Advertisement

apijiwa.id – Mi tek-tek boleh jadi nama generik bagi hidangan mi berkuah (ada juga yang versi goreng) yang dijajakan berkeliling dengan menggunakan gerobak dorong. Nama tek-tek konon berasal dari cara penjualnya yang membunyikan bunyi tek tek tek untuk mengundang pembeli.

Bunyi itu diperoleh dari potongan bambu (kentongan) yang diketuk berulang. Sehingga disematkanlah nama “Mi Tek-tek”.

Resep mi tek-tek sendiri sejauh ini sangat variatif, termasuk kelengkapan proteinnya. Ada yang memakai daging ayam, telur, atau bakso. Namun di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, ada kuliner mi tek-tek yang khas. Mi tek-tek itu berasal dari Dusun Nunjungan, Desa Ketitang, Kecamatan Godong.

Potret Mi Tek-tek Nunjungan

Mi tek-tek dari Dusun Nunjungan tergolong minimalis dari sisi bahan dan bumbu. Mi diolah dengan bumbu bawang putih, kemiri, dan mrica. Kuahnya menggunakan kaldu ayam, sehingga tone kuahnya sangat gurih.

Tak banyak kelengkapan bahan dalam seporsi mi tek-tek Nunjungan. Hanya ada potongan kubis dan taburan bawang goreng sebagai toping. Selebihnya, mi disantap dengan 5 tusuk sate ayam yang dibakar kembali dengan bubuhan kecap manis saat hendak disajikan.

Sebelum disajikan bersama mi tek-tek, sate ayam dibakar kembali dengan dibubuhi kecap manis.

Yang istimewa dari mi tek-tek Nunjungan adalah proses memasaknya yang hingga kini masih mempertahankan secara tradisional menggunakan anglo dan bara dari arang kayu. Sehingga cita rasanya lebih sedap aromatik.

Tidak hanya khas, mi tek-tek Nunjungan juga fenomenal karena sebagian besar warganya  merupakan pedagang mi tek-tek. Lokus berjualan mereka tidak hanya di Kecamatan Godong saja, namun sudah lintas kecamatan, bahkan lintas kota dan kabupaten seperti Pati, Kudus, Demak, dan Semarang.

Di Kecamatan Godong sendiri, ada banyak dijumpai pedagang mi tek-tek dari Dusun Nunjungan. Ada yang berjualan keliling, ada yang mangkal di suatu tempat.

Bila Anda sedang perjalanan Semarang – Purwodadi atau sebaliknya di malam hari, Anda bisa berburu mi tek-tek Nunjungan. Hampir di setiap sudut kota Godong terdapat penjual mi tek-tek, sejak lepas maghrib hingga tengah malam. Berikut ini tiga di antaranya.

1. Mi tek-tek Lik Kirno, Dijajakan Berkeliling Sejak 2009

Salah satu warga Dusun Nunjungan yang berprofesi sebagai pedagang mi tek-tek adalah Sukirno atau yang akrab disapa Lik Kirno. Dalam berjualan mi tek-tek, Lik Kirno lebih memilih berjualan berkeliling daripada mangkal.

Lik Kirno berjualan keliling mi tek-tek sejak tahun 2009. Sebelumnya, dia murni menggantungkan sumber ekonominya dari menggarap sawah. Karena sebagai petani banyak jeda waktu “menganggur”, tercetuslah ide menggunakan waktu malamnya berjualan mi tek-tek yang memang umum dijadikan sumber ekonomi warga Dusun Nunjungan.

Lik Kirno menjajakan mi tek-teknya setiap malam menggunakan gerobak dorong. Resep mi tek-teknya diperoleh dari mertuanya—yang dulu juga dikenal sebagai pedagang mi tek-tek.

Rute berjualan Lik Kirno sejak awal berjualan sampai sekarang tidak pernah berubah. Setiap malam Lik Kirno menjajakan mi tek-teknya di sepanjang Jalan Much Kurdi, Desa Bugel. Sampai di ujung jalan, lalu belok ke utara, menyusuri jalan pinggir kanal yang membelah Desa Bugel.

Setelahnya, sekira jam 22.00, Lik Kirno mangkal di pinggir jalan raya Purwodadi – Semarang, tepatnya di depan Bakso Dewa, sampai mi-nya habis.

2. Mi tek-tek Lik Ndan, Berjualan Mi Tek-tek Sejak 1992

Lik Ndan atau bernama lengkap Khamdan adalah warga Dusun Nunjungan yang juga menekuni profesi sebagai pedagang mi tek-tek. Namun Lik Ndan memilih mangkal di suatu tempat daripada berjualan secara berkeliling.

Setiap malam, mulai lepas magrib, Lik Ndan mangkal berjualan mi tek-tek di Jalan A. Yani, Desa Bugel, tepatnya berada di seberang sentra persalinan Puskemas Godong 1. Mi tek-tek Lik Ndan termasuk favorit karena banyak pelanggannya. Setiap malam, kedainya selalu ramai oleh pengunjung.

Lik Ndan sendiri mengaku telah berjualan mi tek-tek sejak tahun 1992. Dia mengikuti jejak ayah dan mertuanya yang juga dikenal sebagai pedagang mi tek-tek. Ayahnya bahkan pernah berjualan mi tek-tek di daerah Prawoto, Kabupaten Pati.

3. Mi Tek-tek Mbah Lapiyo, Melegenda Sejak Tahun 1975

Warga Dusun Nunjungan lainnya yang memilih profesi sebagai pedagang mi tek-tek adalah Mbah Lapiyo. Bahkan, boleh dibilang, Mbah Lapiyo termasuk generasi awal pedagang mi tek-tek dari Dusun Nunjungan, karena tercatat telah berjualan mi tek-tek sejak tahun 1975.

Saat ini, Mbah Lapiyo yang lahir tahun 1952, berjualan mi tek-tek secara mangkal di depan Bengkel Ahass Koko Motor, Jalan A Yani No. 99, Desa Bugel. Sebelumnya, Mbah Lapiyo telah malang melintang berjualan mi tek-tek di sejumlah tempat di luar daerah.

Tercatat, Mbah Lapiyo pernah berjualan mi tek-tek di Semarang. Setelah itu, di Purwodadi, lalu di Demak, dan kemudian pindah lagi di tempat mangkalnya yang sekarang. Jejak Mbah Lapiyo sebagai pedagang mi tek-tek diikuti oleh ketiga anaknya.

Selain ketiga mi tek-tek di atas, di kota Godong, termasuk Desa Bugel, banyak dijumpai pedagang mi tek-tek lainnya, yang bisa dipilih. Bila melintas jalan raya Purwodadi – Semarang atau sebaliknya di malam hari, silakan berburu mi tek-tek Nunjungan, salah satu kuliner khas Grobogan yang sederhana tapi lezat.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: M. A. Fathan

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.