Advertisement

apijiwa.id — Membaca sejarah di Jawa Tengah seakan tak pernah usai selama kaki masih berpijak di atas tanahnya. Di bagian barat Kabupaten Grobogan, tepatnya di Kecamatan Gubug, keheningan bentang persawahan dan rimbunnya perdesaan ternyata menyimpan jejak pemujaan terhadap Sang Mahadewa (Dewa Siwa).

Hingga kini, kita masih bisa menyaksikan sisa peradaban klasik yang berdiri kokoh di sana, seperti Situs Lingga Yoni di Desa Glapan, Situs Mbah Kramat di Desa Kemiri, dan Arca Nandi di Desa Tlogomulyo. Ketiganya bukanlah sekadar artefak batu yang bisu, melainkan kepingan teka-teki peradaban luhur yang membuktikan betapa kuatnya pengaruh masa klasik mengakar di Kecamatan Gubug.

Situs Lingga Yoni Desa Glapan

Pada pertengahan Januari 2026, saya berpetualang ke salah satu situs bercorak masa klasik di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, yaitu Situs Lingga Yoni Desa Glapan. Lokasinya berada di tengah rimbunnya pepohonan dan berdekatan dengan area pemakaman lokal.

Saat berkunjung, saya mendapati sebuah yoni tanpa pasangan lingganya dalam kondisi setengah terbenam tanah, dengan fragmen batuan kuno yang tergeletak tepat di sebelahnya. Selain dekat dengan makam, situs ini juga berada tidak jauh dari aliran sungai. Secara simbolis, lingga dan yoni adalah satu kesatuan. Lingga merupakan simbolisasi Dewa Siwa yang mewakili unsur maskulin, sedangkan yoni melambangkan Dewi Parwati sebagai unsur feminin. Penyatuan keduanya dipercaya membentuk harmoni alam semesta.

Berdasarkan dugaan populer di kalangan komunitas pegiat sejarah, situs ini dulunya merupakan tempat pemujaan. Dugaan tersebut didukung oleh temuan lingga (diduga lingga patok) di kompleks pemakaman sekitar. Bahkan, tak sedikit yang berspekulasi bahwa dahulu pernah berdiri sebuah bangunan candi di wilayah ini. Hal ini diperkuat dengan adanya temuan lingga patok lain serta beberapa yoni di dalam masjid yang terletak dekat situs tersebut.

Terkait fungsinya, Asisi Suhariyanto dalam bukunya Rahasia Nusantara (2024), menjelaskan bahwa lingga adalah tiang simbol Dewa Siwa yang berpasangan dengan yoni sebagai lambang kesuburan dan sumber kehidupan. Di dalam sebuah candi, lingga inilah objek pemujaan yang sebenarnya. Sayangnya, objek ini seringkali hilang karena ukurannya yang relatif mudah dibawa kabur.

Secara umum, kita mengenal dua jenis lingga yang memiliki fungsi dan bentuk berbeda. Pertama adalah Lingga Sejati, yaitu objek pemujaan yang selalu berpasangan dengan yoni. Lingga ini memiliki pembagian struktur yang jelas dan sarat makna simbolis, yaitu Brahmabhaga (bagian dasar berbentuk segi empat), Wisnubhaga (bagian tengah berbentuk segi delapan), dan Siwabhaga (bagian puncak berbentuk bulat atau silinder). Kedua adalah Lingga Patok, yaitu jenis lingga bertubuh mulus atau polos tanpa pembagian struktur rumit, yang berfungsi khusus sebagai penanda batas wilayah suci (sima).

Yoni di situs Mbah Kramat Kemiri. (apijiwa.id/Ari Tri Winarno)

Sementara itu, Sunoto dalam Jurnal Bahasa dan Seni (2017) memaparkan perspektif lain mengenai lingga yoni sebagai simbol hukum sebab-akibat dan fondasi peradaban. Alih-alih hanya dilihat dari sudut pandang mistis atau seksual, lingga yoni dimaknai sebagai titik temu antara “langit” (sumber ide atau kekuasaan absolut) dan “bumi” (ruang hidup yang nyata). Melalui garis horizontal pada yoni, terkandung pesan tentang pentingnya tindakan nyata manusia dalam siklus waktu untuk mengubah harapan menjadi realitas. Secara esensial, persilangan keduanya melambangkan keselarasan antara niat dan kerja keras yang menjadi landasan utama bagi kehidupan manusia yang terstruktur.

