Advertisement

apijiwa.id – Seringkali kita melihat sejarah hanya sebagai deretan angka tahun yang membosankan di buku pelajaran, atau sekumpulan pakem kaku yang terasa jauh dari realitas. Padahal, di balik lembaran masa lalu, terdapat figur luar biasa dengan karakter progresif dan visioner. Salah satunya adalah Ki Ageng Selo.

Bayangkan seorang pemuda dengan ambisi besar menjadi prajurit elite, namun harus menelan pahitnya penolakan. Bukannya tenggelam dalam rasa insecure, beliau memilih pulang ke desa untuk bertani. Dari kesederhanaan itulah ia justru “menaklukkan petir”—baik secara harfiah dalam legenda, maupun secara kiasan sebagai simbol keberanian membuka jalan hidup yang baru.

Jika dalam dunia anime kita mengenal Hatake Kakashi atau Uchiha Sasuke yang ahli dalam jurus petir, maka Nusantara memiliki tokoh yang tak kalah ikonik dari Kabupaten Grobogan. Lahir dengan nama Raden Bagus Songgom, putra dari Ki Getas Pendowo ini diyakini masih memiliki darah keturunan Majapahit.

Hidup di era Kesultanan Demak, nama Ki Ageng Selo abadi dalam tradisi lisan dan Babad Tanah Jawi. Ia dikenal sebagai sosok yang mampu menangkap petir dengan tangan kosong.

Perjalanan hebatnya justru dimulai dari sebuah kegagalan. Ketika gagal seleksi menjadi pasukan Tamtama di masa Sultan Trenggono, Ki Ageng Selo tidak patah arang. Ia justru memendam tekad kuat: jika bukan dirinya yang mendirikan kerajaan, maka keturunannyalah yang akan mewujudkannya.

Ia kemudian menepi ke sebuah desa di Grobogan, hidup sebagai petani sembari memperdalam ilmu agama, filsafat, dan mengedukasi masyarakat. Desa tersebut kemudian dikenal sebagai Desa Selo.

Kisah yang paling ikonik terjadi saat beliau sedang mencangkul di sawah. Di tengah hujan badai, sebuah kilat menyambar. Dengan keteguhan hati, beliau melompat dan menangkap petir tersebut yang konon berwujud seekor naga. Naga itu diikatnya di pohon Gandrik dan dibawa ke hadapan Sultan Demak sebagai bukti kekuatannya.

Kisah ini meninggalkan jejak budaya yang unik hingga kini. Masih banyak orang tua yang refleks mengucapkan kalimat: “Gandrik, aku iki putune Ki Ageng Selo!” (Gandrik, saya ini cucu Ki Ageng Selo!)

Kalimat ini digunakan sebagai doa keselamatan saat petir menggelegar. Secara filosofis, kisah ini juga sering dimaknai sebagai kemampuan Ki Ageng Selo dalam menaklukkan hambatan besar dan membuka lahan berkarya yang lebih luas bagi masa depan dinasti Mataram Islam.

Warisan Nyata: Dari Mataram hingga Lawang Bledheg

Waktu membuktikan bahwa impian Ki Ageng Selo bukanlah sekadar khayalan. Meski beliau telah berpulang, garis keturunannya benar-benar mengukir sejarah besar. Cicit beliau, Sutawijaya, akhirnya mendirikan Kerajaan Mataram Islam dan menjadi raja pertama pada tahun 1587 dengan gelar Panembahan Senopati.

Hingga saat ini, makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, tetap menjadi saksi bisu bahwa keteguhan prinsip, seorang desa bisa bergema melampaui zaman. Beliau mengajarkan kita bahwa jati diri sejati ditemukan melalui kerja keras dan ketulusan hati.

Karya monumental Ki Ageng Selo yang masih bisa kita saksikan hingga kini adalah Lawang Bledheg (Pintu Petir) di Masjid Agung Demak. Ukiran pada daun pintu tersebut menampilkan motif yang kaya akan detail: Tumbuh-tumbuhan dan suluran, jambangan dan mahkota mirip stupa, camara (ekor kuda), dan dua kepala naga yang menyemburkan api.

