Advertisement

apijiwa.id – Kolaborasi akademisi dan mahasiswa Program Studi Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bersama Universitas Bunda Mulia (UBM) Jakarta Utara sukses menciptakan terobosan baru dalam mendukung program gastrodiplomasi kuliner Indonesia di kancah internasional.

Melalui skema Hibah Pengabdian Masyarakat Luar Negeri (PKM-LN) UPI yang mengintegrasikan retail intelligence (kecerdasan ritel modern) sepanjang Maret hingga Juni 2026, tim ini berhasil mengoptimalkan performa penjualan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Kota Bandung. Produk-produk tersebut dipasarkan langsung di Bandung Food Centre, Al Sedari Street, Zone 90, Wakrah, Qatar, sebuah pusat kuliner yang dikelola oleh Sinta Tursini.

Tim kolaboratif lintas kepakaran ini dipimpin oleh Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., ACICT., ACAITAS. Ia beranggotakan Caria Ningsih, Ph.D.; Heri Puspito Diyah Setiyorini, Ph.D.; Dr. Gitasiswhara; Dr. Yudhiet Fajar Dewantara; Muhammad Akbar Gumilang, S.Par.; dan Savina Azzahra, S.Par. Program ini mengusung misi penting untuk menjembatani ketahanan produksi kuliner lokal dengan tata kelola ritel global di pasar Timur Tengah.

Dalam ekspose kegiatan pada Selasa (16/6/2026), Ketua Tim Dewi Turgarini menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata kontribusi akademisi dalam mendorong pemulihan dan pengembangan bisnis UMKM.

“Kami ingin membantu para pengusaha mikro, kecil, dan menengah agar mampu bersaing di pasar internasional. Caranya dengan mengedepankan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang baik, sehingga produk lokal kita memiliki daya saing tinggi dan dapat diterima dengan baik oleh pasar global,” ujar Dewi kepada apijiwa.id di ruang kerjanya.

Penyerahan Sertifikat oleh Ketua Tim PKM LN Dr. Dewi Turgarini kepada Owner Bandung Food Centre Al-Wakrah, Sinta Tursini, di Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Bandung, pada Senin (8/6/2026). (apijiwa.id/istimewa)

Dewi menjelaskan, gagasan ini berawal dari potensi masif kuliner Nusantara yang kontras dengan tantangan rantai pasok serta visualisasi produk UMKM Indonesia di mancanegara.

Hal ini terpotret dalam “Workshop Standarisasi Legalitas Ekspor UMKM Produk Kuliner Indonesia Menembus Pasar Negara Qatar”. Workshop tersebut digelar atas kerja sama dengan UMKM Kuliner, Pengusaha, Kepala Keluarga, dan komunitas Warung Cetaarr yang dipimpin oleh Tini Gustini di Kota Bandung, serta didukung oleh Sekolah Perempuan Jawa Barat.

“Kami melihat ada potensi luar biasa dari para produsen perempuan di Kota Bandung yang menguasai teknik gastronomi lokal secara otodidak. Namun, agar produk seperti cireng, basreng, batagor, dan camilan lainnya bisa bersaing dengan produk global di Qatar, diperlukan intervensi retail intelligence yang cerdas, terutama di area pajangan toko (visual merchandising),” ungkap Dewi saat pelaksanaan workshop.

Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan nyata yang dihadapi oleh komunitas UMKM seperti Warung Cetaarr, yakni ketatnya persaingan visual di rak-rak ritel modern luar negeri. Walaupun camilan tradisional Indonesia memiliki cita rasa yang tinggi, keberlanjutan pasokannya sangat bergantung pada dua hal: resiliensi produsen perempuan di sektor hulu, serta efektivitas manajemen pajangan ritel di Bandung Food Centre di sektor hilir yang menjadi jujukan diaspora di Qatar.

Kegiatan PKM-LN ini dilaksanakan secara hibrida (daring dan luring) melalui empat tahapan utama. Tahap pertama dimulai dengan persiapan oleh tim akademisi, meliputi koordinasi perizinan, pengumpulan data mentah penjualan berbasis Excel, dan dokumentasi video kondisi awal toko.

Pada tahap kedua, tim melakukan audit dan analisis data menggunakan software statistik ritel untuk menghasilkan matriks ABC serta draf planogram. Tahap ketiga dilanjutkan dengan validasi lapangan langsung di Al Wakrah, Qatar. Dalam kunjungan ke lokasi mitra ini, tim melakukan validasi data stok fisik, penataan ulang rak (re-layout), pemasangan shelf talkers, serta memberikan pelatihan manajerial kepada staf toko. Tahap terakhir adalah evaluasi melalui pemantauan omzet pasca-intervensi dan penyusunan laporan akhir.

Melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR), program pengabdian ini menerapkan metode Indonesian Retail Intelligence di Bandung Food Centre, Qatar, dengan tiga keunggulan taktis yang diterapkan secara simultan. Langkah pertama berfokus pada Analisis Gerak Cepat (ABC Analysis). Melalui metode ini, tim mengklasifikasikan produk-produk kategori fast-moving seperti keripik tempe dan basreng untuk mengoptimalkan ketersediaan stok pajangan, sekaligus menekan angka penumpukan barang mati (dead stock) di gudang.

Strategi kedua dilakukan melalui rekayasa Visual Merchandising atau penyusunan planogram baru. Penataan tata letak produk di dalam toko didesain ulang sepenuhnya menggunakan konsep Golden Display Position. Dengan metode ini, produk-produk unggulan asal Bandung ditempatkan sejajar dengan pandangan mata alami konsumen (eye-level) guna memicu daya pikat belanja spontan (impulse buying) saat pengunjung melintasi lorong toko.

Sebagai penyempurna di sektor edukasi lintas budaya, tim juga merancang inovasi Label Wicara (Shelf Talkers) dwibahasa. Media edukasi visual ini berbasis kode QR (barcode) dan menyajikan informasi produk dalam bahasa Inggris serta Arab. Penerapan shelf talkers ini dinilai efektif menghapus batasan informasi, sekaligus memperluas pasar dengan meningkatkan pemahaman konsumen non-diaspora—baik warga lokal Qatar maupun ekspatriat asing—terhadap keunikan ragam kuliner Nusantara.

Keberhasilan intervensi ini tidak hanya membawa dampak positif pada performa rak ritel di luar negeri, tetapi juga telah resmi diakui secara akademik. Hal ini dibuktikan dengan terbitnya Letter of Manuscript Acceptance (LoA) di jurnal nasional bereputasi Sinta 3, The Journal of Gastronomy Tourism, untuk volume Juni 2026.

Sinergi berkelanjutan antara pemberdayaan produsen perempuan di tingkat hulu (Bandung) dan implementasi teknologi kecerdasan ritel di tingkat hilir (Qatar) diharapkan dapat diadopsi secara luas. Langkah strategis ini diproyeksikan menjadi model diplomasi kuliner berkelanjutan (sustainable gastrodiplomacy) yang kokoh demi memajukan ekonomi kreatif nasional di panggung dunia.

Pada akhir kesempatan, Dewi berharap kontribusi dari timnya dapat memberikan gambaran nyata bahwa produk kuliner tradisional Indonesia memiliki daya saing yang sangat tinggi. Kuncinya terletak pada tata kelola yang baik, strategi pemasaran dengan konsep yang tepat, serta dukungan kolaborasi yang mampu memicu pertumbuhan bisnis di tingkat global.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.