apijiwa.id – Sepeninggal ayahnya pada tahun 2021, Hazzeri (33) memantapkan diri untuk meneruskan estafet bisnis keluarga bernama “Makmur Jaya”. Usaha penjualan daging yang berlokasi di Pasar Modern Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi ini merupakan warisan sang ayah, almarhum Hasan Munadi, yang sudah eksis sejak Hazzeri lahir. Meski mengakui bahwa ia hanya melanjutkan usaha yang sudah mapan, kegigihan Hazzeri menjadi kunci dalam menjaga reputasi sang ayah yang dikenal sebagai jagal sapi ternama.
Lini bisnis yang dikelola Hazzeri berfokus pada komoditas daging, mulai dari sapi, kambing, kerbau, hingga ayam. Pasca penutupan lapak di pasar akibat kendala pengelolaan, Hazzeri mengambil langkah strategis dengan membuka toko di area rumahnya. Tidak hanya memindahkan lokasi, ia juga melakukan diversifikasi produk dengan menyediakan makanan olahan seperti sosis, nugget, cilok, hingga es krim durian.
“Semua barang itu cuma pendamping saja, karena jualan utamanya memang daging,” ujar perempuan kelahiran Sulawesi Selatan tersebut menekankan prioritas bisnisnya.
Keputusan Hazzeri membuka toko di rumah didasari keinginan untuk lebih fokus tanpa harus bolak-balik ke pasar, apalagi sebagian besar pedagang daging di pasar tersebut masih kerabatnya sendiri. Meski lokasi berpindah, pelanggan setia mendiang ayahnya tetap memilih belanja kepadanya.
Dalam operasionalnya, Hazzeri berbagi tugas dengan suaminya, Devi Munandar atau yang akrab disapa Kang Dion, yang bertanggung jawab penuh dalam pengadaan ternak. Sebagai perempuan, Hazzeri memilih fokus pada sisi penjualan. Guna menjaga stabilitas finansial, ia juga mendiversifikasi penghasilannya melalui bisnis jual beli emas dan jasa laundry sebagai cadangan jika salah satu unit usahanya sedang sepi.
Toko milik Hazzeri difokuskan untuk melayani kebutuhan daging konsumen di sekitar lokasi secara langsung. Untuk memperluas jangkauan, ia menyediakan layanan antar menggunakan jasa kurir bagi pelanggan dalam radius 1-2 km. Sementara untuk menjangkau konsumen yang lebih jauh, Hazzeri membentuk jaringan reseller di berbagai titik yang bertugas memenuhi pesanan di wilayah masing-masing.
Menariknya, Hazzeri tidak memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan dagangannya. Ia menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk dukungan nyata bagi para reseller-nya. “Saya sengaja tidak main Facebook atau TikTok supaya mereka bisa jualan dengan maksimal tanpa merasa tersaingi oleh toko pusat,” ungkapnya.
Baginya, menjaga kepercayaan dan kelancaran bisnis para mitra jauh lebih penting daripada ambisi pribadi di dunia digital.
Keberhasilan Hazzeri mengelola warisan ayahnya terbukti dari angka penjualan yang fantastis, yakni menembus lebih dari Rp500 juta setiap bulannya. Dari total omzet tersebut, ia mampu mengantongi laba sekitar Rp100 juta. Menurutnya, hasil ini tergolong memuaskan, apalagi usahanya kini sudah merambah ke sektor penyuplai dengan menjadi penyedia daging ayam bagi lima SPPG di daerah setempat.
Menurut Hazzeri, puncak penjualan daging selalu terjadi di momen Ramadan dan Lebaran. Meski begitu, ia mengamati adanya pergeseran minat masyarakat ke daging ayam yang harganya lebih terjangkau. Khusus untuk musim Ramadan ini, ia memasok daging sapi dengan perbandingan 80% impor dan 20% lokal, di mana seluruh pasokan impor tersebut didatangkan langsung dari distributor besar di Jakarta.
Dalam memenuhi stok dagangannya, Hazzeri mengandalkan suaminya untuk menyuplai sapi lokal dari peternak di wilayah Sukabumi dan Palabuhanratu. Sementara itu, pasokan daging ayam didatangkan dari area Sukabumi hingga Bogor.
Selain daging segar, tokonya juga menyediakan bahan baku khusus untuk pembuatan bakso. Mengingat profil pelanggannya yang sangat beragam—mulai dari rumah tangga, rumah makan, hingga produsen bakso skala industri—perempuan kelahiran Ujung Pandang, 2 Agustus 1993 ini berkomitmen untuk selalu menjaga ketersediaan stok setiap harinya.
Hazzeri, yang secara pribadi sangat menyukai hidangan gepuk, membeberkan skala usahanya yang cukup besar. Dalam sehari, ia mampu memasarkan hingga 1 kuintal daging sapi, sedangkan untuk daging ayam, penjualannya bisa menembus angka 1 ton hanya dalam waktu tiga hari saja.
Meskipun stok daging kambing dan kerbau tetap tersedia, jumlahnya tidak sebanyak dua komoditas utama tersebut. Toko fisiknya kini dapat dikunjungi di Kampung Cempaka Putih, RT 05/011, Desa Palabuhanratu, Sukabumi.
Bagi Hazzeri, memberikan pelayanan prima kepada konsumen adalah prioritas utama dalam menjalankan bisnisnya. Ketangguhannya sebagai pengusaha saat ini tidak lepas dari didikan keras sang ayah yang sangat ia kagumi. Ia bertekad menjaga kualitas pengelolaan tokonya sebagai wujud bakti atas bimbingan almarhum selama ini.
Dalam operasional harian, Hazzeri dibantu oleh empat karyawan tetap yang menerima gaji bulanan serta upah lembur saat menangani pengiriman daging di malam hari. Namun, menjelang momen puncak seperti Ramadan dan Lebaran, ia memperdayakan hingga 20 tenaga bantuan yang berasal dari kerabat dan tetangga sekitar dengan sistem pembayaran sesuai jasa (freelance). Ibu empat anak ini merasa bangga atas pencapaian bisnisnya yang kini mampu membuka lapangan kerja bagi lingkungan sekitarnya.
Pada tahun 2026 ini, Hazzeri menyimpan keinginan melebarkan sayap usahanya melalui pembukaan toko baru. Selain menjaga keberlangsungan bisnis yang sudah ada, ia berharap penambahan cabang ini dapat menarik minat lebih banyak konsumen untuk mempercayakan kebutuhan daging mereka di gerainya.
“Berbicara usaha, tentunya harus selalu memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen. Itu yang selalu saya tekankan agar konsumen merasa puas dan akhirnya akan repeat order,” pungkasnya.












