apijiwa.id – Kuliner tradisional bertebaran di mana-mana, salah satunya adalah burayot. Kudapan manis ini berasal dari Kabupaten Garut. Saat ini, yang sedang tren adalah Burayot SiMadu yang diproduksi di kawasan Jalan Raya Kadungora No. 243, Talagasari, Garut, Jawa Barat. Rasa manisnya yang menggugah selera membuat makanan satu ini banyak disukai, baik oleh kalangan muda maupun tua.
Kini, outlet Burayot SiMadu bertebaran di mana-mana sehingga penikmatnya tidak harus selalu datang ke Garut. Harganya pun relatif terjangkau. Burayot sendiri merupakan kudapan yang terbuat dari bahan tepung beras pilihan dan gula aren yang semuanya berasal dari Kabupaten Garut. Saat ini, proses produksi menghabiskan sekitar 12 ton beras dan 6 ton gula aren.
“Alhamdulillah, semakin hari produksi berjalan cukup baik di bawah pengelolaan PT Burayot Simadu Indonesia,” tutur Wawan Wandira Sukarna, Manajer Pemasaran perusahaan tersebut kepada apijiwa.id dalam sebuah kesempatan.
Dari Lapak Sederhana Hingga Puluhan Outlet
Pada awalnya, Burayot SiMadu dijual dengan sistem titip jual. Usaha ini bahkan dimulai di Alun-Alun Dadaha, Tasikmalaya, menggunakan nama Burayot “Fadil”—mengambil nama anak sulung pemilik usaha—antara tahun 2017–2018. Namun, tercetus ide dari sang pemilik usaha, Syahrizal Fitri Puna Irawan, untuk kembali ke Garut mengingat burayot merupakan salah satu makanan tradisional khas Garut.

Pada akhir 2018, ia memutuskan menjual burayot dengan konsep open kitchen di daerah Kadungora. Hal itu dilakukan untuk memenuhi permintaan konsumen yang ingin membeli secara dadakan dan memastikan burayot disajikan dalam keadaan segar (fresh). Kini, bersama sang istri, Farida Maris, ia bahu-membahu menjalankan usaha tersebut demi melestarikan resep warisan buyut Syahrizal yang sempat tenar pada 1993.
Dinamakan “burayot” karena setelah digoreng dengan minyak kelapa, adonan tersebut diangkat lalu digantung atau menggelantung (ngaburayot dalam bahasa Sunda). Kendati dirintis di Tasikmalaya, usaha ini berkembang pesat di Garut dan mulai merambah ke Kota serta Kabupaten Bandung. Selain di Kadungora, outlet Burayot SiMadu tersebar di daerah Garut lainnya, seperti Limbangan dan Cilawu.
Sasaran utama penjualan Burayot SiMadu adalah wisatawan atau masyarakat yang hendak pulang dari liburan agar dapat membawa oleh-oleh. Penempatan outlet di sebelah kiri jalan bertujuan untuk memudahkan orang membeli buah tangan. Bahkan, beberapa outlet sengaja dibangun berdekatan. Konsep ini diterapkan untuk mempermudah pemenuhan pesanan jika terjadi lonjakan pembeli. Menurut Wawan, jika satu outlet kewalahan menerima pesanan, outlet terdekat bisa langsung membantunya.
Bahan baku dan pendukung disuplai penuh dari kantor pusat. Biasanya, tim produksi bekerja mulai pukul 05.00 WIB hingga 09.00 WIB, lalu adonan didistribusikan menggunakan dua armada. Satu wadah adonan yang dikirim ke outlet biasanya berisi 9 kg dan selalu habis dalam waktu dua hari. Daya tahan adonan ini mencapai 7 hari dalam suhu ruangan. Wawan menyebutkan bahwa seluruh operasional berjalan lancar dan telah memberikan manfaat bagi orang-orang yang terlibat dalam kegiatan usaha ini.
Pemberian nama “SiMadu” merupakan hasil diskusi antara Syahrizal dan Farida. Nama SiMadu bukan berarti di dalam burayot terdapat madu, melainkan karena madu adalah zat yang bermanfaat dan memiliki rasa manis seperti burayot. Selain itu, filosofinya diambil dari sifat madu yang sering dikelilingi lebah. Harapannya, Burayot SiMadu selalu disukai konsumen sehingga usaha ini dapat tumbuh menjadi semakin berkah dan memberi manfaat bagi banyak orang. Saat ini, Burayot SiMadu telah memiliki 57 outlet di Garut dan Bandung, serta mempekerjakan hampir seratus orang.
Harga penjualan Burayot SiMadu cukup bervariasi, meliputi: Rp20.000,00 (isi 10 biji), Rp30.000,00 (isi 16 biji), Rp40.000,00 (kemasan premium, isi 20 biji), dan Rp70.000,00 (isi 35 biji).
Terobosan Pasar Online dan Rencana Eduwisata 2027
Selain pembelian langsung di outlet atau pabrik pusat, produk ini juga dapat dibeli secara daring (online). Wawan menjelaskan bahwa seluruh layanan pasar swalayan daring (marketplace) dapat digunakan untuk pemesanan, dengan waktu pengiriman 2–3 hari ditambah ongkos kirim. Selain pesanan dari dalam negeri, Burayot SiMadu pernah dikirim ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Penjualan tertinggi biasanya terjadi pada akhir pekan (weekend) serta hari besar seperti Idulfitri.
“Agar burayot ini tahan lama sebelum dikirim, setelah digoreng adonan akan dioven. Jika hanya digoreng biasa daya tahannya 7 hari, sedangkan jika dioven bisa bertahan hingga satu bulan,” jelas Wawan.
Untuk memuaskan konsumen, Wawan menegaskan bahwa pihaknya tengah membangun kawasan eduwisata di Garut. Melalui fasilitas ini, pengunjung tidak hanya bisa menikmati burayot, tetapi juga mendapatkan edukasi mengenai cara membuat adonan, bahan-bahan yang digunakan, hingga proses menggoreng dan mengemasnya. Hal ini dilakukan agar Burayot SiMadu memiliki keunikan tersendiri dibandingkan produk burayot lainnya.
“Targetnya terealisasi pada 2027. Saat ini baru tahap pembebasan lahan dan pengurugan. Mohon doanya agar semuanya berjalan lancar,” ujar Wawan.
Mengenai narasi tagline “Dari Garut Untuk Indonesia”, Wawan menyampaikan bahwa kalimat tersebut merupakan harapan agar Burayot SiMadu dapat berkembang ke seluruh pelosok Nusantara, bahkan menembus pasar internasional (Go International). Oleh karena itu, pihak manajemen terus melakukan terobosan untuk memanjakan para penikmat kuliner ini.
Intinya, Burayot SiMadu berkomitmen untuk tetap menjadi pilihan nomor satu di lidah para penikmatnya. Wawan berharap Burayot SiMadu tidak sekadar nikmat saat disantap, tetapi juga mampu mengangkat martabat makanan tradisional ke tingkat dunia.











