apijiwa.id – Memulai usaha kuliner bisa dari mana saja dan dalam situasi apa pun. Hal inilah yang dibuktikan oleh Hany Oktapiani (33). Awalnya, Hany bekerja sebagai kasir di sebuah hotel di Kota Bandung. Karena sering berinteraksi dengan bagian pastry, ia mulai belajar membuat kue dan aneka hidangan secara autodidak.
Setelah menikah dengan Firman Noor Hasan pada 2014, Hany dikaruniai dua anak laki-laki: Bastian (lahir 2015) dan Davian (lahir 2021). Pada 2015, ia coba-coba membuat kue ulang tahun untuk putra sulungnya. Siapa sangka, kue buatannya disukai banyak orang karena rasanya enak dan tampilannya menarik. Pesanan pun mulai berdatangan dari saudara dan teman dekat.
Tak berhenti di situ, Hany juga mencari penghasilan tambahan dengan berjualan siomay. Kedua produk tersebut awalnya diproduksi berdasarkan pesanan (pre-order) di rumahnya di Gang Abu RW 10, Kelurahan Ciroyom, Kecamatan Andir, Kota Bandung.
“Disesuaikan dengan waktu kerja. Karena sistemnya pre-order, saya bisa membuatnya sebelum atau sesudah jam kerja hotel,” kenang Hany.
Seiring berjalannya waktu dan makin gencar promosi di Instagram, usahanya mulai dikenal luas. Pesanan mengalir dari berbagai penjuru Bandung Raya, terutama daerah Banjaran, Kabupaten Bandung. Setiap menjelang lebaran, Hany juga memproduksi kue kering setahun sekali.
“Dulu namanya Hany Cookies, tapi kurang dikenal. Akhirnya diganti jadi Dapur Ibu Bass—diambil dari panggilan anak sulung saya, Babass,” jelas wanita yang pantang menyerah ini.
Titik Balik dan Perjuangan Membuka Usaha
Badai kehidupan menghampiri Hany pada tahun 2021 ketika ia terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari tempatnya bekerja akibat dampak pandemi. Saat itu, sang suami bekerja sebagai pengemudi ojek online. Beban ekonomi keluarga semakin membengkak seiring dengan lahirnya anak kedua mereka. “Sempat bingung mau melakukan apa setelah berhenti kerja, apalagi kebutuhan keluarga makin besar,” tutur Hany saat berbincang akhir pekan lalu (3/10/2026).
Kondisi serba sulit tersebut menuntut Hany dan suaminya berputar otak demi bertahan hidup. Mereka akhirnya memutuskan untuk fokus memutar sisa modal yang ada dengan memproduksi siomay serta kue dan bolu hias ulang tahun secara lebih serius.

Perjalanan mencari tempat usaha pun diwarnai berbagai tantangan. Pada tahun 2023, Hany menyewa sebuah garasi kecil di Komplek Rajawali Sakti I No. 1, Bandung, seharga Rp18 juta per tahun karena lokasinya yang strategis dekat dengan sekolah anaknya. Namun, pada tahun 2024, tarif sewa tempat tersebut mendadak naik menjadi Rp25 juta per tahun.
Kenaikan sewa tersebut mendorong Hany untuk mencari opsi lain. Ia akhirnya memutuskan pindah ke Komplek Rajawali I Sakti No. 19, Kelurahan Dunguscariang, Kecamatan Andir. Meski biaya sewanya lebih tinggi—mencapai Rp43 juta per tahun—tempat baru ini berukuran jauh lebih luas sehingga tidak hanya memadai untuk tempat usaha, tetapi juga dapat difungsikan sebagai tempat tinggal bagi keluarga kecilnya.
Kini, buah dari perjuangan pantang menyerah itu mulai terlihat. Dari usaha kuliner yang dirintisnya, Hany bahkan mampu mempekerjakan 10 orang karyawan, yang sebagian besar di antaranya masih merupakan kerabat dekatnya sendiri, termasuk Hany dan sang suami.