Situs Mbah Kramat Kemiri

Setelah dari Desa Glapan, saya melanjutkan perjalanan ke Desa Kemiri, tepatnya menuju Punden Mbah Kramat. Area makam ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai tempat peristirahatan terakhir sesepuh desa. Tepat di samping makam, saya menemukan sebuah peninggalan masa klasik yang berharga, yaitu sebuah yoni yang berdiri tanpa lingganya.

Artefak ini terbilang unik karena lubang di bagian tengahnya berbentuk bulat, padahal yoni pada umumnya memiliki lubang berbentuk kotak. Perubahan bentuk ini diduga kuat terjadi akibat aktivitas manusia di masa lalu. Ada kemungkinan batu ini pernah dialihfungsikan oleh warga untuk keperluan pertanian atau sarana pengairan, sehingga lambat laun gesekan air dan aktivitas tersebut mengikis sudut-sudut bagian dalam batu hingga membulat.

Menariknya, meskipun secara fisik benda ini merupakan peninggalan suci agama Hindu, tradisi lisan masyarakat setempat justru mengaitkannya dengan masa Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga. Secara arkeologis, temuan yoni ini jelas menjadi bukti kuat adanya aktivitas spiritual dari masa klasik.

Meskipun tidak ditemukan sisa-sisa struktur bangunan candi di sekitar lokasi, hal tersebut tidak lantas menggugurkan kemungkinan bahwa tempat ini dulunya adalah situs ritual yang penting. Ada kemungkinan bangunan pendukung candi tersebut dahulu terbuat dari material kayu yang telah lapuk dimakan usia, atau bisa jadi batu-batu candinya telah hilang karena faktor manusia. Tentu saja, penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan untuk mengungkap tabir sejarah di tempat ini.

Arca Nandi di Desa Tlogomulyo

Sekitar 14 km dari Situs Mbah Kramat, tepatnya di Dusun Klatak, Desa Tlogomulyo, terdapat sebuah artefak unik berupa arca Nandi tanpa kepala yang terletak di samping Masjid Mujahidin. Hingga hari ini, asal-usul dari mana arca Nandi ini berasal masih menjadi teka-teki. Berdasarkan penuturan warga sekitar, arca ini memang asli ditemukan di desa tersebut dan sudah ada sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Meskipun bagian kepalanya telah hilang, anatomi bentuk tubuhnya memastikan bahwa arca tersebut adalah Nandi.

Dalam mitologi Hindu, Nandi adalah lembu jantan yang menjadi wahana atau kendaraan setia Dewa Siwa, sekaligus penjaga pintu gerbang kediaman sang dewa di Gunung Kailash. Lebih dari sekadar hewan tunggangan, Nandi melambangkan darma, kekuatan, serta pengabdian yang tak tergoyahkan (bhakti). Oleh karena itu, arca Nandi hampir selalu ditemukan menghadap ke ruang utama di tempat ibadah beraliran Siwa. Angie Poetri Febrina Az-Zahra dkk. dalam Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia (2024) menjelaskan bahwa keberadaan Nandi sebagai kendaraan Dewa Siwa dapat diartikan sebagai simbol kehadiran Dewa Siwa itu sendiri di suatu tempat.

Arca Nandi tanpa kepala di Desa Tlogomulyo. (apijiwa.id/Ari Tri Winarno)

Jika benar arca ini asli dari Desa Tlogomulyo, temuan ini menegaskan kemungkinan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi pusat spiritualitas yang signifikan pada masa lampau. Menariknya, jika arca Nandi ini dikaitkan dengan toponim (asal-usul nama) Desa Tlogomulyo, kita akan menemukan kepingan teka-teki baru yang saling terhubung.

