apijiwa.id – Meskipun tidak secara eksklusif berasal dari Grobogan, sale pisang telah lama identik sebagai buah tangan khas kota Purwodadi. Kudapan ini dibuat dengan cara mengiris pisang secara tipis lalu menjemurnya untuk menekan kadar air agar lebih awet.
Di pasaran, terdapat dua varian utama: sale pisang basah yang hanya melalui proses pengeringan matahari, serta sale pisang kering yang digoreng setelah dijemur. Dengan cita rasa manis dan tekstur kenyal, makanan ini menjadi favorit berbagai lapisan masyarakat, mulai dari rakyat jelata hingga kalangan pejabat.
Di Kabupaten Grobogan, Sale Pisang Goreng Purwodadi muncul sebagai salah satu produsen yang mencatatkan keberhasilan signifikan. Bisnis yang dibangun Bambang Waluyo (51) ini telah berhasil menembus pasar luas, dengan jangkauan distribusi yang kini mencakup setidaknya seluruh wilayah Jawa Tengah.
Menyambut Peluang
Perjalanan bisnis Bambang Waluyo, atau yang akrab disapa Mas Bambang, dimulai pada tahun 2003. Sebelum sukses dengan sale pisang, pria kelahiran Grobogan, 30 Juni 1975 ini sempat melakoni berbagai pekerjaan serabutan, mulai dari asisten sound system hingga tukang ojek.
Inspirasi untuk memulai usaha ini muncul setelah ia melihat keberhasilan tetangganya dan menyadari melimpahnya ketersediaan pisang uter (pisang tonto) di daerahnya. Bagi Bambang, potensi bahan baku tersebut adalah peluang emas yang harus segera diambil.
Dengan tekad bulat, Bambang mulai merintis usaha sale pisang goreng meski terbentur keterbatasan modal. Di masa awal, ia harus memutar otak dan memproduksi dalam jumlah kecil secara mandiri. Mulai dari belanja bahan, mengolah, menjemur, hingga mengemas dan mengantarkannya ke toko-toko tradisional dengan sepeda motor, semuanya ia kerjakan sendiri.
Seringkali ia harus lembur hingga larut malam demi memastikan dagangannya siap dipasarkan esok pagi. Bahkan, ia tetap mengojek untuk menutupi biaya operasional dan modal membeli pisang. Kegigihan dan kesabaran itulah yang akhirnya membawa usahanya terus berkembang pesat.
Masuk ke Outlet Modern

Seiring dengan bisnisnya yang kian maju, Bambang memutuskan untuk mencurahkan seluruh energinya pada usaha tersebut. Sejak tahun 2007, ia berhenti menarik ojek dan fokus sepenuhnya pada pengembangan produk.
Langkah besar pun diambil dengan mulai merekrut karyawan dan merambah pasar ritel modern. Tak hanya fokus pada internal, Bambang juga aktif dalam Asosiasi UMKM Kabupaten Grobogan di bawah binaan Dinas Koperasi dan UKM. Melalui wadah ini, ia memperluas jejaring dan memperkaya wawasannya melalui interaksi dengan sesama pelaku usaha.
Meskipun hanya berbekal ijazah SLTP, semangat kewirausahaan Bambang Waluyo berhasil membawa produknya ke level yang lebih tinggi. Kegigihannya membuahkan hasil manis pada tahun 2010-an ketika produknya berhasil menembus pasar ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret.
Capaian ini sangat membanggakan, di mana sale pisangnya tersedia di hampir 750 gerai Alfamart di seluruh Jawa Tengah, sementara untuk Indomaret mencakup wilayah Kabupaten Grobogan.
Keberhasilan ini mendorong Bambang untuk terus berinovasi. Ia mulai menciptakan varian baru seperti sale pisang gulung dan sale pisang kipas demi mengikuti selera pasar yang lebih luas.
Pernah Down
Membangun bisnis memang tak pernah lepas dari pasang surut. Di masa awal, Bambang seringkali merasa terpuruk, terutama saat menghadapi banyaknya produk yang dikembalikan (retur) oleh toko-toko mitra. Namun, ia selalu berhasil bangkit dengan menyadari bahwa keberhasilan sejati menuntut proses panjang, kerja keras, serta kesabaran ekstra.
Ia memahami bahwa kesuksesan tidak datang secara instan dan seringkali mengharuskan seseorang untuk jatuh bangun berkali-kali sebelum akhirnya mencapai puncak.
Masukan positif dan testimoni dari pelanggan menjadi bahan bakar semangat bagi Bambang. Hal tersebut memacunya untuk menghasilkan sale pisang berkualitas tinggi sesuai ekspektasi pasar. Ia berkomitmen menciptakan produk yang tidak hanya higienis, tetapi juga unggul dalam rasa dan estetika kemasan.
Prinsip kualitas ini sebenarnya sudah menjadi keresahannya sejak awal. Ia melihat usaha serupa milik tetangganya kurang memperhatikan detail, seperti penggunaan minyak goreng curah berkualitas rendah dan pengemasan yang seadanya. Kondisi itulah yang justru melecut Bambang untuk membangun bisnis yang mengedepankan kualitas serta kredibilitas produk.
Melimpahnya bahan baku pisang uter di wilayah Kabupaten Grobogan memberikan keuntungan biaya produksi yang kompetitif bagi usaha Bambang. Inisiatif pengolahan ini menjadi solusi untuk meningkatkan nilai tambah (added value) komoditas lokal tersebut.
Seiring dengan pertumbuhan kemitraan bersama gerai-gerai modern, volume produksi sale pisang terus meningkat secara konsisten. Pertumbuhan bisnis ini juga memberikan kontribusi sosial yang nyata, di mana pada tahun 2018, ia telah mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 16 orang.
Membuka Toko Oleh-oleh
Seiring dengan kapasitas produksi yang terus melonjak, Bambang merasa tertantang untuk memperluas strategi pemasarannya di luar jaringan ritel mitra. Langkah besar diambil pada Desember 2016 dengan meresmikan gerai mandiri bernama Toko Oleh-oleh Sale Pisang Goreng Khas Purwodadi Mas Bambang.
Toko ini berlokasi strategis di Jalan Solo–Purwodadi No. 61, Depok Utara, Toroh, Kabupaten Grobogan. Menariknya, letak toko ini masih berada di wilayah yang sama dengan pusat produksinya yang berlokasi di Dusun Sendangsari, Desa Tambirejo.
Kini, toko tersebut telah bertransformasi menjadi pilar utama pemasaran sale pisangnya, bersanding dengan distribusi ke ritel modern. Tak hanya menjual produk sendiri, gerai ini juga menjadi wadah bagi produk UMKM lokal lainnya untuk berkembang bersama.
Menatap masa depan, Bambang memiliki impian besar untuk mengekspansi jangkauan pasarnya hingga ke seluruh penjuru Indonesia dan merambah pasar mancanegara. Ia berharap kelezatan sale pisang khas Purwodadi ini bisa dikenal luas, baik di level nasional maupun internasional.












