apijiwa.id — Berawal dari pelatihan di Gedung Wyata Guna pada Juli 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Sosial RI—dalam rangka meningkatkan taraf hidup serta mengembangkan potensi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH)—lahirlah sentra pembuatan Batik Ciprat Lembayung. Usaha kreatif ini berlokasi di kawasan RT 09 RW 07, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.
Meski baru berjalan sekitar dua bulan, geliat kemajuannya mulai tampak. Aktivitas produksi kain batik terus berjalan dan pesanan pun mulai berdatangan.
Yuliana, Ketua Batik Ciprat Lembayung, menceritakan bahwa mulanya ada sepuluh orang yang mengikuti pelatihan didampingi oleh pendamping PKH mereka, Heri. Namun, setelah pelatihan usai, tersisa empat orang yang bertahan, sementara enam lainnya mengundurkan diri dengan berbagai alasan.
“Sesungguhnya banyak corak pelatihan yang ditawarkan, namun Pak Heri justru memilih pelatihan batik ciprat ini karena dinilai lebih mudah dalam produksi dan pemasarannya. Selain itu, pelatihan batik ini terbilang baru, sementara pelatihan catering atau pastry sudah terlalu sering,” terang Yuliana saat ditemui apijiwa.id di tempat produksi batik tersebut, Selasa (29/9/2026).
Nama “Lembayung” sendiri diberikan oleh sang pendamping, Heri, yang terinspirasi dari proses pembuatan batik yang berlangsung dari matahari terbit hingga terbenam. Walaupun tergolong belia, produk mereka kini telah dipesan oleh konsumen dari Tasikmalaya, Cimahi, hingga Bandung. Promosi yang digencarkan tidak hanya memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok, tetapi juga dibantu secara langsung oleh pendamping PKH di Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.
Proses produksi Batik Ciprat Lembayung rutin berjalan dari hari Senin hingga Jumat pukul 08.00–16.00 WIB, dengan opsi lembur di akhir pekan jika pesanan membludak. Kendati demikian, proses produksinya sangat bergantung pada cuaca. Menurut Yuliana, dalam kondisi cerah, mereka bisa memproduksi 8 hingga 10 lembar kain per hari. Hingga saat ini, tercatat sudah 50 helai kain batik yang terjual.
“Saya begitu optimis dengan kemajuan usaha ini, apalagi pihak Kemensos meminta para karyawannya untuk memakai kain batik ciprat ini sebagai seragam,” ungkapnya.

Di balik optimisme tersebut, perajin masih menghadapi beberapa kendala, salah satunya kesulitan mendapatkan zat pewarna remasol di Kota Bandung. Proses produksi juga sangat bergantung pada terik matahari. Meskipun bisa dibantu dengan alat pemanas dari bawah, Yuliana menyebutkan hasilnya tidak sebagus jika dikeringkan secara alami. Untuk kualitas kain, mereka menggunakan jenis kain mory yang dikenal halus dan adem saat dikenakan. “Semoga konsumen senang mengenakan kain batik ini,” harapnya.
Empat orang yang kini konsisten mengelola Batik Ciprat Lembayung adalah Yuli, Teti, Ade, dan Asep. Nama terakhir sebenarnya tidak mengikuti pelatihan awal, namun karena keahliannya dalam meracik warna dan melukis, ia kemudian direkrut untuk memperkuat tim produksi.
Merintis usaha dari nol tentu bukan hal mudah. Namun, perlahan tapi pasti, batik ciprat ini mulai dikenal publik. “Awalnya kami diberi bantuan dana sebesar Rp14 juta dari Wyata Guna. Namun, kami memilih untuk menerimanya dalam bentuk barang seperti kain, water glass, remasol, dan perlengkapan lainnya agar lebih transparan dan terhindar dari fitnah,” jelas Yuliana.
Kain batik berukuran 210 cm x 115 cm ini dibanderol dengan harga Rp130.000 untuk corak satu warna, dan Rp150.000 untuk corak gradasi empat warna. Menariknya, pemesan dapat memesan motif sesuai keinginan mereka.
“Corak warna dan bentuknya bisa dikirim via WhatsApp. Jika ingin sambil jalan-jalan, konsumen juga bisa berkunjung langsung ke kampung batik kami untuk melihat proses pembuatannya,” ujar Yuli menambahkan.
Terkait hasil penjualan, Yuliana membaginya secara transparan: 50 persen dialokasikan untuk modal produksi selanjutnya, dan 50 persen lagi dibagikan kepada para pekerja sebagai pendapatan yang patut disyukuri. Meski sibuk membatik, mereka tetap bisa membagi waktu dengan peran lainnya, seperti Yuliana yang juga aktif sebagai kader posyandu di lingkungannya. Bagi mereka, kunci utamanya adalah pembagian tugas yang baik agar seluruh pesanan dapat diselesaikan tepat waktu.
Yuliana sangat berharap usahanya bersama rekan-rekan semakin dikenal luas dan kebanjiran pesanan. Sementara itu, untuk jangka panjang, mereka sangat mengharapkan dukungan permodalan dan perluasan jangkauan promosi dari pihak terkait.
“Usaha ini adalah sebuah ikhtiar agar kehidupan kami semakin baik. Istilahnya, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” pungkasnya.