Penulis sedang berada di depan Pintu Bledeg karya Ki Ageng Selo di Museum Masjid Agung Demak. (Apijiwa.id/Ari Tri Winarno)

Secara arkeologis, Lawang Bledheg dipercaya sebagai prasasti berwujud sengkalan memet (kronogram visual) yang berbunyi: “Naga Mulat Salira Wani”. Secara simbolis, kalimat ini merujuk pada angka tahun 1388 Saka atau 1466 M, yang diyakini sebagai penanda dimulainya pembangunan Masjid Agung Demak.

Jika ditelaah lebih dalam, Lawang Bledheg mengandung nilai-nilai luhur pra-Islam. Secara ikonografis, motif seni hias tradisional tersebut merupakan pernyataan simbolis tentang toleransi terhadap pluralitas budaya. Hal ini menunjukkan betapa harmonisnya masyarakat pada masa awal berkembangnya Islam di Jawa, khususnya di Demak.

Keselarasan ini didukung oleh berbagai temuan artefak bercorak Hindu-Buddha di wilayah Demak, seperti di Museum Glagah Wangi berupa Arca Pendeta Buddha dan Arca Mahadewa dan Situs Bersejarah berupa Situs Dudukan, Mbah Reco, Mbah Kopek, hingga Situs Watu Kebo.

Temuan-temuan tersebut menandakan bahwa sebelum Islam masuk, Demak memiliki akar Hindu-Buddha yang kuat. Bahkan, penjelajah Portugis Tomé Pires dalam catatannya, Suma Oriental, mencatat bahwa pada masa awal Kesultanan Demak, masyarakat pemeluk agama Hindu-Buddha masih hidup berdampingan di wilayah tersebut.

Karya Ki Ageng Selo ini seolah menjadi pengingat abadi bahwa keharmonisan dalam perbedaan adalah fondasi yang sudah diletakkan oleh para leluhur kita sejak dahulu kala.

Warisan Kultural Ki Ageng Selo

Meski sosok Ki Ageng Selo telah tiada, warisan pemikirannya tetap hidup melalui pepali (nasihat/wejangan). Beberapa nasihat beliau yang paling masyhur di antaranya adalah Aja akarya angkuh (jangan berperilaku sombong), Aja ladak (jangan berlaku kasar), Aja jahil (jangan usil), Aja ati serakah (jangan berhati serakah), Aja buru aleman (jangan haus pujian), serta Aja mangan ngiwa (jangan mengambil jalan yang menyimpang).

Dalam Jurnal Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam (2022), Faza Fuziyyah dan Dadan Rusmana menjelaskan bahwa intisari pepali Ki Ageng Selo berfungsi sebagai kompas moral yang mengarahkan manusia pada jalan kebajikan. Pesan-pesan tersebut bukan sekadar deretan larangan, melainkan panduan untuk membentuk budi pekerti luhur agar seseorang mampu membedakan hal yang bermanfaat bagi hidup dari hal-hal yang bersifat merusak.

Kisah Ki Ageng Selo mengajarkan bahwa peninggalan paling berharga dari masa lalu bukanlah sekadar mitos kesaktian, melainkan keteguhan mental dalam menghadapi tantangan zaman. Di tengah masa depan yang semakin kompetitif, sosok beliau menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan titik balik untuk membangun kemandirian. Hal ini tercermin dari keputusan beliau yang memilih pulang ke desa untuk berkarya setelah ditolak menjadi prajurit.

Ikonografi Lawang Bledheg pun membawa pesan mendalam tentang toleransi: kemajuan zaman tidak seharusnya mengikis akar budaya, melainkan harus selaras dengan nilai harmoni dan penghargaan terhadap perbedaan. Dengan memegang teguh pepali—seperti menjauhi kesombongan dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain (toxic)—kita tidak akan mudah kehilangan jati diri di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Warisan Ki Ageng Selo adalah bukti nyata bahwa karakter yang berpijak pada ketulusan dan kebermanfaatan bagi sesama akan selalu relevan melampaui sekat waktu, menjadi fondasi kokoh untuk menjaga kemanusiaan di masa depan.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.