Advertisement

apijiwa.id – Buku ini dibuka dengan kontras sejarah yang tajam dan provokatif. Penulis menarik garis dari masa kejayaan Majapahit, di mana figur seperti Tribhuwana Tunggadewi memegang kendali otoritas politik, hingga abad ke-18 saat matra Mataram masih membanggakan korps Prajurit Estri—wanita-wanita bersenjata yang keberaniannya menciutkan nyali perwira Eropa. Namun, mengapa narasi “Srikandi” ini luruh menjadi sosok “Kanca Wingking” pada abad ke-20?

Fajar Wijanarko dengan jeli melihat bahwa transisi ini bukan sekadar evolusi alami, melainkan sebuah “pengondisian normatif” yang dipicu oleh penetrasi kolonialisme Eropa. Kehadiran prajurit perempuan dipandang sebagai ancaman destabilisasi bagi tata sosial yang diinginkan penjajah. Melalui instrumen sastra wulang—seperti Wulang Putri dan Candrarini—terjadi proses dehumanisasi dan domestikasi yang sistematis. Hegemoni gender bekerja bukan melalui paksaan bayonet, melainkan melalui konsensus kultural yang menempatkan perempuan dalam jeruji domestik demi stabilitas sistem patriarki yang bersekutu dengan kepentingan kolonial.

Dialektika Filologi dan Sastra Rupa

Untuk menghindari “sesat pengetahuan” dalam membedah teks abad silam, penulis menerapkan pendekatan multidisiplin yang rigor. Ia tidak hanya menggunakan filologi tradisional untuk pemurnian teks, tetapi juga mengawinkannya dengan semiotika Riffaterre, semiotika Peirce, serta teori narasi visual Brilliant.

Keunggulan buku ini terletak pada analisisnya terhadap sastra rupa. Ilustrasi visual dalam naskah koleksi Museum Sonobudoyo ini tidak dipandang sebagai dekorasi marginal, melainkan alat eksplanatori (penjelas) yang vital.

Aksara Pegon hadir sebagai jembatan kultural yang mempertemukan tradisi lokal Jawa dengan spiritualitas Islam. Kehadirannya menandai ruang lingkup sosial-budaya yang khas pada milieu Pesisiran-Pesantren, di mana nilai-nilai keagamaan meliuk harmonis bersama kearifan lokal.

Keindahan teks tersebut dipertegas oleh hadirnya Wedana, yaitu bingkai ornamental yang melingkupi bingkai naskah. Keberadaannya bukan sekadar penghias, melainkan sebuah penanda visual yang mencerminkan status kehormatan teks serta menggambarkan situasi naratif para tokoh di dalamnya.

Melengkapi struktur estetika tersebut, visual naratif dihadirkan melalui penggambaran tokoh bercorak wayang. Unsur visual ini berfungsi menerjemahkan abstraknya kata-kata menjadi citra konkret, sehingga pesan cerita dapat dicerna secara psikologis dan intuitif oleh para pembaca pada zamannya.

Jejak Pesisiran dan Intertekstualitas

Serat Murtasiyah yang dikaji ini merupakan satu dari 22 versi yang tersebar di berbagai skriptorium seperti UI, Perpustakaan Nasional, dan Keraton. Namun, naskah koleksi Sonobudoyo ini unik karena menunjukkan perpaduan estetika visual dan didaktis yang sangat matang. Secara filologis, terdapat catatan menarik dalam kolofon naskah: penyebutan tahun 1845 Jawa (1332 H) kemungkinan merujuk pada masa komposisi asli, sementara angka 1914 M (yang secara astronomis selaras dengan 1332 H) merupakan tahun penyalinan naskah ini.

Naskah ini pernah dimiliki oleh Pangeran Hadimulya (putra Pangeran Kusumadibrata) di Pakubon, Pakalipan. Secara intertekstualitas, teks ini memiliki pertalian erat dengan Serat Centhini jilid II (Suluk Tambangraras), membuktikan bahwa literatur Jawa adalah sebuah kolase besar yang saling bersahutan antar-periode dan lokasi.

Inti emosional buku ini terletak pada rekonstruksi kisah Murtasiyah dan suaminya, Syekh Ngarip. Puncak penderitaan Murtasiyah terjadi dalam insiden yang dikenal sebagai tragedi Sumbu Rambut (Sumbuh Damar). Saat Syekh Ngarip sedang bersantap dalam kegelapan, Murtasiyah—dalam kepatuhan total—mencabut beberapa helai rambutnya untuk dijadikan sumbu lampu demi melayani sang suami.

