-Buddha era klasik yang mayoritas terbuat dari batu putih. Koleksi tersebut meliputi Arca Brahma, Ganesha, Mahakala, Bodhisattva, Lingga, hingga Arca Durga Mahisasuramardhini. Sebagian besar artefak ini ditemukan di Kecamatan Toroh dan berbagai sudut wilayah Grobogan.
Kehadiran temuan arkeologis bercorak Mataram Kuno tersebut memicu pertanyaan penting: apakah Grobogan pernah menjadi bagian integral dari Kerajaan Mataram Kuno, khususnya pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran? Untuk memahami keterkaitannya, kita perlu mundur sejenak ke abad ke-8.

Kerajaan Mataram Kuno didirikan pada tahun 732 Masehi oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya dengan pusat awal pemerintahan di Jawa Tengah. Kerajaan ini juga populer dengan nama Medang, yang dalam tradisi lisan dan legenda lokal berkembang menjadi Medang Kamulan—terutama setelah pusat kekuasaannya bergeser ke Jawa Timur.
Pada era awal, wilayah Mataram Kuno membentang di kawasan Cekungan Jawa Tengah yang subur karena dikelilingi pegunungan seperti Dieng, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Lawu, hingga Pegunungan Sewu. Kesuburan tanahnya turut didukung oleh bentangan sungai-sungai besar seperti Sungai Bogowonto, Progo, Elo, dan Bengawan Solo.
Setelah berkembang pesat di Jawa Tengah, Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan ke Jawa Timur pada tahun 929 Masehi sekaligus mendirikan Wangsa Isyana. Terdapat dua hipotesis utama di balik pemindahan besar ini: bencana dahsyat akibat letusan Gunung Merapi, atau pertimbangan ekonomi strategis untuk mendekati jalur perdagangan Sungai Brantas (Teori Sungai Brantas).
Perjalanan sejarah Mataram Kuno akhirnya berakhir pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh sekitar tahun 1016 Masehi. Runtuhnya kerajaan ini dipicu oleh serangan mendadak Aji Wurawari, pemimpin Kerajaan Lwaram yang berkhianat dan bersekutu dengan Kerajaan Sriwijaya. Peristiwa tragis yang menghancurkan kerajaan tersebut dikenal sebagai Mahapralaya, sebagaimana yang kemudian diabadikan dalam Prasasti Pucangan.
Perpindahan Ibu Kota Mataram Kuno
Dalam sumber-sumber populer, ibu kota Mataram Kuno pada awalnya diduga terletak di Poh Pitu, sebuah wilayah yang diperkirakan berada di antara Jawa Tengah bagian selatan (Kedu atau Magelang) dan Yogyakarta. Kendati demikian, letak pasti dari situs Poh Pitu ini hingga kini masih menjadi ruang perdebatan hangat di kalangan sejarawan.
Memasuki era pemerintahan Rakai Panangkaran, pusat kekuasaan dipindahkan ke arah timur. Pergeseran ini melahirkan dua sudut pandang berbeda mengenai lokasi persisnya. Pendapat pertama menduga ibu kota bergeser ke sekitar Prambanan atau Kalasan, merujuk pada batu tertulis dalam Prasasti Kelurak. Sementara itu, pendapat kedua memperkirakan lokasinya berada di koridor antara Sragen dan Purwodadi-Grobogan.

Dugaan kedua ini diperkuat oleh temuan toponim (nama tempat) kuno seperti “Medang” di kawasan Purwodadi-Grobogan, berpadu dengan kentalnya tradisi lisan Medang Kamulan yang melekat erat di tengah masyarakat setempat.
Setelah masa kepemimpinan Rakai Panangkaran, pusat pemerintahan Mataram Kuno sempat berpindah-pindah lagi ke beberapa tempat, termasuk Mamrati dan Poh Pitu. Dinamika perpindahan ini terus berlangsung hingga akhirnya pada tahun 929 M, Mpu Sindok memindahkan pusat kekuasaan Mataram Kuno secara permanen ke Jawa Timur.
Untuk menakar keabsahan hipotesis sejarah seperti jejak Mataram Kuno di Grobogan, penting untuk memahami hierarki sumber sejarah. Asisi Suhariyanto dalam bukunya Rahasia Nusantara (2024) memaparkan pemeringkatan sumber sejarah dari yang terkuat hingga yang paling rentan. Peringkat tertinggi diisi oleh prasasti sezaman, diikuti oleh peninggalan arkeologis sezaman, karya sastra sezaman, dan berita asing sezaman. Di bawahnya, terdapat karya sastra dari zaman kemudian, mitos dan legenda, serta di urutan paling akhir adalah kajian dan interpretasi ahli.