Inovasi Produk hingga Beralih ke Seblak Prasmanan
Dapur Ibu Bass terus berkembang. Pesanan kue ulang tahun dan aneka bolu meningkat pesat. Hany juga sempat memproduksi roti yang menyuplai hingga 5 SPPG di Kabupaten Sumedang (Februari–Desember 2025) dengan kapasitas awal mencapai 2.000 buah per hari. Selain itu, ia pernah memproduksi siomay tanpa merek (unbranded) untuk dijual kembali oleh pihak lain.
Namun, roda usaha terus berputar. Ketika pesanan roti dan siomay mulai surut, Hany harus memutar otak agar para karyawannya tetap bisa bekerja.
Terinspirasi dari uwa (pakde/budhe)-nya yang berjualan seblak di daerah Jalan Laswi (Gatot Soebroto), Hany memberanikan diri membuka usaha Seblak Prasmanan pada Januari 2026 dengan resep langsung dari Wa Uyun.
Strategi pemasarannya terbilang cerdik. Selain promosi mulut ke mulut dan media sosial, Hany pernah mengadakan giveaway senilai Rp1 juta untuk 10 orang kreator konten Instagram yang mendapatkan views terbanyak.
“Baru berjalan sekitar 10 bulan, tapi pengunjung minimal 50 orang per hari. Kebanyakan ibu-ibu yang nunggu anak sekolah sambil nongkrong di sini,” ujar Hany. Kedainya juga kerap dikunjungi karyawati pabrik sekitar yang sedang istirahat.
Rincian Harga, Omzet, dan Prinsip Berbagi
Untuk sajian kulinernya, Hany mematok harga yang cukup terjangkau bagi para pelanggannya. Aneka produk roti dijual seharga Rp5.000 per buah, sedangkan bolu ulang tahun dibanderol mulai dari Rp100.000 ke atas tergantung tingkat kesulitan pembuatannya.
Bagi pecinta kuliner pedas, seblak prasmanan ditawarkan dengan kisaran harga Rp7.000 hingga Rp35.000 sesuai dengan toping yang dipilih. Tak hanya itu, pada momen-momen tertentu Hany juga kerap menyediakan berbagai menu makanan dan minuman yang sedang viral untuk memanjakan pembelinya.
Ketekunan Hany dalam mengelola usahanya pun membuahkan hasil yang manis. Omzet dari penjualan cake dan roti mampu menyentuh kisaran Rp50 juta per bulan, sementara penjualan seblak menyumbang lebih dari Rp50 juta per bulan. Dari keseluruhan unit usahanya tersebut, Hany mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp9 hingga 10 juta setiap bulannya.
Kedainya sendiri beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB dengan membagi jam kerja karyawannya menjadi dua shift, yakni pukul 07.00–16.00 WIB dan 12.00–21.00 WIB.
Di balik kesuksesan yang diraihnya, Hany tetap menjaga kepedulian terhadap sesama. Setiap menjelang Idulfitri, ia rutin menyisihkan sebagian keuntungannya untuk santunan anak yatim melalui kegiatan Abu Berbagi di lingkungan tempat tinggal lamanya. Aksi sosial berupa pembagian uang, bingkisan, serta kue kering ini telah ia jalankan sebanyak empat kali.
Saat ini, Hany memilih untuk fokus melayani pembelian langsung di tempat (take away) atau pemesanan yang diambil sendiri oleh pelanggan. Ia sempat bermitra dengan layanan ShopeeFood, namun memutuskan berhenti akibat tingginya biaya komisi dan ongkos kirim. Mengenai rencana ke depan, Hany mengaku belum berpikir untuk membuka cabang baru karena ingin membenahi sistem manajemen usahanya terlebih dahulu agar lebih kokoh.
“Saya sangat bersyukur dengan usaha ini. Selain memutar roda ekonomi keluarga, usahanya bisa dijalankan di tempat tinggal sendiri tanpa harus pergi jauh,” pungkas Hany menutupi perbincangan.











