| Informasi Buku | Detail Spesifikasi |
| Judul | Pararaton: Biografi Para Raja Singhasari -Majapahit |
| Penulis | Heri Purwanto |
| Penerbit | Javanica |
| Tahun Terbit | 2023 |
| Jumlah Halaman | 560 hlm |
| ISBN | 978-623-98438-4-7 |
apijiwa.id — Fenomena beredarnya prasangka dan klaim sepihak di era digital kian membingungkan publik. Narasi seperti “Pararaton buatan Belanda”, “Pararaton sekadar rekaan”, atau tudingan “logika mistika” kerap dilemparkan tanpa pijakan historiografi yang sahih. Sangat disayangkan, wacana tanpa basis data ini kerap direproduksi oleh kalangan akademisi dan alumni perguruan tinggi terkemuka, sehingga melahirkan generalisasi dangkal, narasi adu domba, serta penyudutan tokoh sejarah secara gegabah.
Asal klaim tanpa referensi yang kredibel tidak hanya mengancam keutuhan narasi sejarah, tetapi juga mengaburkan akar kebudayaan kita. Lantas, sejauh mana kebenaran tuduhan-tuduhan tersebut? Untuk meresponsnya secara objektif, mari kita kaji Kitab Pararaton berdasarkan analisis mendalam Heri Purwanto dalam bukunya.
Mengenal Pararaton dan Mitos Buatan Belanda
Tuduhan bahwa Pararaton merupakan rekayasa Belanda atau Jepang adalah kekeliruan besar. Di bagian awal karyanya, Heri Purwanto memberikan gambaran umum yang sangat gamblang—sekaligus menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang masih termakan mitos konspirasi tanpa pernah membedah naskahnya secara langsung.
Heri Purwanto menegaskan bahwa Pararaton adalah karya sastra berbentuk prosa (gancaran) berbahasa Jawa Pertengahan, yakni fase peralihan dari Jawa Kuno menuju Jawa Baru. Secara harfiah, judul Pararaton berasal dari kata dasar ratu. Dalam perbendaharaan bahasa Jawa Kuno, ratu berarti raja atau pemimpin rakyat (seakar dengan kata datu dalam bahasa Melayu Kuno yang kemudian menjadi datuk).
Makna ini tentu berbeda dari bahasa Indonesia modern yang mengartikan ratu sebagai permaisuri. Oleh karena itu, Pararaton dimaknai sebagai “Kisah Para Raja”, yaitu rekam jejak penguasa Wangsa Rajasa yang bertakhta di Kerajaan Singhasari hingga Majapahit.
Menariknya, penyebutan judul Pararaton sebenarnya hanya ditemukan pada bagian akhir atau kolofon naskah. Pada bagian awal, teks ini justru dibuka dengan judul aslinya: Katuturanira Ken Angrok (Kisah Cerita Ken Angrok). Sosok Ken Angrok mendapatkan porsi penceritaan paling dominan karena dialah leluhur pendiri Wangsa Rajasa.
Siapa penulis Pararaton dan kapan naskah ini disusun? Berbeda dari Desawarnana (Nagarakretagama) yang secara terbuka mencantumkan nama samaran penulisnya (Mpu Prapanca), naskah Pararaton bersifat anonim. Dalam tradisi kesusastraan Jawa Pertengahan, ketiadaan nama pengarang seperti ini merupakan hal yang sangat lazim.
Heri Purwanto mengulas perjalanan sejarah naskah ini. Sosok yang pertama kali meneliti dan menerjemahkannya adalah J.L.A. Brandes, seorang ahli aksara dan bahasa Jawa Kuno yang ditugasi pemerintah Hindia Belanda. Brandes menduga naskah ini ditulis pada 1613 Masehi, sementara peneliti Agung Kriswanto menduga angka tahun 1600 Masehi. Namun, kedua angka tahun tersebut dipahami sebagai tahun penyalinan, bukan tahun awal penyusunan.
Lantas, bagaimana kita tahu Pararaton bukan karangan bangsa Eropa? Penulis naskah Pararaton terbukti memiliki pengetahuan yang amat mendalam dan detail mengenai seluk-beluk sejarah Majapahit, bahkan hafal nama-nama desa kecil di kawasan Malang. Kerumitan geografi lokal dan konteks zaman seperti ini hampir mustahil difabrikasi oleh peneliti Belanda pada masa itu.
Dalam bukunya, Heri Purwanto menduga kuat bahwa Pararaton merupakan karya seorang Brahmana yang melarikan diri ke Bali saat terjadi gejolak dan huru-hara di istana Majapahit sekitar tahun 1478 Masehi. Di tanah Bali, sang Brahmana merangkai kembali riwayat para raja Tumapel–Majapahit berdasarkan ingatannya.
Meskipun perinciannya seringkali tidak selaras dengan isi prasasti, Heri Purwanto menunjukkan bahwa Pararaton tetap mengandung banyak kebenaran yang cocok dengan data sejarah lainnya. Gaya penyampaiannya pun amat unik; berbeda dengan Desawarnana, Pararaton mencatat setiap peristiwa sejarah secara lugas, blak-blakan, dan tegas.
Kisah Ken Angrok: Bedah Simbolis dan Detail Pendidikan
Bagi masyarakat awam, narasi dalam Pararaton seringkali terkesan menceritakan hal-hal yang tidak rasional. Mitos mengenai Ken Angrok yang digambarkan sebagai anak dewa, berhadapan langsung dengan Mahadewa, terbang menggunakan daun, hingga mengeluarkan kawanan kelelawar dari kepalanya kerap menimbulkan keraguan.
