apijiwa.id – Di tegalan kecil di ujung Dusun Tanggulun, di tanah yang sudah kuakrabi sejak masa kecilku, aku kembali menancapkan harapan pada sebaris lubang-lubang kecil yang kutugal dengan tangan sendiri. Angin dari Gunung Payudan membawa bau tanah basah, dan matahari turun pelan seperti seorang tetua kampung yang tak lagi tergesa.
Di sinilah aku menanam jagung, tanaman sederhana yang kupilih sebagai jalan bertahan hidup, jalan menenangkan diri, juga jalan menaruh doa atas negeri yang terus-menerus didera ketidakadilan.
Aku tahu, musuhku bukan hanya musim yang tak menentu. Bukan pula tanah keras Madura yang membutuhkan sabar. Musuh terbesar adalah kawanan tikus yang kini jumlahnya serupa prajurit gelap di malam hari: rakus, tak kenal jemu, dan berkembang biak secepat koruptor yang menemukan celah anggaran.
Mereka bukan sekadar hewan kecil, mereka adalah jelmaan kerakusan yang kini merambah setiap sudut kehidupan, dari ladang hingga istana.
Tiga musim berturut-turut ladangku gagal panen. Jagung yang baru tumbuh tiga ruas sudah habis digrogoti. Jagung yang sudah mengeluarkan tongkol malah hilang separuh, seakan ada pencuri malam berwatak serakah menggigiti masa depan.
“Tikus sekarang makin pandai,” gumamku suatu sore. “Mereka mengerti mana yang paling kubutuhkan.”
Istriku, Laila, hanya tersenyum sambil meletakkan baskom air di dekatku. “Yang penting kamu tetap menanam, Mas. Rezeki itu seperti tunas, selalu mencari celah. Sekalipun tikus makan bijinya, pasti ada yang tersisa jika kita sabar.”
Aku menatap matanya. Mata yang sejak dulu menyimpan cahaya tegar. Setiap kali jagungku habis digrogoti, ia tak pernah menangis. Ia hanya mengusap hujung bajunya dan berkata: “Tanah tidak pernah jahat. Hanya manusianya.”
Dari kalimat itu saja, aku tahu, hatinya masih penuh harapan; ia percaya, suatu hari nanti, jagung terakhirku akan tumbuh subur, selamat dari serbuan makhluk rakus yang kini tak hanya berkeliaran di ladang, tetapi juga di gedung-gedung kantor berpendingin udara.
Namun, jika ada tikus yang lebih menjengkelkan daripada tikus ladang, itu adalah Ridwan, si pemupuk, penyemprot, dan penyiang yang kerap membantuku. Ia bukan keluarga, tetapi bertahun-tahun sudah aku percaya padanya.
Dulu ia rajin; tentu saja jujur. Tapi kini ia berubah jadi manusia yang lebih pandai menyembunyikan kerakusan daripada tikus-tikus itu sendiri.
“Mas, pupuknya kurang dari setengah zak,” kataku suatu hari setelah menghitung ulang.
Ridwan menggaruk kepala, pura-pura bingung. “Ah… mungkin kemarin aku salah menakar. Tapi sama saja, Pak. Tanah Tanggulun ini kan subur.”
Subur? Yang subur itu bukan tanahku, melainkan akalnya mencuri sedikit demi sedikit, seperti pejabat yang menggunting anggaran proyek untuk ‘biaya perjalanan,’ ‘biaya rapat,’ ‘biaya tak terduga,’ yang pada akhirnya tak pernah benar-benar ditanggung siapapun selain rakyat kecil.
Aku tahu Ridwan memotong pupukku, mengganti bibit yang kuminta, mencairkan herbisida dengan air sungai supaya botolnya tetap penuh.
“Aku minta bibit terbaik, Ridwan,” kataku suatu siang ketika ia datang membawa plastik besar.
Ridwan tertawa kecil. “Ini bagus, Pak, bibit Kawi. Murah dan cepat tumbuh.”
“Tapi aku tidak minta yang murah.”
Ia mengangkat bahu dan pergi sebelum aku sempat bertanya lebih jauh. Ketika kubuka plastik itu, bau apek langsung menyelonong masuk ke hidungku, bau bibit lama yang sudah pernah disinggung orang-orang kampung: bibit kawi, bibit murahan yang paling tak kusukai.
Dan memang benar, setelah kutanam, banyak yang tak tumbuh sama sekali. Sisanya tumbuh lemah seperti doa yang tak diiringi keikhlasan.