Secara metodologis, semakin rendah peringkat suatu sumber, semakin lemah pula bobot pembuktian sejarahnya. Hal ini terjadi karena prasasti, peninggalan arkeologis, serta karya sastra sezaman diproduksi langsung oleh pelaku sejarah pada masanya. Adapun berita asing sezaman, meski bukan ditulis oleh pelaku lokal, tetap berstatus sebagai saksi mata peristiwa. Sebaliknya, karya sastra dari era setelahnya serta mitos dan cerita rakyat berjarak sangat jauh dari peristiwa aslinya, sehingga rentan mengalami distorsi dan pemaknaan ulang.
Grobogan Ibu Kota Mataram Kuno?
Di mana sebenarnya letak ibu kota Mataram Kuno? Di saat mayoritas ahli berfokus mencari pusat kerajaan ini di wilayah Jawa Tengah bagian selatan—yang kaya akan peninggalan megah seperti candi dan prasasti—arkeolog W.F. Stutterheim justru mengalihkan pandangannya ke bagian utara.
Bagi Stutterheim, banyaknya candi di wilayah selatan justru menandakan kawasan tersebut sebagai realm of the dead (alam tempat tinggal para arwah/wilayah keagamaan). Sebaliknya, kawasan utara yang sepintas terlihat miskin peninggalan arkeologis dan tampak seperti wilayah tak berpenghuni justru menyimpan petunjuk lain.
Stutterheim menduga bahwa ibu kota Mataram Kuno berada di Grobogan. Dugaan ini didasarkan pada survei persebaran dan kepadatan pecahan keramik yang dilakukan oleh E.W. van Orsoy de Flines pada dekade 1940-an—suatu temuan melimpah yang bahkan tidak dijumpai di kawasan Prambanan maupun Sorogedug. Hipotesis ini kian diperkuat oleh tradisi tutur tentang Aji Saka dan Kerajaan Medang Kamulan yang hidup sebagai memori kolektif masyarakat setempat secara turun-temurun. Selain keberadaan toponim seperti “Medang Ramesan”, pada tahun 2015 juga ditemukan struktur purbakala di Kecamatan Gabus yang dikenal warga sebagai Situs Medang Kamulan.
Jika mengacu pada hierarki sumber sejarah, mitos atau legenda Medang Kamulan ini sejatinya berada di peringkat keenam (sumber lisan/tradisi kemudian). Meski demikian, fakta bahwa di Grobogan kerap ditemukan arca-arca bercorak Hindu-Buddha menunjukkan hadirnya sumber sejarah peringkat kedua (peninggalan arkeologis). Perpaduan antara sumber arkeologis dan tradisi lisan ini memberi ruang bagi para ahli untuk meneliti dinamika sejarah kawasan tersebut secara lebih kompleks.
Pengaruh peradaban klasik di wilayah ini juga tecermin dari keberadaan Candi Joglo (Candi Joglo Semar). Dalam buku Grobogan dalam Sejarah dan Heritage (2021) karya Endah Sri Hartatik dan Wasino, Candi Joglo Semar dijelaskan sebagai bentuk ikhtiar kultural untuk menghadirkan kembali memori bangunan candi pada masa Kerajaan Medang Kamulan. Meski begitu, pandangan Stutterheim mengenai Grobogan sebagai ibu kota tetap bertentangan dengan pendapat sejarawan terkemuka lain seperti N.J. Krom dan Poerbatjaraka yang meyakini pusat kerajaan berada di Jawa Tengah bagian selatan.
Dugaan Stutterheim, tradisi tutur Medang Kamulan, hingga keberadaan nama tempat “Medang” sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan hangat (debatable) karena belum adanya bukti tertulis yang mutlak. Terlebih, sejarah mencatat bahwa ibu kota Mataram Kuno memang berpindah-pindah. Hingga kini, belum ada penelitian komprehensif lanjutan yang membenarkan hipotesis tersebut secara utuh. Kita hanya bisa memahami dugaan-dugaan populer yang berkembang berdasarkan bertautnya temuan arkeologis di lapangan dan cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kendati bukti konkret mengenai status Grobogan sebagai pusat pemerintahan Mataram Kuno belum terkonfirmasi penuh, keberadaan ragam artefak dan tradisi lisan menegaskan satu hal penting: Grobogan bukanlah wilayah kemarin sore. Lebih dari sekadar kondisi geografisnya hari ini, Grobogan adalah tanah di mana jejak peradaban luhur Nusantara pernah dipahat. Tugas kita sekarang adalah menjaga dan merawat warisan sejarah tersebut sebagai refleksi kebanggaan bagi Indonesia masa kini dan masa depan.
*Artikel ini pernah dimuat dalam buku antologi “Pesona Budaya Grobogan: Tokoh, Asal-usul, Tradisi, Kuliner, dan Pariwisata” yang diterbitkan CV. Hanum Publisher bekerja sama Dinarpusda Grobogan pada tahun 2025 dengan judul “Grobogan dalam Bingkai Mataram Kuno” dan telah melalui proses penyuntingan baru.














