Advertisement

apijiwa.id – Didorong keinginan memperkuat ekonomi keluarga, Memen Rukmana memanfaatkan peluang bisnis camilan yang pasarnya sangat luas, seperti untuk kebutuhan hajatan dan buah tangan. Ia memilih jenis produk ini karena proses pemasarannya cenderung mudah dan memiliki potensi keuntungan yang menjanjikan bagi usaha skala rumah tangga.

“Saya ingin membantu perekonomian keluarga dengan usaha rumahan yang bisa berkembang, sehingga mampu mendapatkan keuntungan,” jelasnya memulai obrolan dengan apijiwa.id dalam sebuah kesempatan.

Bisnis yang diberi nama “Keripik Baladewa 45” ini didirikan Memen pada tahun 2015. Penamaan tersebut terinspirasi dari nomor rumah kediamannya. Lini produk yang ditawarkan meliputi keripik pangsit dengan berbagai varian rasa (original, pedas, balado), stik keju dan bawang, serta tempe sagu original.

Pria yang mengidolakan Bob Sadino ini mengawali usahanya dengan modal satu juta rupiah dari tabungan dan pinjaman keluarga untuk pengadaan bahan baku serta peralatan produksi.

Dalam menjalankan bisnisnya, Memen mampu meraup omzet rata-rata Rp3.000.000 per bulan dengan laba bersih sekitar Rp2.000.000, tergantung fluktuasi pesanan. Jangkauan pasarnya mencakup wilayah Bandung hingga ke luar kota melalui bantuan reseller dan pemanfaatan marketplace.

Produknya pun telah masuk ke berbagai segmen, mulai dari warung kelontong hingga konsumsi rapat kantor. Untuk harga, ia mematok mulai dari Rp7.000 untuk kemasan terkecil (100 gram) hingga Rp35.000 untuk kemasan 500 gram.

Memen sangat bersyukur karena bisnis yang ia rintis tidak hanya mampu memberikan penghasilan stabil bagi keluarganya, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Usaha ini telah menjadi sumber penghidupan bagi warga setempat dengan memberdayakan hingga empat orang tenaga kerja tetangganya.

“Ternyata dari bisnis saya juga mendapatkan banyak pengalaman yang berharga serta memiliki relasi bisnis yang begitu luas. Kenyataan ini yang membuat saya bersemangat menjalankan bisnis ini,” ujar ayah tiga orang anak ini.

Keripik pangsit, salah satu produk Keripik Baladewa 45. (Deffy Ruspiyandy)

Menjalankan bisnis tentu tidak lepas dari hambatan. Memen mengungkapkan bahwa ia seringkali dihadapkan pada fluktuasi harga bahan baku utama, seperti minyak goreng dan tepung. Selain harus bersaing ketat dengan produk-produk pabrikan berskala besar, ia juga terkendala faktor cuaca yang memengaruhi produksi tempe sagunya. Namun, Memen tetap optimis dengan mengedepankan kualitas rasa agar pelanggan tetap setia dan tidak berpaling ke produk pesaing.

“Di sinilah mental pengusaha itu diuji dan tentu saja saya pun mesti siap untuk menghadapi kenyataan itu,” ungkap suami dari Cucu ini.

Memen merasa percaya diri menghadapi persaingan pasar karena produknya memiliki keunggulan tersendiri. Ia menjamin bahwa camilannya diproduksi segar setiap hari tanpa menggunakan bahan pengawet. Selain rasa yang gurih dan tekstur yang renyah, harganya pun tetap ramah di kantong.

Bagi pria kelahiran Bandung, 29 September 1973 ini, menjaga kualitas merupakan bentuk ikhtiar agar usahanya terus tumbuh dan mendatangkan laba.

Di antara berbagai varian yang dibuatnya, keripik pangsit pedas dan stik keju menjadi produk yang paling digemari karena kelezatannya cocok untuk berbagai kalangan dan acara. Untuk menjangkau konsumen, Memen menerapkan strategi penjualan langsung di rumah produksi serta sistem titip jual di warung, kantin sekolah, hingga toko oleh-oleh.

Selain jalur konvensional, ia juga aktif memperluas pasar secara digital melalui media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram, serta memanfaatkan marketplace Shopee.

“Jika ada pesanan, saya akan memenuhinya dan pengiriman untuk luar kota biasa dikirimkan menggunakan jasa ekspedisi. Adapun jika dekat, cukup menggunakan jasa kurir lokal saja. Saya mengusahakan pengiriman itu tepat waktu agar bisa segera dinikmati oleh konsumen,” tegasnya.

Pria yang menggemari gorengan krispi dan bika ambon ini mengungkapkan bahwa pesanan produknya terus mengalir dari pelanggan setia, reseller, media sosial, hingga promosi mulut ke mulut. Dalam menjalankan roda produksinya, Memen dibantu oleh empat orang staf yang khusus menangani bagian pembuatan dan pengemasan. Sementara itu, urusan pemasaran digital ia kelola secara mandiri bersama anggota keluarganya.

Tahun 2026 menjadi momentum bagi Memen untuk membawa usahanya ke level yang lebih tinggi. Ia memproyeksikan pendapatan bulanan mencapai sepuluh juta rupiah dengan langkah-langkah inovatif, seperti meluncurkan rasa baru dan merambah pasar nasional.

Selain fokus pada kualitas produk dan kemasan yang kekinian, Memen juga berkomitmen mengurus izin resmi dan label halal. Strategi promosi pun diperkuat melalui konten media sosial yang menarik serta pemberian tester gratis bagi calon pelanggan baru.

Memen mengakhiri ceritanya dengan doa agar bisnisnya berjalan penuh berkah. Saat ini, pusat operasional dan produksi seluruh varian camilannya tetap berlokasi di Jalan Baladewa No. 45, Gg. 5 RT 02 RW 09, Kelurahan Pajajaran, Kota Bandung, tempat di mana awal mula inspirasi nama usahanya berasal.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.