Advertisement
Informasi Buku Detail
Judul Denyut Nadi Bumi: Geologi Politik di Jawa
Penulis Adam Bobbette
Penerjemah Endah Raharjo
Penerbit Marjin Kiri
Tahun Terbit 2025
QRCBN 62-6771-3170-483
Ketebalan viii + 319 halaman

apijiwa.id — Bertahun-tahun saya skeptis dan ragu terhadap pandangan spiritual masyarakat Jawa yang erat kaitannya dengan dunia mistis. Apakah pandangan itu merupakan bentuk edukasi yang dibungkus budaya, ajaran luhur Nusantara, ataukah sekadar konstruksi sosial? Pertanyaan ini selalu bergulat di dalam hati dan pikiran saya, bahkan tak jarang menjadi bahan perdebatan dengan banyak orang.

Saat kuliah dulu, mata kuliah antropologi sudah menjadi makanan sehari-hari. Kendati demikian, saya masih saja mempertanyakan, “Masyarakat Jawa ini enggak mau maju atau bagaimana? Kok percaya hal gaib yang enggak nyata dan enggak bisa dibuktikan secara ilmiah?”

Meski begitu, rasa penasaran tetap mendorong saya untuk “berpetualang” mencari jawaban. Saya membaca berbagai buku sosiologi dan antropologi, belajar menyingkap tradisi lisan yang kemudian saya kemas ke dalam bentuk seni digital seperti infografis atau poster, hingga akhirnya pencarian tersebut bermuara pada sebuah karya yang sangat berkesan; sebuah buku karya Adam Bobbette yang berjudul Denyut Nadi Bumi.

Adam Bobbette adalah seorang pengajar Geologi-Politik dan Geografi di University of Glasgow. Versi asli bukunya terbit di Amerika Serikat pada tahun 2023 dengan judul The Pulse of the Earth: Political Geology in Java. Pada tahun 2025, Penerbit Marjin Kiri menerbitkan versi terjemahan resminya berjudulkan Denyut Nadi Bumi: Geologi Politik di Jawa.

Buku ini mengulas hal luar biasa tentang bagaimana teori-teori sains modern—seperti teori tektonika lempeng—ternyata lahir dari rahim gunung-gunung berapi di Indonesia, bukan murni hasil pemikiran ilmuwan Barat semata. Adam Bobbette mengungkapkan bahwa pada akhir abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda menugaskan para ilmuwan meneliti gunung berapi demi melindungi bisnis perkebunan dari bencana alam. Namun di lapangan, ilmu pengetahuan Barat tidak berdiri sendiri; para ilmuwan justru belajar dan berinteraksi langsung dengan pengetahuan tradisional Islam, tradisi kebatinan Jawa, serta dinamika politik lokal.

Buku ini berhasil mendobrak sejarah sains konvensional dengan membuktikan bahwa geologi modern dibentuk oleh perpaduan budaya, agama, dan cara pandang masyarakat Indonesia dalam melihat bumi.

Pembahasan dalam buku ini membawa kita kembali ke sekitar tahun 1960-an. Kala itu, sebuah tim ilmuwan asal Amerika Serikat berlayar ke samudra di selatan Pulau Jawa menggunakan dua kapal riset canggih. Misi mereka satu: membongkar misteri dasar laut selatan yang saat itu menjadi salah satu wilayah paling minim informasi di bumi.

Di sana, para ilmuwan mengambil sampel batuan dan menembakkan sinyal suara (seismik) ke dalam air. Data yang terkumpul kemudian diolah dan diilustrasikan dengan sangat dramatis oleh pelukis andal asal Swiss, Heinrich Berann. Hasilnya adalah sebuah peta dasar laut populer yang diterbitkan oleh National Geographic pada tahun 1967. Peta tersebut membuka mata dunia bahwa di balik ketenangan Laut Selatan Jawa, tersembunyi palung laut yang sangat dalam serta jajaran pegunungan bawah air yang megah.

Berbekal peta dan sampel batuan tersebut, seorang ahli bumi bernama Warren Hamilton merumuskan teori penting yang dikenal sebagai “subduksi” (penyusupan lempeng). Hamilton menjelaskan bahwa lantai samudra di laut selatan tidak diam, melainkan terus bergerak dan merosot ke bawah Pulau Jawa.