Tlogo berarti “telaga” dan mulyo berarti “kesejahteraan”. Dalam tradisi lisan, Desa Tlogomulyo dipercaya dulunya berada di dekat sebuah sumber air besar. Meskipun ingatan kolektif itu seolah mulai pudar oleh zaman, jejaknya masih bisa ditemukan pada sebuah sumur kuno yang terletak sekitar 500 meter dari posisi arca. Sumur yang berada di tengah area persawahan ini dikenal dengan nama Sumur Brumbung, yang dipercaya warga sebagai sumber air utama desa di masa lalu.

Seiring berjalannya waktu, bukanlah hal aneh jika sumber air menyusut atau bahkan menghilang akibat perubahan alam. Melihat keterkaitan antara arca dan nama desa tersebut, sangat mungkin jika dahulu di wilayah ini pernah ada sendang atau petirtaan suci sebagai tempat bersuci, yang melengkapi sebuah bangunan ibadah masa klasik. Namun, tentu saja, semua hipotesis ini masih memerlukan penelitian arkeologis lebih lanjut oleh para ahli untuk memecahkan teka-tekinya secara tuntas.

Memaknai Jejak Mahadewa di Kecamatan Gubug

Jejak masa klasik di Kecamatan Gubug—mulai dari Lingga Yoni di Desa Glapan, Punden Mbah Kramat di Desa Kemiri, hingga Arca Nandi di Desa Tlogomulyo—adalah bukti nyata bahwa tanah ini dibangun di atas lapisan peradaban yang sangat kaya dan toleran.

Secara data, artefak-artefak ini mengonfirmasi pengaruh spiritualitas Mahadewa yang pernah menjadi nadi kehidupan masyarakat Jawa Kuno. Namun secara kultural, peninggalan Hindu ini kini bersanding harmonis dengan makam sesepuh Islam serta berkelindan dengan tradisi lisan tentang Wali Songo. Perbedaan antara data arkeologis dan memori kolektif rakyat sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.

Sebaliknya, keduanya harus dipandang sebagai dua koridor berbeda yang saling memperkaya narasi kebangsaan kita. Fenomena ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan beragama dan bernegara saat ini, kita bisa tetap teguh pada keyakinan masing-masing tanpa harus kehilangan rasa hormat pada warisan leluhur.

Berdasarkan dugaan populer, ketiga peninggalan masa klasik ini ditengarai telah eksis sejak era Kerajaan Mataram Kuno. Hal ini menandakan bahwa peradaban di Kecamatan Gubug tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui proses panjang selama ratusan tahun. Keberadaan ketiga artefak ini di tengah masyarakat modern menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan kosmos—harmoni antara manusia, alam, dan Yang Maha Kuasa—sebagaimana filosofi yang terkandung dalam lingga-yoni.

Di sisi lain, kesetiaan Arca Nandi dalam menjaga darma menjadi simbol pengabdian tulus yang sangat relevan bagi kita dalam bernegara. Pesan tersiratnya adalah bahwa setiap warga negara memiliki kewajiban untuk menjaga “gerbang” persatuan demi keberlanjutan hidup bersama. Baik rakyat maupun pejabat, semua memiliki porsi dan peran masing-masing dalam menjaga kedaulatan negeri.

Dengan memetik makna dari setiap serpihan sejarah dan tradisi, kita tidak hanya sedang melestarikan batu-batu yang seolah bisu, melainkan juga merawat jiwa bangsa yang inklusif. Kecamatan Gubug telah membuktikan bahwa di bawah langit yang sama, sejarah formal dan keyakinan kultural dapat berjalan beriringan, menciptakan sebuah simfoni harmoni yang menjadi modal utama untuk membangun masa depan Indonesia yang berbudaya dan bermartabat.

*Artikel ini dimuat di buku berjudul “Mozaik Budaya Grobogan: Jejak Sejarah, Ritual, dan Legenda yang Abadi dalam Ingatan” yang diterbitkan oleh CV. Hanum Publisher bekerja sama dengan Dinarpusda Grobogan, 2026, dengan judul sama.

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Redaksi Apijiwa.id

1 Komentar

  1. Wahid

    Di dusunku juga ada arca nandi mas.lokasi desa kalimAro kedungjati