Advertisement

apijiwa.id – Bayangkan berdiri di tepi telaga tenang, tempat waktu seolah berjalan lebih lambat dan cerita-cerita leluhur berbisik di antara gemericik air. Di bawah naungan rindangnya pohon-pohon tua yang akarnya mencengkeram erat tanah liat Grobogan, udara terasa begitu lembap dan menenangkan. Itulah kesan pertama yang menyergap siapa pun saat menginjakkan kaki di kawasan Situs Yoni Glapan dan Sendang Mbah Wedelan.

Bagi masyarakat setempat, tempat ini bukan sekadar hamparan air atau cagar budaya masa lalu, melainkan sebuah arsip hidup—laboratorium alam terbuka tempat ekologi dan kebudayaan berdialog tanpa henti. Di satu sisi, Situs Yoni menyimpan jejak historis peninggalan masa lampau yang erat kaitannya dengan peradaban air Nusantara. Di sisi lain, Sendang Mbah Wedelan memancarkan aura sakral dari sebuah mata air abadi. Mari kita telusuri jejaknya lebih dekat, menyelami lipatan sejarah, dan merajut kembali kesadaran ekologis kita.

Dalam catatan kali ini, saya mencoba melacak petirtaan kuno di Desa Glapan, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Namun sebelum menelusuri petirtaan tersebut, saya akan mengulas Situs Lingga-Yoni terlebih dahulu karena keduanya memiliki keterkaitan erat.

Situs Lingga-Yoni Desa Glapan

Situs Lingga-Yoni Desa Glapan (sering disebut pula sebagai Situs Yoni Glapan) memiliki keunikan tersendiri. Situs bercorak masa klasik ini terletak di Desa Glapan, tersembunyi di tengah rimbunnya pepohonan yang berdekatan dengan area pemakaman warga dan tak jauh dari aliran sungai.

Situs Yoni Glapan. (apijiwa.id/Ari tri winarno)

Saat berkunjung ke sana, saya mendapati sebuah Yoni tanpa Lingga dalam kondisi sebagian terbenam, ditemani fragmen batuan kuno di sampingnya. Secara simbolis, Yoni selalu berpasangan dengan Lingga. Lingga merupakan simbolisasi Dewa Siwa yang mewakili unsur maskulin, sedangkan Yoni melambangkan Dewi Parwati yang mewakili unsur feminin. Penyatuan keduanya dipercaya membentuk harmoni dan keseimbangan alam semesta.

Menurut dugaan populer di kalangan pegiat sejarah, situs ini merupakan tempat pemujaan. Hal tersebut didukung oleh temuan Lingga (yang diduga merupakan Lingga Patok) serta pecahan batu bangunan kuno di kompleks pemakaman sekitar. Bahkan, banyak yang menduga di wilayah ini pernah berdiri sebuah kompleks percandian. Dugaan ini makin diperkuat oleh temuan Lingga Patok dan beberapa Yoni lainnya di area masjid dekat lokasi situs.

Terkait fungsi dan filosofinya, Asisi Suhariyanto dalam Rahasia Nusantara (2024) menjelaskan bahwa Lingga merupakan tiang simbol Dewa Siwa (maskulin) yang berpasangan dengan Yoni (feminin) sebagai lambang kesuburan dan sumber kehidupan. Di sebuah candi, Lingga menjadi objek utama pemujaan, meski keberadaannya seringkali hilang karena ukurannya yang relatif mudah dipindahkan.

Secara umum, dikenal dua jenis Lingga, yaitu Lingga Sejati—lingga utama yang dipuja bersama Yoni serta memiliki struktur khas berupa Brahmabhaga (dasar persegi) dan Wisnubhaga (bagian tengah segi delapan)—serta Lingga Patok, yaitu lingga bermotif polos yang berfungsi sebagai penanda batas wilayah suci.

Sementara itu, Sunoto dalam Jurnal Bahasa dan Seni (2017) memaparkan perspektif lain mengenai Lingga-Yoni sebagai simbol hukum sebab-akibat sekaligus fondasi peradaban. Alih-alih sekadar dilihat dari kacamata mistis atau reproduksi, Lingga-Yoni dimaknai sebagai titik temu antara “langit” (sumber ide atau kekuasaan absolut) dan “bumi” (ruang hidup nyata). Melalui garis horizontal pada Yoni, terkandung pesan mendalam tentang pentingnya tindakan nyata manusia dalam siklus waktu untuk mewujudkan harapan menjadi kenyataan. Secara esensial, persilangan keduanya melambangkan keselarasan antara niat dan kerja keras—landasan utama bagi tatanan kehidupan manusia.

