apijiwa.id – Sosok Nyai Roro Kidul, atau yang lebih dikenal sebagai Ratu Pantai Selatan, merupakan figur mitologis yang sangat melekat dalam benak masyarakat pesisir selatan Jawa. Ia diyakini memiliki otoritas penuh atas dinamika alam samudra, termasuk kendali terhadap badai dan keselamatan para pelaut. Keberlangsungan legenda ini terjaga melalui berbagai medium, mulai dari narasi lisan hingga aturan adat yang spesifik, seperti pantangan penggunaan busana berwarna hijau saat berada di area pantai tersebut.
Legenda ini sebenarnya lebih dari sekadar cerita mistis; ia adalah cermin bagaimana masyarakat memandang laut yang penuh risiko. Sangat menarik untuk melihat kisah Ratu Pantai Selatan sebagai bentuk kearifan lokal. Di balik cerita tersebut, mungkin saja terdapat pesan tersembunyi yang mengajarkan masyarakat untuk selalu waspada dan paham cara menghadapi ancaman bencana alam di pesisir.
Asal-usul legenda Ratu Pantai Selatan dalam cerita rakyat memang sulit dipastikan waktu mulainya. Meski begitu, narasi ini mendapatkan legitimasi kuat pada akhir abad ke-16 berkat pengaruh Kesultanan Mataram Islam. Mitos sang penguasa laut ini berkelindan erat dengan sejarah berdirinya kerajaan tersebut, terutama melalui kisah ikonik mengenai hubungan istimewa antara Danang Sutawijaya dan Ratu Kidul.
Berdasarkan kajian Sri Ratna Saktimulya terjadap Naskah-Naskah Skriptorium Pakualaman periode Paku Alam II (2016), narasi ini bermula dari upaya tirakat Sutawijaya di pesisir selatan. Perjalanan spiritual tersebut dilakukan dengan menyusuri Sungai Opak hingga mencapai samudra, di mana Sutawijaya kemudian bertemu dengan Ratu Kidul.
Pertemuan ini membuahkan kesepakatan batiniah, di mana sang penguasa laut berjanji untuk selalu menyokong Sutawijaya. Peristiwa legendaris inilah yang menjadi fondasi meluasnya mitos Ratu Pantai Selatan dalam kebudayaan Jawa hingga saat ini.
Narasi Ratu Pantai Selatan merupakan bagian dari tradisi lisan dan babad yang memiliki keterkaitan erat dengan legenda Kyai Sapu Jagad, sang penjaga Gunung Merapi. Sinergi mitologis ini mewujud dalam tradisi yang masih lestari hingga kini di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, seperti upacara adat labuhan. Secara ekologis, warisan budaya tersebut menegaskan posisi simbolis keraton yang berdiri kokoh di poros antara samudra dan gunung.
Narasi mengenai Ratu Kidul dan Kyai Sapu Jagad secara tidak langsung memberikan kontribusi pada pengembangan disiplin ilmu geologi. Berbagai kajian ilmiah telah meneliti korelasi antara pesisir selatan dengan aktivitas vulkanik Gunung Merapi, yang membuktikan adanya keterkaitan antara pergerakan lempeng tektonik di samudra dengan dinamika gunung berapi tersebut.
Selain itu, penggambaran fenomena alam dalam cerita rakyat—seperti ombak raksasa yang menyapu daratan saat kehadiran sang Ratu—kini diinterpretasikan sebagai inspirasi penting dalam strategi mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

Aprillia Findayani, Nanda Julian Utama, dan Khoirul Anwar dalam Kearifan Kearifan Lokal dan Mitigasi Bencana Masyarakat Pantai Selatan Kabupaten Cilacap– Journal of Indonesian History (2020) menjelaskan bahwa narasi Nyi Roro Kidul bagi masyarakat pesisir Cilacap berfungsi sebagai simbol kewaspadaan terhadap ancaman tsunami. Kepercayaan ini secara praktis memicu tindakan mitigasi berbasis alam, seperti konservasi kawasan pantai melalui penanaman vegetasi pelindung seperti mangrove dan pohon nyampung guna mereduksi dampak gelombang ekstrem.
Upacara tahunan Sedekah Laut tidak hanya menjadi simbol rasa syukur dan doa keselamatan, tetapi juga merupakan instrumen penting untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Sistem kepercayaan ini telah terbukti efektif dalam mendukung program Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Meski demikian, efektivitas PRB tidak dapat bertumpu pada satu aspek saja; diperlukan integrasi yang berkelanjutan antara sains modern dan kearifan lokal. Hal ini menuntut adanya pendekatan interdisipliner serta komunikasi yang intens antara akademisi, otoritas pemerintah, dan warga setempat demi mewujudkan mitigasi bencana yang komprehensif dan berakar pada budaya.
Temuan ini didukung oleh penelitian Yanuar Bagas Arwansyah, Suyitno Suyitno, dan Retno Winarni (2025) dalam Herança – History, Heritage and Culture Journal, yang menggunakan analisis geomitologi untuk mengungkap nilai mitigasi bencana dalam kisah Nyai Roro Kidul. Studi tersebut menegaskan bahwa folklor ini melampaui fungsi budaya konvensional, karena berperan sebagai instrumen komunikasi edukatif dalam menyebarkan strategi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat luas.
Melalui kacamata geomitologi, mitos Nyai Roro Kidul dapat diinterpretasikan sebagai media penyampai peringatan dini terkait fenomena alam ekstrem, seperti banjir dan tsunami. Narasi ini tidak sekadar menjadi bagian dari sistem kepercayaan, namun juga berfungsi secara fungsional sebagai instrumen edukasi bagi masyarakat pesisir untuk membangun kesiapsiagaan dan pemahaman mengenai langkah-langkah darurat saat menghadapi bencana.
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa cerita rakyat bukan sekadar warisan tradisi, melainkan instrumen krusial dalam edukasi dan strategi mitigasi bencana. Oleh karena itu, integrasi nilai-nilai budaya lokal ke dalam kebijakan resmi mitigasi bencana sangat direkomendasikan. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat kesadaran serta kesiapsiagaan kolektif, sehingga terbentuk masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana alam.
Studi ini merekomendasikan agar strategi mitigasi bencana tidak hanya bertumpu pada pendekatan sains modern, tetapi juga mengintegrasikan kearifan lokal seperti cerita rakyat demi efektivitas yang lebih berkelanjutan. Walaupun narasi Nyai Roro Kidul diklasifikasikan sebagai legenda atau sumber sekunder dalam historiografi, keberadaannya berfungsi sebagai pengingat fundamental mengenai urgensi harmoni antara manusia dan alam.