Penyusupan lempeng raksasa ke perut bumi ini menimbulkan jepitan dan gesekan dengan panas yang luar biasa. Panas ekstrem tersebut melelehkan batuan di dalam bumi menjadi magma. Magma cair inilah yang bergerak naik ke permukaan dan melahirkan deretan gunung berapi aktif di sepanjang Pulau Jawa.

Menariknya, ketika gunung-gunung ini meletus, material seperti pasir, batu, dan abu perlahan terkikis, hanyut terbawa aliran sungai, lalu kembali lagi ke palung laut selatan. Dari proses ini, sains melihat adanya siklus horizontal yang abadi: apa yang berasal dari laut selatan akan menjadi gunung di daratan, dan apa yang dikeluarkan oleh gunung akan kembali ke laut selatan.

Siklus bumi yang ditemukan Hamilton ini ternyata menciptakan ikatan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Di satu sisi, letusan gunung berapi memang menakutkan. Namun di sisi lain, abu vulkanik membuat tanah di Pulau Jawa menjadi sangat subur. Kesuburan tanah inilah yang mendorong jutaan orang memilih tinggal dan menggantungkan hidup di lereng-lereng gunung aktif.

Melihat banyaknya warga yang hidup berdampingan dengan potensi bahaya tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke-20 mulai mendirikan badan pemantau gunung api (vulkanologi). Langkah ini diambil setelah terjadi tiga letusan besar yang memakan banyak korban, yaitu Gunung Kelud (1919), Gunung Merapi (1930), dan Gunung Raung (1931).

Pemerintah kolonial membangun pos-pos pantau di lereng gunung, memasang jaringan telepon untuk peringatan dini, hingga membuat proyek teknik raksasa seperti terowongan penguras air kawah Kelud guna mencegah banjir lahar panas. Pos-pos sains inilah yang menjadi titik temu antara para ilmuwan modern dan masyarakat lokal di Jawa.

Di saat para ilmuwan Barat sibuk membangun pos pantau serta menganggap laut selatan dan lereng gunung sekadar “ruang kosong” yang gersang, masyarakat Jawa sejatinya telah memiliki peta mereka sendiri sejak abad ke-16, yakni peta spiritual.

Bagi masyarakat Jawa, Samudra Selatan yang dalam bukanlah ruang kosong, melainkan wilayah kekuasaan Kanjeng Ratu Kidul. Dalam berbagai naskah sastra Jawa (babad), diceritakan bahwa pendiri Kesultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati, pernah bermeditasi di pantai selatan. Di sana, ia bertemu dan terikat janji spiritual dengan Nyai Ratu Kidul. Dari pertemuan itu, lahirlah kesepakatan sakral bahwa Sang Ratu akan selalu melindungi keturunan Senopati dan kerajaannya melalui kekuatan kosmik.

Sebagai bentuk penghormatan, sejak abad ke-19 hingga hari ini, pihak keraton dan masyarakat rutin melarungkan sesaji di atas rakit bambu ke tengah ombak laut selatan. Mereka percaya bahwa fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi merupakan penanda dinamika kekuatan kosmik Sang Ratu.

Sains modern dan kosmologi Jawa pada akhirnya bertemu di satu titik kesimpulan yang senada. Teori subduksi membuktikan bahwa palung laut selatan dan gejolak gunung berapi di daratan Jawa terhubung dalam satu siklus yang tak terpisahkan. Di sisi lain, kosmologi Jawa telah sejak lama meyakini hal serupa: bahwa ombak Laut Selatan (Ratu Kidul) dan gejolak gunung berapi di darat saling berinteraksi dalam satu ikatan spiritual.

Fenomena pertautan antara sains modern dan narasi tradisi ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan modern tidak selalu hadir untuk mengikis kepercayaan lama. Keduanya dapat berdampingan secara unik. Ketika para ilmuwan hari ini menggunakan kalkulasi fisika dan geologi untuk menjelaskan dinamika bumi, secara tidak langsung mereka sebenarnya sedang menceritakan kembali kisah Kanjeng Ratu Kidul dalam artikulasi yang berbeda. Keduanya sama-sama membimbing kita untuk menghormati, memahami, dan beradaptasi di atas bumi yang terus bergerak ini.

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.