“Kenapa kamu masih pakai dia?” tanya Laila pelan. Nadanya bukan menekan, hanya heran.
“Karena aku percaya orang bisa berubah,” jawabku lirih.
Ia memandangku cukup lama, lalu duduk di sampingku. “Terkadang, yang bisa berubah itu cuma tanaman, Mas. Manusianya—apalagi yang sudah ketagihan memotong hak orang—lebih keras dari batu nisan.”
Kami tertawa kecil. Tetapi aku tahu, kalimat itu lebih benar daripada kelihatannya. Tikus-tikus bisa kuhadapi dengan jebakan, dengan racun, bahkan dengan menunggu burung hantu datang pada malam-malam tertentu. Tapi menghadapi manusia seperti Ridwan? Sulit. Ia tersenyum serupa kawan, tetapi menggigit serupa musuh.
***
Musim keempat tiba. Tanah masih lembap, seolah tak pernah kehabisan kesabaran untuk menerima apa saja yang manusia tanamkan: harapan, kecurangan, bahkan kebodohan. Kali ini aku sendiri yang menugal seluruh lahan. Aku tak ingin lagi bibitku dipotong, pupukku dikurangi, herbisidaku dicampur.
“Biarkan aku yang mengurus semuanya,” kataku tegas pada Laila.
Ia mengangguk, membawa segelas teh. Angin membawa bau hujan jauh di atas bukit. Langit berwarna tembaga muda. Dalam keheningan itu aku berkata, seolah pada langit, “Ini jagung terakhirku. Jika ini pun gagal… entahlah.”
Laila mengecup punggung tanganku. “Kita menanam bukan untuk menang, Mas. Kita menanam agar tidak kalah oleh keadaan.”
Kalimat itu membuat dadaku hangat seperti bara kecil yang tak mau padam.
Aku menugal perlahan, lubang demi lubang. Setiap benih yang kutanam kucium aromanya. Ada campuran getir, harapan, dan masa depan yang terasa rapuh. Aku menanam sambil berdoa. Bukan sekadar doa supaya jagung tumbuh subur, tetapi doa supaya negeri ini, yang ditetesi ketidakjujuran setiap hari, tidak sepenuhnya mati.
Sebab bagiku, jagung adalah lambang negeri ini: sederhana, tegak, dan seharusnya bisa tumbuh subur jika tidak dikerumuni tikus-tikus rakus.
***
Dua minggu kemudian, tunas-tunas hijau muncul. Hanya sedikit, tapi setiap helainya seperti cahaya kecil yang menolak padam. Aku tersenyum. Laila menitikkan air mata kecil, bukan sedih, melainkan lega.
“Mas, lihat… masih ada yang mau tumbuh.”
Aku hendak menjawab ketika dari jauh kulihat Ridwan berjalan ke ladangku. Wajahnya membawa ekspresi basa-basi.
“Bagaimana, Pak? Tumbuh kan? Bilang saja kalau butuh apa-apa.”
Aku menahan diri. “Terima kasih, Wan. Kali ini aku kerjakan sendiri.”
Ridwan tersenyum hambar, tetapi aku bisa melihat sekelebat kesal di wajahnya. Mungkin ia merasa kehilangan ladang untuk digerogoti. Seperti pejabat yang kehilangan proyek setelah rakyat memilih mandiri.
“Yah, kalau begitu semoga panenmu bagus, Pak,” katanya sambil berlalu, suaranya seperti gerincing logam tumpul.
Setelah Ridwan pergi, aku terus memantau tanaman setiap pagi. Tapi malam hari adalah ujian sebenarnya. Tikus mulai datang lagi. Jejaknya terlihat di tanah. Daun-daun muda sobek seperti disayat kuku kecil yang tak mengenal letih. Akar-akarnya bertumbangan seperti pohon terkena air bah.
Suatu malam, aku membawa lampu petromaks dan duduk di pangkal pohon nangka dekat ladang. Malam gelap, hanya bintang yang sesekali berkedip, seolah ikut mengawasi. Aku mendengar suara gemerisik di antara rumpun.
Aku menghela napas panjang.
“Tikus… tikus… kalian memakan usahaku, tapi kalian bukan musuh terbesar. Kalian hanya bayangan. Musuhku justru manusia yang menyerupai kalian.”
Angin membawa kata-kataku, mungkin ke bukit, mungkin ke telinga tikus, atau mungkin ke langit yang sedang mencatat keluh kesah petani kecil.
