Advertisement

apijiwa.id – Meskipun hujan membasahi Kota Bandung pada Jumat sore itu, antusiasme pengunjung menyambangi kedai “Mari Ngopi” di Jalan Sidomukti 95, Sukaluyu, Kecamatan Cibeunying Kaler, Cikutra, Kota Bandung, tetap tinggi. Tempat ini bukan sekadar destinasi bagi para pencinta kopi, tetapi juga menjadi ruang kuliner yang lengkap dengan pilihan kudapan ringan hingga makanan berat yang menggugah selera.

Suasana di dalam kedai terasa sangat menyejukkan dan jauh dari hiruk-pikuk kebisingan, menciptakan ruang yang nyaman bagi siapa saja. Hal ini terlihat dari momen hangat antara seorang ibu dan anaknya yang asyik berbincang sambil menyantap pesanan mereka. Atmosfer tenang ini memang sengaja dibangun agar memberikan dampak positif, baik bagi para pelanggan maupun staf yang bekerja di sana.

Perjalanan kedai ini dimulai dari rintisan di tahun 2020 hingga akhirnya resmi beroperasi penuh pada tahun 2022. Awalnya, menu yang ditawarkan cukup sederhana, yakni hanya kopi dan ramen. Namun, seiring berjalannya waktu dan inovasi yang terus dilakukan, pilihan menunya kian beragam, termasuk nasi kebuli yang kini menjadi hidangan primadona bagi para pengunjung.

Ide menghadirkan nasi kebuli ternyata bermula dari saran seorang rekan. Pemilik kedai Mari Ngopi, Didi Kurniadi Halim, mengungkapkan bahwa setelah mempertimbangkan saran tersebut dan berdiskusi dengan karyawannya, ia memutuskan untuk merilis menu itu. Tak disangka, hidangan tersebut justru menjadi favorit dan sangat diminati oleh para pelanggan.

Kedai Tenang dan Bebas Asap Rokok

Inspirasi berdirinya kedai ini bermula dari sebuah kegiatan kajian Ustaz Abu Haidar As-Sundawy, seorang pendakwah ternama di Bandung. Kala itu, salah satu jemaah menyampaikan aspirasinya mengenai kebutuhan akan tempat makan atau kafe yang memiliki lingkungan sehat—khususnya yang ramah terhadap anak-anak, tenang, dan terbebas dari polusi asap rokok.

Didi Kurniadi Halim, owner Kedai Mari Ngopi. (Deffy Ruspiyandy)

Didorong oleh keinginan untuk memberi manfaat, pasangan suami istri Didi dan Teti Melawati Hasanah mendirikan kedai ini sebagai jawaban atas harapan jemaah itu. Kini, kedainya telah berkembang pesat dan populer di berbagai kalangan, mulai dari rombongan keluarga hingga mahasiswa yang butuh suasana tenang untuk belajar.

Pilihan kuliner yang disajikan di kedai ini tergolong variatif. Para tamu dapat menikmati aneka camilan seperti gorengan khas (bala-bala, mendoan, rujak cireng), kentang goreng, sosis, roti bakar, hingga pilihan lebih modern seperti green salad dan spageti.

Untuk hidangan utama, tersedia menu mengenyangkan seperti nasi goreng dan nasi kebuli yang menjadi andalan. Sementara itu, opsi minumannya pun beragam, mulai dari kopi pilihan hingga berbagai jenis jus buah segar.

Dalam operasionalnya, Kedai Mari Ngopi didukung oleh tim yang terdiri dari sembilan personel, yaitu tujuh ikhwan (pria) dan dua akhwat (wanita). Didi, sang pemilik yang juga berprofesi sebagai konsultan bersama para akademisi ITB, menekankan pentingnya membangun atmosfer kekeluargaan di lingkungan kerja. Menurutnya, rasa kekeluargaan inilah yang memungkinkan seluruh staf bekerja dengan akrab dan harmonis dalam melayani pelanggan.

“(Di kedai ini) Kami menciptakan suasana kekeluargaan, sehingga saat bekerja, semua mampu menciptakan keakraban,” ujar Didi.

Prinsip religius menjadi landasan utama dalam operasional bisnis Didi. Ia mewajibkan seluruh karyawan pria untuk segera menunaikan salat berjemaah di masjid begitu azan berkumandang. Selama waktu salat tersebut, pelayanan kepada pelanggan dialihkan kepada staf wanita, meskipun pemrosesan pesanan baru akan dilanjutkan sepenuhnya setelah ibadah usai.

