Advertisement

apijiwa.id – Mungkin, selama ini, sebagai pemirsa kita menganggap kemunculan pembaca berita atau news anchor berhijab adalah hal biasa. Namun, jika dicermati secara mendalam, sesungguhnya kehadirannya merupakan sebuah proses yang panjang dan tidak mudah. Di dalamnya terkait aspek sosial, ekonomi, juga politik.

Kondisi ini tercipta oleh berbagai kepentingan yang saling tarik-menarik, hingga kehadirannya menjadi sesuatu yang baru dan langka, karena baru sebagian kecil dari stasiun televisi yang memberikan kesempatan kepada penyiar atau presenter berhijab tampil di layar kaca.

Dulu, pernah ada pelarangan berjilbab di sekolah, universitas, instansi negeri dan swasta, termasuk lembaga penyiaran. Dalam perkembangannya, seiring orde reformasi yang membuka kebebasan menjalankan aturan agama dan pemahaman agama yang meningkat, banyak dijumpai perempuan yang mengenakan hijab. Saat ini, perempuan berhijab di ranah publik telah menjadi pemandangan yang biasa, termasuk di layar kaca.

Tantangan News Anchor Berhijab

Adi Permana Sidik, seorang dosen, akademisi, dan jurnalis, dengan jeli menangkap fenomena yang mungkin orang melewatkannya. Dengan ketajaman intuisinya, ia mencoba memotret sesuatu yang mungkin “bertabrakan” dengan kepentingan yang ada, jika hendak berbicara profitable.

Menurutnya, profesional ternyata tidak sekedar dibangun oleh skill dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja, namun juga harus terbangun oleh nuansa spiritual, terlebih berhijab merupakan ranah pribadi sebagai hak yang dijamin oleh UUD 1945.

Buku ini secara lengkap menyigi sejauh mana perempuan berhijab dihadapkan pada sebuah tantangan besar, di mana eksistensi news anchor yang menggunakan simbol keagamaan saat melaksanakan tugasnya sebagai profesi yang dipilihnya, ternyata masih bukan sesuatu yang mudah.

Kondisi itu mesti terlebih dulu berhadapan dengan aturan yang ada. Bahkan, tak mudah seorang news anchor yang berhijab mempertahankan eksistensinya bekerja dengan menggunakan hijabnya.

Begitu pun saat diperbolehkan, mereka masih harus berhadapan dengan dunia kerja yang mungkin belum bisa menerima sepenuhnya. Dan ketika hal itu dapat terpenuhi, ternyata masih harus berhadapan dengan publik sebagai pemirsa.

Ada yang menganggap news anchor berhijab sebagai sikap terlalu berlebih-lebihan karena memperlihatkan simbol agama di layar kaca. Ada juga yang menganggap sesuatu yang biasa saja, dan ada pula yang menganggap itu sebagai hal yang patut diacungi jempol sepanjang diiringi dengan profesionalisme saat menjalani pekerjaannya.

News Anchor dan Kepentingan Televisi

Bukti nyata dari realita yang ada, news anchor berhijab masih dapat dihitung dengan jari. Sebut saja Eva Yunizar, Yaumi Fitri, Rahma Hayuningdyah, dan Intan Destiana Helmi. Untuk bisa mendapatkan kesempatan tampil dengan hijabnya, bukanlah sesuatu yang mudah, yang menunjukkan urusan hijab masih memperhitungkan beberapa kondisi terkait dengan kepentingan dunia pertelevisian itu sendiri.

Kita maklum, televisi dinikmati publik, sehingga semuanya harus terkondisikan dengan baik. Jika publik menolak, dampaknya akan begitu besar kepada stasiun televisi sebagai lembaga penyiaran. Di sini, Adi Permana Sidik membuka mata pembaca dan memperlihatkan fakta bahwasannya news anchor berhijab yang muncul masih terhitung dengan jari.