Jejak Kesakralan Sendang Mbah Wedelan 

Tak jauh dari lokasi situs—sekitar 300 meter ke arah Desa Penadaran, namun masih di kawasan Glapan—sejuknya Sendang Mbah Wedelan masih memancar hingga kini. Daya tarik utama mata air ini terpancar dari tradisi menguras sendang yang rutin digelar setiap tanggal 1 Muharram. Prosesi tersebut sarat akan nuansa spiritualitas lokal, dipadu dengan doa dan tahlil bersama. Di luar tradisi tahunan itu, masyarakat setempat juga terus merawat memori kolektif lewat berbagai cerita tutur yang diwariskan secara turun-temurun.

Melihat lanskap Sendang Wedelan secara langsung menerbitkan pendar misteri tersendiri. Tata letaknya seolah berbisik tentang sebuah benang merah dari masa lampau: Situs Yoni berdiri anggun di area perbukitan Glapan, sementara sendang membentang tepat di kaki bukitnya. Tata spasial ini menguatkan dugaan para pegiat sejarah bahwa keduanya bukanlah peninggalan yang berdiri sendiri. Pada era Mataram Kuno (sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi), kawasan ini diperkirakan merupakan satu kesatuan kompleks tempat suci yang amat luas, bahkan batasnya diduga membentang hingga Desa Penadaran.

Sendang Wedelan. (apijiwa.id/Ari Tri Winarno)

Dalam lanskap sejarah Nusantara, Sendang Wedelan diduga kuat berposisi sebagai petirtaan—kolam air suci kuno yang menjadi sarana penyucian diri, pembasuh kotoran batin, hingga tempat bermeditasi sebelum seseorang melangkahkan kaki menuju ritual pemujaan.

Rahadhian Prajudi Herwindo dan Fery Wibawa C. dalam Kajian Arsitektur Percandian Petirtaan di Jawa (2015) menegaskan bahwa petirtaan bukan sekadar pemandian kuno, melainkan tipologi arsitektur candi berskala sakral yang setara dengan candi pemujaan, tempat pendharmaan raja, sekaligus representasi simbolis dari Gunung Mahameru yang suci.

Letak Situs Yoni di atas perbukitan pun kian mempertegas kedalaman filosofinya. Sebagaimana diulas Niken Wirasanti dalam Candi dan Lingkungan (2023), keberadaan candi di area tinggi menyimbolkan perjalanan spiritual manusia yang secara bertahap menanjak—menjauhkan diri dari hiruk-pikuk duniawi demi mencapai keheningan tertinggi di puncak kosmos.

Pada akhirnya, harmoni antara Sendang Mbah Wedelan dan Situs Yoni Glapan menghadirkan keutuhan peradaban air dan spiritualitas leluhur Nusantara yang masih bisa kita selami keindahannya hingga hari ini.

Merajut Kesadaran Nusantara

Kawasan Situs Yoni Glapan dan Sendang Mbah Wedelan bukan sekadar peninggalan arkeologis bisu dari era Mataram Kuno, melainkan sebuah arsip hidup yang mempertemukan peradaban air leluhur dengan ekosistem alam yang masih bertahan.

Keterhubungan antara Situs Lingga-Yoni di atas bukit dan Sendang Mbah Wedelan di bawahnya mencerminkan konsep tata ruang sakral masa lalu—sebuah tatanan tempat suci, mata air, dan topografi alam yang menyatu dalam harmoni spiritual. Kendati situs ini dengan jelas menandai kehadiran peradaban klasik di Kecamatan Gubug, harus diakui bahwa kajian ilmiah mengenai kawasan ini masih sangat terbatas hingga saat ini.

Dalam dinamika sosial masyarakat, keberadaan kedua tempat ini kerap dikaitkan dengan narasi figur Walisongo serta tradisi kepercayaan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tahunan seperti pengurasan sendang yang diisi dengan doa dan tahlil bersama menjadi bukti nyata bagaimana warisan peradaban klasik bertransformasi dan berakulturasi secara alami dengan nilai-nilai Islam Nusantara. Ruang-ruang sakral ini terus bernyawa, tak hanya sebagai objek penelusuran sejarah, melainkan juga pusat tradisi lisan dan spiritualitas komunal yang dirawat secara telaten oleh warga setempat.

Sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara, perbedaan antara pembacaan historiografi akademis dan cerita tutur masyarakat sebenarnya tak perlu dipertentangkan. Narasi kultural dan catatan akademis dapat berjalan berdampingan dengan perannya masing-masing, saling memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana sebuah tempat dimaknai dari zaman ke zaman.

Pada akhirnya, keselarasan antara pelestarian lingkungan, jejak sejarah, dan kearifan lokal inilah yang menjaga warisan di Grobogan ini tetap bernyawa dan relevan hingga kini.

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.