Di sinilah letak keunggulan buku Heri Purwanto. Melalui analisis kritis dan kajian simbolik yang kontekstual dengan pemikiran zaman klasik, Heri menegaskan bahwa kisah-kisah fantastis tersebut bukanlah dongeng hampa, melainkan bahasa legitimasi politik dan tradisi mistis masa lalu.
Selain itu, Heri Purwanto menyanggah pandangan umum bahwa masyarakat Jawa Kuno pada era Ken Angrok terisolasi dari pusat pendidikan. Ia memaparkan bahwa Ken Angrok dan Tuan Tita mengenyam pendidikan formal di lembaga kadewaguruan. Di tempat tersebut, mereka mempelajari materi yang cukup kompleks, mulai dari keaksaraan Jawa Kuno (aksara Kawi)—yang secara komprehensif disajikan tabelnya dalam buku ini—ilmu perbintangan (astronomi) untuk membaca musim, sakakala atau perhitungan kalender Saka, hingga pemahaman mendalam tentang wuku dan siklus penanggalan tradisional.
Ulasan mendalam dari Heri Purwanto membuat berbagai episode unik dalam hidup Ken Angrok—seperti saat ia tersesat, menjadi perajin emas dadakan, hingga narasi perjumpaan dengan para dewa—terjelaskan secara proporsional. Pendekatan berimbang ini memberikan perspektif baru bagi pembaca untuk memahami fase awal perjuangan Ken Angrok secara ilmiah dan sistematis.
Dinamika Sejarah Majapahit dan Refleksi Historiografi
Usai mengulas Ken Angrok secara mendalam, Heri Purwanto melanjutkan pembahasannya ke rekam jejak biografi serta dinamika para raja Majapahit. Melalui deretan bab ini, pembaca diajak melintasi garis waktu sejarah yang megah sekaligus dramatis—mulai dari perjuangan awal Raden Wijaya mendirikan Majapahit, puncak kemegahan di era pemerintahan Hayam Wuruk, hingga kritik mendalam atas peristiwa-peristiwa krusial seperti pemberontakan Nambi dan Perang Bubat.
Mengakhiri babak tersebut, Heri Purwanto membedah keruntuhan Majapahit secara kritis melalui komparasi ketat antara isi prasasti dan berbagai sumber sejarah sezaman. Tak kalah menarik, misteri mengenai sosok Prabu Brawijaya juga dikupas tuntas dalam buku ini. Heri Purwanto memberikan batasan yang amat jelas mengenai identitas sang raja; apakah beliau merupakan sosok historis nyata yang pernah memegang tampuk kekuasaan, ataukah sekadar tokoh kultural yang muncul dalam sastra dan tradisi lisan di masa belakangan.
Buku karya Heri Purwanto tentang Kitab Pararaton ini memberikan pelajaran berharga bahwa memahami sejarah tidak bisa dilakukan secara mentah dengan kacamata modern. Tuduhan bahwa Pararaton sekadar mitos, buatan kolonial, atau kumpulan kisah absurd terbukti gugur ketika naskahnya dibedah secara kritis. Unsur-unsur gaib dan alegoris dalam kisah Ken Angrok—seperti legitimasi keilahian maupun mitologi—harus dibaca sebagai bahasa simbolik dan tradisi penulisan zamannya untuk melegitimasi kekuasaan serta merekam peristiwa sejarah secara lugas.
Melalui pemaparan ini, kita diajak menyadari bahwa sejarah bukanlah ilmu pasti yang kaku dan statis, melainkan disiplin ilmu dinamis yang analisisnya terus berkembang. Diskusi mengenai pembandingan naskah dengan prasasti, penanggalan salinan (seperti riset Brandes dan Agung Kriswanto), hingga pencarian batas identitas historis versus kultural tokoh seperti Prabu Brawijaya memperlihatkan bahwa historiografi selalu terbuka terhadap temuan, komparasi, dan reinterpretasi data yang lebih sahih.
Bagi masa depan Indonesia, sikap ilmiah dan kritis dalam membedah sejarah memiliki peran yang sangat vital. Pertama; pendekatan ini penting untuk menangkal disinformasi dan klaim sepihak. Di era digital yang dipenuhi narasi tanpa data, masyarakat—termasuk kalangan akademisi—dituntut untuk tidak asal klaim atau mudah termakan narasi adu domba, sebab pembuktian sejarah wajib berlandaskan metodologi serta referensi yang kredibel.
Kedua; pemahaman ini mengajak kita menghargai akar kebudayaan secara rasional. Dengan memahami konteks pendidikan kuno (seperti penguasaan Aksara Kawi, Astronomi, Sakakala, dan Wuku di kadewaguruan), kita dapat melihat bahwa peradaban Nusantara masa lalu dibangun atas dasar pengetahuan yang komprehensif, bukan sekadar “logika mistika” tanpa pijakan.
Pada akhirnya, kesadaran historiografi ini menjadi pijakan kuat dalam membangun karakter bangsa. Memahami dinamika kejayaan hingga keruntuhan Majapahit memberi pelajaran berharga bagi keberlanjutan Indonesia agar dapat melangkah ke depan secara adaptif tanpa kehilangan akar sejarahnya.