***
Sebulan kemudian jagungku mulai beranjak remaja. Batangnya kuat, daunnya lebar, dan di pangkalnya mulai muncul tanda bakal tongkol. Laila datang setiap sore membawa air hangat dan pisang goreng. Ia duduk di pematang sambil melihat pertumbuhan jagung seperti seorang ibu memperhatikan anak yang baru belajar berjalan.
“Mas… lihat itu,” katanya pada suatu senja. “Yang dua puluh batang di sebelah timur kelihatannya paling sehat.”
Aku mengangguk. Tetapi di dalam hatiku masih ada ketakutan, seperti petani mana pun yang telah kehilangan panen lebih dari tiga kali. “Semoga selamat sampai berbiji,” jawabku lirih.
Namun harapan itu nyaris tumbang ketika suatu pagi aku menemukan jejak tikus lebih banyak dari sebelumnya. Satu batang roboh. Satu lain tergigiti. Sebagian daun berlubang.
Laila memegang pundakku. “Mas… jangan putus asa. Tidak semua rusak.”
Aku menunduk. “Aku takut jagung terakhir ini pun gagal.”
“Kalau gagal, kita tanam lagi,” katanya mantap. “Kita hanya kalah jika berhenti.”
Aku memejamkan mata. Di balik kelopak mata, aku melihat wajah Ridwan tersenyum sinis. Aku melihat gedung-gedung besar di kota tempat para pejabat berkumpul, penuh rapat, penuh anggaran.
Aku melihat berita-berita korupsi yang tak pernah habis, seperti tikus yang tak pernah kenyang walau perutnya sudah menggembung. Negeri ini terlalu sering kehilangan panen karena orang-orang seperti itu.
***
Musim berganti ke puncak kemarau ketika tongkol-tongkol jagungku mulai besar. Tidak semuanya berhasil selamat, tetapi cukup banyak untuk membuatku bersyukur. Laila memelukku ketika aku memeriksa tongkol terbesar.
“Mas… ini sukses besar dibanding tahun lalu!”
Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba, dari kejauhan, aku melihat Ridwan datang lagi. Wajahnya gelisah; ia menatap tongkol-tongkol itu seperti orang memandangi emas yang baru ditemukan.
“Wah… bagus juga, Pak,” katanya, pura-pura kagum. “Lain kali biar saya bantu lagi ya.”
Aku menatapnya cukup lama sebelum menjawab. “Terima kasih, Wan, tapi aku sudah bisa sendiri.”
Matanya memancarkan kejengkelan, tapi ia sembunyikan dengan senyum.
“Kalau begitu… selamat panen, Pak.” Ia berlalu dengan langkah tergesa, seolah takut melihat keberhasilan yang tidak bisa ia potong bagian rezekinya.
Aku menghembuskan napas. Laila menatapku.
“Kamu tahu, Mas? Orang seperti Ridwan, pejabat seperti di berita-berita itu… mereka tidak takut gagal. Yang mereka takutkan hanya satu: rakyat berhasil tanpa mereka.”
Kata-katanya menusuk hati, bukan karena pedih, tetapi karena tepat. Seperti tongkol jagung yang akhirnya muncul setelah musim panjang penuh kehilangan.
***
Panen itu tidak besar, tetapi cukup untuk membuatku tidur nyenyak. Dan di antara semua tongkol yang berhasil, ada satu tongkol paling istimewa—yang kusebut tumbuhan jagung terakhir. Batangnya paling kurus, daunnya paling sering digigit tikus, tetapi justru ia yang memiliki biji paling lengkap.
“Mas… ini keajaiban,” kata Laila sambil memegangnya. “Ia tumbuh bukan karena subur. Ia tumbuh karena tidak menyerah.”
Aku memandang tongkol itu lama.
“Tumbuhan jagung terakhir ini seperti negeri kita,” gumamku. “Sering digrogoti, sering dipotong haknya, sering dikhianati orang-orang yang seharusnya menjaga… tapi tetap tumbuh.”
Laila tersenyum. “Dan kita harus terus menanamnya, Mas. Sekalipun tikusnya tak pernah habis.”
Aku mengangguk.
Di tegalan kecil Dusun Tanggulun, jagung terakhir itu menjadi simbol harapan. Bukan harapan bahwa tikus akan mati atau para rakus akan insaf. Tapi harapan bahwa rakyat kecil akan terus menanam kebaikan, meski dunia terus digerogoti.
Selama ada yang berani menanam, negeri ini tidak akan mati. Dan aku—bersama Laila—akan terus menanam jagung terakhir itu, musim demi musim, sampai suatu hari nanti, tanah ini kembali menjadi milik kejujuran, bukan milik tikus.