Mari Ngopi, pilihan destinasi ngopi dan kuliner bernuansa Islami di Bandung. (Deffy Ruspiyandy)

Selain itu, setiap hari Jumat, kedai ini rutin mengadakan kajian Islam yang mencakup pembahasan akidah, fikih, hingga perbaikan bacaan Al-Qur’an (tahsin talaqqi). Karena adanya kegiatan ini, operasional kedai pada hari Jumat baru dimulai pada pukul 13.00 WIB. Didi, yang merupakan alumnus Universitas Parahyangan dan ITB, juga secara khusus mendatangkan ustaz ke kedai untuk melatih para karyawannya agar memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik dan benar.

Failitas Memanah dan Buku

Selain menawarkan suasana yang tenang dan lingkungan yang bebas asap rokok, kedai ini juga menyediakan fasilitas olahraga memanah bagi para pengunjung. Standar keamanan menjadi prioritas utama di sini; oleh karena itu, setiap anak yang ingin mencoba area memanah wajib didampingi oleh instruktur profesional untuk menjamin keselamatan mereka.

Di samping itu, Kedai Mari Ngopi membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyewa tempat untuk berbagai acara. Namun, pihak pengelola sangat selektif dan hanya mengizinkan kegiatan-kegiatan yang bernilai positif. Mereka secara tegas tidak memfasilitasi kegiatan yang dinilai kurang pantas atau cenderung negatif, seperti acara yang diisi dengan aktivitas joget-joget.

“Kegiatan yang bisa dilaksanakan di kedai ini ya semacam kajian agama, seminar edukasi, atau kegiatan yang bermanfaat bagi umat,” tegasnya.

Daya tarik lain dari Kedai Mari Ngopi adalah ketersediaan koleksi buku bertema Islami yang bebas dibaca oleh para pengunjung. Didi mengamati bahwa antusiasme pengunjung cukup tinggi dalam memanfaatkan fasilitas literasi ini sembari mereka bersantai di kedai.

Tak hanya melalui buku, edukasi keagamaan juga disampaikan secara visual melalui pemutaran video ceramah dari kanal YouTube. Konten yang disajikan dipilih yang bersifat ringan dan aplikatif, dengan lebih dari 100 topik bahasan, seperti mengenai keutamaan sedekah hingga peringatan tentang bahaya berkhalwat. Tayangan ini diputar secara terus-menerus sepanjang jam operasional kedai, mulai dari buka hingga tutup.

Keberagaman Pengunjung

Meskipun Kedai Mari Ngopi kental dengan nuansa keislaman, tempat ini tetap terbuka bagi pengunjung nonmuslim. Kehadiran tayangan ceramah agama melalui layar monitor pun terbukti tidak mengganggu kenyamanan mereka, sehingga suasana harmonis tetap terjaga di tengah keberagaman pelanggan.

Hal ini sejalan dengan prinsip awal Didi yang ingin menjadikan kedainya sebagai tempat yang membawa manfaat bagi semua kalangan tanpa terkecuali. Bersama timnya, ia senantiasa berupaya menyajikan hidangan berkualitas tinggi yang dibarengi dengan pelayanan terbaik bagi setiap pengunjung yang datang.

“Selama ini, kami selalu berusaha tak merugikan pengunjung dan ingin mereka merasa puas serta bersyukur dengan makanan dan minuman yang mereka nikmati di kedai ini,” tegas Didi.

Didi memastikan bahwa sebagian dari keuntungan yang diperoleh kedai dialokasikan untuk donasi. Dana tersebut disalurkan melalui yayasan Islam yang memiliki kredibilitas tinggi guna menjamin bantuan sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa meskipun masih bersifat situasional, pihak kedai turut menyisihkan anggaran khusus untuk mendukung pembangunan masjid serta berbagai kegiatan sosial keagamaan lainnya.

“Hal itu kami lakukan agar usaha yang  kami jalankan selalu mendapatkan berkah dari Allah Swt,” ungkap ayah dua anak ini.

Memasuki tahun 2026, Didi yang saat ini berusia 43 tahun, memiliki target untuk mengekspansi bisnisnya dengan menambah dua cabang baru di wilayah Kota Bandung. Langkah ini diambil guna menjangkau pelanggan yang lebih luas, termasuk para wisatawan dari luar kota yang ingin merasakan atmosfer unik kedainya.

Menutup perbincangan, Didi memohon doa agar rencana pengembangan tersebut dapat terlaksana dengan lancar. Ia juga menitipkan pesan bagi sesama pengusaha kuliner untuk tetap optimis karena rezeki sudah diatur dan tidak akan tertukar. Baginya, kunci utama dalam berbisnis adalah terus berusaha dengan cara yang benar dan selalu memberikan manfaat bagi sesama.

“Doakan hal itu dapat terwujud dan (kami) berpesan kepada pengusaha kuliner untuk meyakini jika rezeki tak akan tertukar. Maka, lakukanlah usaha secara baik dan bermanfaat,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.