Advertisement

apijiwa.id – Nasi liwet adalah salah satu makanan tradisional yang menjadi favorit banyak orang. Selain cita rasanya yang lezat, juga termasuk jenis kuliner yang melegenda. Kuliner khas Nusantara ini banyak dijumpai di sejumlah daerah, termasuk di Kota bandung.

Kini, tak mesti berkunjung ke restoran atau rumah makan untuk bisa menikmati paket nasi liwet komplet, karena ada yang melayani pesanan secara daring. Nasi Liboet atau Nasi Liwet Boenda Tuti adalah usaha bisnis nasi liwet di Kota Bandung yang melayani pesanan secara online.

Terobosan ini semakin memanjakan penikmat nasi liwet, karena tinggal pesan, bayar, kemudian menunggu di rumah, dan pesanan pun datang. Paket nasi liwet komplet bisa dinikmati bersama keluarga.

Eko Hendrawan (49), sang pemilik usaha, mengisahkan, saat itu ada celah pasar yang menarik dari produk masakan tradisional dan bisnis kuliner yang selalu menjadi incaran para pecinta kuliner. Ia merintis usaha kulinernya dari nol, dengan modal nekad alias the power of kepepet.

Sejujurnya, kisahnya, ia memulai bisnis ini tanpa modal. Bahkan, saat mendapatkan pesanan perdana dari konsumen, ia mengambil bahan masakan ke warung tetangga, dengan meminta penundaan pembayaran hingga pesanan dibayarkan pada siang harinya.

Alhamdulillah, bermodal kepercayaan itu, warung tetangga rela barang jualannya saya kasbon,” kenangnya.

Menurut pria kelahiran tahun 1976 ini, ia merintis usaha kulinernya dengan mengedepankan cita rasa masakan khas Sunda yang otentik dengan beragam menu yang nyentrik. Sejak menu nasi liwet Pedabendot (nasi liwet dengan toping petai, asin peda, dan cabe gendot), nasi liwet Petir Medan (nasi liwet dengan toping petai dan asin teri medan), dan nasi liwet Petjambrot (petai dengan toping asin jambal roti).

“Semua menu itu, diracik dengan resep bumbu warisan para leluhur, yang diwariskan secara turun temurun,” tegasnya.

Nasi Liboet, penuh daya tarik dan menggugah selera.

Ngabotram Liwet Tanpa Ribet

Masih menurut Eko, semua menu liwet itu disajikan langsung dalam kastrol dengan penyajian yang unik. Selain itu,  ia menjual konsep jualan yang berbeda, dengan tagline “Ngabotram Liwet Tanpa Ribet”.

Ngabotram sendiri adalah istilah yang merujuk pada tradisi makan bersama ala Sunda dengan cara lesehan, seringkali makanan ditaruh di atas daun pisang, lalu disantap bersama dengan tujuan mempererat silaturahmi.

Dengan tagline itu, konsumen bisa menikmati sajian langsung di rumah atau kantor, tanpa direpotkan dengan urusan cuci piring, dan lain-lain. “Ya, sebagai komplemen, kami menyiapkan atau meminjamkan segala hal kebutuhan ngabotram konsumen dari mulai centong, piring lidi, katrol/citel, dan lain-lain,” ungkap ayah dua orang anak ini.

Menurut mantan jurnalis ini, Nasi Liboet sudah dirintis sejak tahun 2012. Eko dan isterinya memilih jualan via online dengan mengandalkan jaringan relasi dan pemasaran dari mulut ke mulut. Pada tahun 2014-2016, ia pernah memiliki stan di lokasi wisata Floating Market KBB, hanya saja tak cukup menutupi biaya produksi. Sehingga, ia memutuskan kembali fokus berjualan secara online.

Di antara paket nasi liwet yang ditawarkan, menurut suami Tuti Asmara ini, yang menjadi favorit dan best seller adalah menu nasi liwet Petjambrot alias nasi liwet dengan taburan petai dan asin jambal roti, serta ayam bakar Kanaga (Kampung Naga).

Eko mengaku, ia adalah perintis bisnis kuliner online pertama di Bandung, hingga kemudian viral dan diduplikasi banyak pemain. Konsep sajian nasi liwetnya memang terbilang ekstrem. Eko cukup berani menyajikan petai sebagai toping jualan nasi liwet kala itu.

Makanya, ia berani mengklaim bahwa Nasi Liboet sebagai bisnis penjualan nasi liwet dengan toping petai pertama di Indonesia, bahkan di dunia. Belakangan, konsep ini kemudian ditiru para penjual nasi liwet sejenis yang mulai bermunculan.

“Inilah yang saya rasa sebagai pencapaian kita, di mana produk kami bisa jadi trend setter di bisnis kuliner nasi liwet,” ucapnya bangga.

Misi Menjaga Tradisi Lokal

Pria yang mengidolakan Nabi Muhammad Saw ini menyatakan, gempuran kuliner impor dari luar negeri menjadikan tantangan tersendiri. Persaingan pasar menjadi semakin kuat dan memungkinkan sajian kuliner tradisional akan tergerus dan terpinggirkan.

Makanan ala Korea, Jepang, dan Thailand, menjamur di mana-mana. Jika kita lalai atau apatis pada produk-produk lokal, konsumen akan lupa lalu meninggalkan.

“Ini yang menjadi semangat untuk terus bertumbuh. Tugas kita tak lagi sebatas jualan produk, tapi juga bagaimana mempertahankan eksistensi produk lokal di tengah gempuran kuliner asing,” tegas pria yang mengagumi ayah tercintanya.

Menurut Eko, untuk pemenuhan bahan, dirinya masih bergantung pada bahan-bahan lokal yang biasa dibeli di pasar-pasar tradisional. Jadi, bukan kendala besar. Begitu pun dengan cara memasaknya, menggunakan teknik lama yang biasa digunakan.

“Jika melihat peluang, bisnis makanan tradisional itu sungguh menjanjikan. Setiap hal berbau tradisional sangat potensial untuk menghasilkan cuan, apalagi sesuatu yang punya nilai tradisi lokal,” urai pria yang suka sekali dengan sambal reuceuh tomat hejo.

Untuk bisa mempertahankan produknya, Eko terus berusaha melakukan diversifikasi dan diferensiasi produk. Mulai dari toping yang ditawarkan, hingga menjual produk ayam bakar hingga sambal.

Bagi yang menyukai nasi liwet, bisa menghubungi Nasi Liboet melalui nomor WA 081322378739 atau kunjungi IG @nasiliboet. “Dengan sekuat tenaga, kami akan terus mempromosikan brand Nasi Liboet, termasuk lewat medsos. Kami juga terus melakukan engagement dengan konsumen langganan kita,” tegasnya.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.