Namun, di sinilah letak ironi dari hegemoni patriarki; pengorbanan ekstrem tersebut justru dikutuk oleh Syekh Ngarip sebagai tindakan “gagabah” (kecerobohan yang gegabah). Murtasiyah dianggap bersalah karena bertindak tanpa izin. Insiden ini menyingkap lapisan gelap konstruksi sosial masa itu di mana perempuan tidak hanya dituntut untuk patuh, tetapi juga dilarang memiliki inisiatif bahkan dalam pengabdian paling tulus sekalipun. Kepatuhan total (total submission) justru menjadi senjata untuk menghakimi dan memojokkan posisi perempuan.

Konstruksi “Wanita Utama” dan Subordinasi

Penulis mengevaluasi terminologi yang melingkupi identitas perempuan Jawa abad XX. Konsep “Wanita Utama” dikerdilkan menjadi rangkaian sifat pasif yang membelenggu. Istilah “Sigaraning Nyawa” (belahan jiwa) yang secara puitis terdengar indah, pada praktiknya merupakan tali pengikat legal dan spiritual yang meniadakan independensi perempuan di hadapan suaminya.

Buku ini memotret dekonstruksi peran perempuan melalui pergeseran mendasar dari masa pra-abad ke-18 menuju abad ke-20, khususnya sebagaimana yang dikonstruksikan dalam Serat Murtasiyah. Pada era pra-abad ke-18, perempuan memiliki ruang gerak yang sangat luas di ranah publik dan memegang otoritas politik hingga militer. Kedudukan ini menempatkan mereka sebagai subjek mandiri sekaligus mitra sejajar dalam struktur sosial, berbeda jauh dengan kondisi di abad ke-20 ketika peran perempuan disempitkan ke dalam ruang domestik sebagai kanca wingking yang kehilangan hak-hak dasarnya (powerless).

Perubahan ruang gerak tersebut berdampak langsung pada pergeseran identitas utama yang melekat pada diri perempuan. Jika di masa lalu perempuan dikenal sebagai ksatria dan pemimpin yang tangguh, pembentukan wacana di abad ke-20 justru mereduksi peran mereka menjadi sebatas macak, manak, masak (berhias, melahirkan, dan memasak). Citra kepemimpinan yang melekat pada era terdahulu perlahan tergerus oleh tuntutan peran domestik yang membatasi potensi mereka.

Secara karakteristik kepribadian, figur perempuan pra-abad ke-18 digambarkan sebagai sosok yang perkasa dan berani dalam menghadapi tantangan zaman. Sebaliknya, konstruksi sosial abad ke-20 menuntut perempuan untuk tampil dengan karakter merak ati (menawan), gumati (penuh perhatian dan kasih sayang), serta mudah luluh. Perubahan ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai ketegasan dan keberanian perempuan secara sistematis digantikan oleh idealisme kelembutan yang pasif.

Pergeseran-pergeseran ini pada akhirnya merombak tatanan relasi gender secara mendasar. Hubungan antara laki-laki dan perempuan yang mulanya terbangun atas dasar kemitraan strategis yang seimbang, bergeser menjadi relasi subordinat di abad ke-20. Perempuan diposisikan sekadar sebagai sigaraning nyawa yang posisinya bergantung pada dan berada di bawah naungan pasangan.

Teks ini menunjukkan bagaimana masyarakat “dikondisikan” melalui literatur untuk menganggap subordinasi perempuan sebagai sesuatu yang natural dan selaras dengan kodrat dewi-dewi yang tunduk pada pasangannya.

Merawat Identitas di Tengah Gempuran Globalisasi

Fajar Wijanarko melalui buku ini menawarkan kebaruan yang signifikan dengan menyajikan teks dan ilustrasi secara berdampingan. Langkah Penerbit BRIN untuk memublikasikan kajian ini adalah sebuah kontribusi strategis bagi para peneliti gender dan aktivis kebudayaan. Buku ini berfungsi sebagai cermin untuk melihat bagaimana hegemoni kultural bekerja secara halus melalui keindahan aksara dan rupa.

Sebuah refleksi kritis perlu diarahkan pada diri kita sendiri mengenai kemungkinan bahwa “tabir hegemoni” yang membelenggu Murtasiyah belum sepenuhnya tersingkap, melainkan sekadar berganti wujud menjadi domestikasi modern yang lebih canggih. Memahami Serat Murtasiyah bukan sekadar upaya akademis, melainkan langkah penting untuk merawat identitas di tengah gempuran globalisasi. Hal ini menjadi fondasi penting untuk memastikan bahwa narasi perempuan Nusantara di masa depan tidak lagi ditentukan oleh pena patriarki yang kaku, melainkan oleh suara mereka sendiri yang merdeka.

Data buku:

Judul Serat Murtasiyah: Sastra ‘Perempuan’ Awal Abad XX
Penulis Fajar Wijanarko
Penerbit Penerbit BRIN
Tahun Terbit Cetakan pertama, Maret 2022
Spesifikasi xviii + 137 hlm; 14,8 x 21 cm
ISBN 978-623-7425-39-7
Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.