apijiwa.id – Dalam lawatan saya ke Surabaya pada Kamis (11/12/2025), pagi hari sebelum menuju kantor yang menjadi tujuan saya datang ke Surabaya, saya menyempatkan berziarah ke makam Sunan Ampel, salah satu anggota dewan dakwah Walisongo, yang makamnya berada di Desa Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya.
Setelah rangkaian ziarah makam Sunan Ampel usai, saya musti mengisi perut dulu. Rawon adalah hidangan yang melekat di ingatan saya saat itu. Maka, rawon menjadi satu-satunya target menu sarapan saya kali ini.
Saya jarang menjumpai menu rawon di daerah saya tinggal. Di daerah saya, rawon sering disamakan dengan nasi pindang, hidangan berkuah khas Kudus, karena sama-sama berkuah gelap. Padahal keduanya merupakan masakan yang berbeda. Kuah pindang ada santannya, sedang kuah rawon tidak, meski sama-sama memakai bumbu keluak.
Selain itu, rawon termasuk kuliner tradisional ikonis Jawa Timur yang istimewa. Rawon tidak hanya telah menasional, tapi juga sudah mendunia. Taste Atlas bahkan menobatkan rawon sebagai salah satu sup daging terenak di dunia pada tahun 2025.
Dari sisi historis, rawon termasuk kuliner yang telah melintas zaman sejak ratusan tahun lalu. Dalam naskah kuno Bhomakarya ditemukan kata rarrawan yang mirip dengan kata rawon. Daging dan keluak yang menjadi bahan dasar rawon sudah tersedia melimpah di tanah Jawa ketika itu.
Rawon Setan Embong Malang yang Legendaris
Perut yang lapar dan ingatan tentang rawon yang istimewa, menjadikan saya tergesa untuk segera menyantapnya.

Ada sejumlah depot rawon legendaris di Surabaya, tapi pilihan saya dan yang terlintas ketika itu adalah rawon setan yang berada di Jalan Embong Malang, Kota Surabaya. Sejauh penelusuran saya, rawon setan yang berada di Jalan Embong Malang ini adalah rawon dengan masa tempuh paling tua.
Depot rawon setan ini sudah berdiri sejak tahun 1950. Menurut Vina Tania dalam buku DJAKABAIA: Djalan-Djalan dan Makan-makan di Soerabaia (2008), dulu depot ini terkenal dengan nama rawon NIROM karena letaknya di depan pemancar NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij) yang sekarang berubah menjadi RRI (saat ini gedungnya sudah menjadi bangunan Hotel JW Marriot).
Dulu, saya pernah menyangka, disebut rawon setan karena cita rasa pedasnya yang menggelegar. Namun ternyata, rawon setan tidak berhubungan dengan cita rasa. Disebut rawon setan karena dulu depotnya buka malam hari, sedang malam hari identik dengan setan yang bergentayangan haha…
Sekarang sudah tidak buka malam hari. Menurut informasi dari petugas kasir, depot ini sekarang buka sejak pukul delapan pagi hingga pukul sebelas malam. Boleh dibilang, rawon memang menu all day yang bisa dinikmati sepanjang hari, baik sebagai menu sarapan, makan siang, hingga hidangan santap malam.
Saya sendiri tiba di Rawon Setan Embong Malang sekira pukul sembilan, diantar oleh abang becak motor (bentor) yang mangkal di depan gapura masuk makam Sunan Ampel. Begitu masuk, masih banyak meja kosong. Saya segera memilih meja dan pesan seporsi rawon setan.
Tak lama kemudian, seporsi rawon dan pelengkapnya, telah ada di hadapan saya. Secara visual, paket nasi rawon yang disediakan seperti tidak menarik. Kuah rawonnya hitam, begitu pun dagingnya juga hitam, sehingga yang nampak dalam mangkuk hanya kuah kehitaman. Dagingnya tak tampak menyembul.
Meski secara visual tak terlalu menggoda, tapi begitu menyeruput kuahnya, baru terasa cita rasanya yang nikmat. Dagingnya empuk dan lembut. Tak lupa, telur asin dan kerupuk udang menjadi penyempurna kenikmatan menyantap seporsi nasi rawon setan.
Setelahnya seporsi rawon tandas plus pelengkapnya, saya pun meluncur ke kantor yang berada di Jalan Jemur Andayani Surabaya, tempat yang menjadi tujuan kedatangan saya ke Surabaya.










