Advertisement

apijiwa.id – Membincang serundeng tak bisa dilepaskan dari kelapa sebagai bahan utamanya. Camilan lezat ini diolah dengan teknik sangrai tanpa minyak bersama racikan bumbu pilihan untuk menciptakan cita rasa yang khas. Berawal dari tangan dingin Tini Gustini, lahirlah merek Kalapa Indung pada tahun 2011, sebuah produk serundeng kemasan yang kini telah populer di berbagai kalangan.

Reggy Adi Pratama, putra sulung sekaligus Co-Founder Kalapa Indung, mengungkapkan bahwa bisnis keluarga ini mulai berkembang pesat sejak tahun 2013. Keaslian rasa serundeng mereka tetap terjaga karena menggunakan resep warisan dari sang buyut yang berasal dari Pananjung, Pangandaran—sebuah wilayah di Jawa Barat yang memang terkenal sebagai daerah penghasil kelapa yang melimpah.

Misi Melestarikan Tradisi

Saat ditemui apijiwa.id di ajang Bandung International Food And Horeca Expo 2026 di Sudirman Grand Room, Bandung, Reggy mengungkapkan alasan di balik keputusan ibunya mengembangkan produk serundeng. Menurutnya, ada misi besar untuk memperkenalkan kuliner tradisional Jawa Barat yang sehat kepada masyarakat luas sekaligus menjaga agar makanan warisan tersebut tetap lestari.

Pada awalnya, serundeng ini hanya dipasarkan secara terbatas dalam kemasan kecil kepada kerabat dan teman dekat sang ibu. Meski Reggy tidak ingat persis jumlahnya, ia mengenang bahwa produksi saat itu masih sangat minim karena keterbatasan modal.

Titik balik terjadi pada tahun 2015, ketika Reggy yang masih berstatus mahasiswa UNPAD sekaligus bagian dari Tim Manajemen Inkubator Bisnis, mulai membantu pemasaran dan mendapatkan pelatihan intensif untuk mengembangkan skala bisnis mereka.

“Sementara untuk pembuatannya dilakukan di Pangandaran, Banjar, dan juga Bandung. Jika dalam jumlah banyak, maka pembuatan lebih terfokus di kampung halaman,” ungkap Reggy yang juga mantan jurnalis radio ini.

Menembus Pasar Australia

Capaian membanggakan diraih oleh serundeng ini karena telah menembus pasar Australia sejak 2019 berkat minat investor asing terhadap kuliner tradisional yang sehat. Selain sukses di mancanegara, pemasarannya kini telah meluas dari Bandung hingga ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bali.

Salah satu produk serundeng kemasan ukuran 150 gram produksi Kalapa Indung. (Deffy Ruspiyandy)

Bagi konsumen yang ingin mencicipinya, produk ini tersedia di Sekolah Perempuan di Jl. PHH. Mustofa No. 22, Kota Bandung; Pasar Modern Batununggal; serta berbagai pusat oleh-oleh di Kota Bandung dan Jakarta. Selain itu, pemesanan daring juga sangat mudah melalui Tokopedia (Kalapa Indung Official) atau Instagram di akun @kalapaindung dan @reggyap.

Keunggulan utama serundeng ini terletak pada proses pembuatannya yang sehat, yakni melalui teknik sangrai tanpa menggunakan bahan pengawet. Meski alami, produk ini memiliki daya tahan yang luar biasa hingga satu tahun.

Kalapa Indung menyasar segmen wanita karier dan lansia sebagai konsumen utama, namun juga menjadi solusi bagi anak-anak yang sulit makan. Selain sebagai camilan atau teman setia nasi hangat, serundeng ini sangat fleksibel untuk dinikmati bersama ayam goreng hingga isian roti.

“Karena teksturnya yang kasar dan kering, maka bisa langsung dinikmati pula,” ujar pria yang lahir di Bandung, 12 Agustus 1990.

Mengenai harga jual, Reggy yang penggemar mi ayam ini mematok harga Rp40.000 untuk kemasan 150 gram dan Rp15.000 untuk ukuran 70 gram. Tersedia juga opsi pembelian curah per kilogram seharga Rp150.000.

Terkait performa bisnis, Reggy mengakui adanya tantangan berat pasca-penerapan new normal di pasar domestik. Omzet yang semula mencapai Rp20 juta per bulan mengalami penurunan drastis hingga hampir 70%, dengan margin keuntungan bersih sekitar 30% dari harga jual.

Reggy optimis bahwa potensi bisnis olahan kelapa masih sangat terbuka lebar, asalkan pelaku usaha mau terbuka terhadap pelatihan dan pendampingan. Ia merasa sangat terbantu oleh dukungan Disperindag Jawa Barat yang memfasilitasi keikutsertaan mereka dalam pameran besar secara gratis.

Meski mengakui ketatnya persaingan di pasar serundeng, Reggy yakin produknya unggul karena menggunakan standar pengolahan yang baik serta bahan baku pilihan, seperti kelapa terbaik serta gula dan bumbu kualitas premium.

Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

Model bisnis Kalapa Indung mengusung pola manufaktur berbasis pemberdayaan masyarakat. Dalam sistem ini, warga sekitar dapat menjadi mitra produksi dengan syarat mengikuti standar operasional (SOP) yang ketat untuk menjaga kualitas.

Reggy menerapkan kebijakan untuk langsung menyerap hasil produksi mitra setiap kali mencapai kuota 5 hingga 10 kg. Ia pun merasa sangat bersyukur karena model kerja sama ini mampu menghasilkan produk yang diterima dengan baik oleh pasar.

“Tahun 2026 ini saya berencana melakukan pengembangan ke Pasar Eropa yang ternyata belum bisa tembus ke sana karena terkendala regulasi yang begitu ketat. Namun, untuk pasaran nasional, coba kita genjot lagi,” kata putra pasangan Akustiawan dan Tini Gustini ini.

Reggy menjelaskan bahwa serundeng Kalapa Indung hadir dalam dua varian rasa, yaitu original dan pedas. Pemilihan nama Kalapa Indung sendiri memiliki makna filosofis yang dalam; diambil dari bahasa Sunda, “Indung” berarti ibu.

Karena produk ini berbahan dasar kelapa dan lahir dari tangan dingin seorang ibu, nama tersebut dianggap paling mewakili jati diri produknya. Saat ini, kapasitas produksi Kalapa Indung telah mencapai 50 hingga 100 kg setiap bulannya.

“Saya berharap Pemerintah bisa membantu UMKM dengan mempermudah segala regulasi yang ada serta legalitasnya agar UMKM di Indonesia semakin maju,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.