Stasiun televisi yang sudah memberikan kesempatan kepada news anchor berhijab pun hanya empat stasiun televisi, meliputi TVRI, Net TV, TV One, dan CNN Indonesia, yang menjadi rujukan buku ini setidaknya hingga tahun 2023. Ini menandakan, siapa pun yang bekerja di ranah publik, khususnya di layar kaca, tetap memperhitungkan aspek bisnis.

Sebab jika perusahaan telivisi menerapkan aturan yang tidak sejalan dengan keinginan publik (dan pemilik modal), bisa saja publik atau pemirsa meninggalkannya. Karena itu pulalah, news anchor berhijab memang sebuah peluang seiring semangat spiritual tumbuh, namun di lain pihak, profesi ini menghadapi tantangan berat, karena bisa saja vonis untuk berhenti di tengah jalan sebagai kebijakan dari tempat dirinya bekerja, atau pilihan dirinya berhenti dari pekerjaannya, seperti yang terjadi pada Sandrina Malakiano.

Penulis buku ini termasuk berani dalam menyampaikan gagasannya bahwa mesti ada tempat bagi para news anchor berhijab untuk tampil di berbagai stasiun televisi, karena banyak host atau anchor berhijab yang memiliki kemampuan cukup mumpuni.

Menangkap Peluang dengan Optimis

Penulis berupaya mendorong siapa pun mereka yang berhijab, untuk selalu optimis, bahwa mereka tetap memiliki kesempatan mendapatkan peluang tampil di layar kaca. Syaratnya, mampu bekerja sama dengan tim, mampu menjaga penampilan, mampu tampil good looking di depan kamera, serta mampu melaksanakan tugasnya secara profesional. Sehingga penulis yakin, para news anchor berhijab, suatu hari kelak akan mendapatkan tempat tersendiri, baik di lingkungan kerja maupun di hati pemirsa.

Tentu saja, menurut penulis, hal ini baru sebatas awal dari sebuah perjuangan para news anchor berhijab untuk mendapatkan kesempatan tampil di layar kaca. Penulis tak ingin kondisi ini hanya sekedar tren yang tiba-tiba berhenti tanpa ada kepastian di kemudian hari.

Karena faktanya, banyak Muslimah yang potensial menjadi news anchor di stasiun televisi. Semua itu bukan tanpa alasan, karena sosok empat news anchor berhijab yang telah disebutkan, telah menunjukkan eksistensinya dan bisa bekerja secara profesional dengan penampilan yang tidak membosankan di mata pemirsanya. Mereka tampil luar biasa dan bisa menjadi contoh bagi yang ingin mengikuti jejaknya.

Buku ini sendiri terdiri dari 10 bab yang membahas berbagai aspek tentang dunia televisi, news anchor berhijab, beserta fenomena yang terjadi di dalamnya. Tidak lupa disertai dengan tabel dan gambar sebagai pendukung teks.

Penulis turut menghadirkan fakta dan data yang didapatkan melalui studi pustaka dan riset langsung untuk menunjukkan bahwa persoalan ini mesti mendapatkan perhatian dari stakeholder yang ada. Karena menjadi anchor adalah hak setiap orang di negeri ini, serta menggunakan hijab adalah ranah pelaksanaan syariat bagi seorang Muslimah yang taat kepada Tuhannya.

Jadi keduanya mesti bisa dipadukan agar mampu memberikan persembahan terbaik kepada publik yang tiada lain adalah pemirsa yang selalu menikmati tayangan televisi.

Buku ini bisa dibilang merupakan ikhtiar penulis agar para pengelola televisi membuka mata dan memberikan kesempatan kepada news anchor berhijab agar bisa bekerja secara baik dan profesional, serta peran sertanya dapat memberikan dampak positif bagi bangsa, karena dari merekalah tersampaikan apa yang mesti diketahui oleh khalayak di manapun mereka berada.

____________________

Data buku:
Judul Buku: Perempuan di Layar Kaca (Kisah dan Eksistensi News Anchor Berhijab di Dunia Televisi)
Penulis: Adi Permana Sidik
Penerbit: Queen Pustaka Nusantara, Riau
Cetakan: Pertama, November 2025
Tebal : ix + 147 halaman
ISBN: 978-634-04-5599-1

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.