Advertisement

apijiwa.id – Di balik gemerlapnya bakat Marselino Ferdinan di lapangan hijau, ada sosok “tangan dingin” yang sejarah hidupnya sekeras batu karang. Ia adalah Prof. Dr. Imam Syafii, seorang guru besar yang membuktikan bahwa kemiskinan hanyalah kerikil kecil bagi mereka yang memiliki tekad baja.

Lahir di Desa Jaddih, Bangkalan, Madura. Masa kecil Imam bukanlah tentang kemewahan. Untuk sekolah, ia harus berjalan kaki berkilo-kilometer. Agar seragamnya tidak basah oleh keringat, ia menitipkannya pada teman. Saat pulang, ia terpaksa “gandol” atau menumpang di bak truk gamping yang melintas. Tubuhnya seringkali memutih, tertutup debu batu kapur yang menyesakkan, namun impiannya tetap bersih dan terang.

Menukar Keringat dengan Ilmu di Pasar Genteng 

Titik balik perjuangannya dimulai saat ia nekad meminta izin kuliah. Sang ayah, yang hanya seorang tukang ledeng panggilan, hanya mampu membiayai pendaftaran di IKIP Surabaya (sekarang Unesa). Selebihnya? Imam harus bertarung sendirian di tanah rantau.

Demi menyambung hidup dan membiayai kuliahnya di Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Imam melupakan rasa gengsi. Ia bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Pasar Genteng, Surabaya.

Alhamdulillah, kepala pasarnya sangat baik. Saya diberi tempat tinggal di sana, asalkan saya mau menyapu dan membersihkan pasar,” kenangnya dengan rendah hati, sebagaimana penulis lansir dari Kompas.com.

Di antara tumpukan sampah pasar dan aroma sisa dagangan, Imam belajar dengan tekun. Motivasinya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk ke-delapan adiknya. Ia berjanji, jika ia bisa sarjana, maka seluruh adiknya pun harus meraih gelar yang sama.

Melahirkan Bintang Timnas 

Cinta Imam pada sepak bola membawanya melampaui batas-batas akademik. Kariernya meroket, dari pengurus PSSI hingga akhirnya dilirik oleh raksasa Spanyol, Real Madrid Foundation, untuk menjadi penanggung jawab akademi mereka di Sidoarjo.

Namun, Imam tak ingin sekadar bernaung di bawah nama besar dunia. Ia mendirikan Indonesia Soccer Academy (ISA). Dari tangan dinginnya, lahir 11 pemain kaliber Tim Nasional, termasuk bintang muda Marselino Ferdinan dan Hugo Samir.

Kini, di usianya yang menginjak 60 tahun, Imam telah mencapai puncak tertinggi akademis sebagai Guru Besar Bidang Kepelatihan Sepak Bola Usia Dini Fakultas Ilmu Olahraga Unesa (Universitas Negeri Surabaya).

Profesor yang Tak Lupa Akar 

Meski sudah menyandang gelar Profesor, Imam tak canggung turun ke lapangan melatih anak-anak kecil menggiring bola. Bagi putra Madura asli ini, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan sarana membentuk karakter dan attitude.

“Banyak orang bertanya, kenapa sudah Profesor masih mau mengajar anak kecil main bola? Ya karena dari situlah asal saya. Saya tidak akan pernah meninggalkannya,” tegasnya.

Kisah Prof. Imam Syafii adalah pengingat bagi kita semua: bahwa tidak peduli seberapa kotor debu gamping yang menempel di baju kita hari ini, atau seberapa lelah kita menyapu jalanan pasar, pendidikan dan ketekunan adalah “jembatan emas” menuju masa depan yang tak terbayangkan.

Facebook Comments Box

Penulis: Ahmad Muhli JunaidiEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.