apijiwa.id – Bagi jemaah haji dan umrah asal Indonesia, aroma rempah yang menguar dari gerai Albaik di Arab Saudi bukan sekadar urusan perut, melainkan memori kolektif yang mendalam. Kerinduan akan cita rasa tersebut seringkali dibawa pulang ke Tanah Air sebagai standar emas ayam goreng yang sulit ditemukan padanannya.
Di tengah pencarian masyarakat akan alternatif lokal yang mampu menandingi hegemoni raksasa fast-food global, lahirlah Almaz Fried Chicken pada 14 Juni 2024. Tanggal peluncuran ini bukan sekadar angka di kalender bisnis; Okta Wirawan, sang pendiri, sengaja memilih hari tersebut untuk memberi penghormatan pada hari ulang tahun almarhum ibunya.
Kehadiran Almaz bukan hanya sebuah fenomena kuliner baru, melainkan sebuah gerakan yang menyatukan nilai keluarga, kerinduan spiritual, dan semangat kemandirian ekonomi. Dalam waktu singkat, brand ini bertransformasi dari sebuah gerai di Bekasi menjadi sebuah pembicaraan nasional yang masif.
Mengobati Rindu Albaik
Almaz Fried Chicken memposisikan dirinya dengan tajam sebagai ” Ayam Goreng Saudi No. 1 di Indonesia “. Fokus utamanya adalah mereplikasi pengalaman sensorik makan ayam goreng di Timur Tengah, dengan bumbu rempah yang meresap hingga ke serat daging yang tetap juicy dan lembut.
Cita rasa autentik ini dikembangkan secara spesifik untuk memenuhi ekspektasi pelanggan yang menginginkan karakter rasa berbeda dari ayam goreng tepung gaya Barat. Almaz berhasil mengubah sebuah komoditas menjadi jembatan rasa yang membawa pelanggan kembali ke suasana Tanah Suci.
“Almaz membawa sentuhan rempah yang kuat dengan tekstur ayam yang juicy dan lembut untuk mengobati kerinduan masyarakat akan ayam goreng Albaik khas Saudi,” ungkap Okta Wirawan mengenai visi produknya.
Di balik angka ekspansi yang masif—lebih dari 130 outlet dalam satu tahun—tersimpan narasi tentang resiliensi yang panjang. Almaz adalah merek ke-8 yang dibangun oleh Okta Wirawan, sebuah pembuktian bahwa kesuksesan jarang sekali merupakan garis lurus, melainkan hasil dari kegagalan yang terus diperbaiki.
Okta menerapkan filosofi “pertumbuhan bambu” dalam menjalankan roda bisnisnya. Sebelum tumbuh menjulang dengan cepat, Almaz telah menancapkan akar yang kuat melalui riset mendalam dan pengalaman pahit saat mengelola brand sebelumnya seperti Kedai Abuya yang terdampak pandemi.

Keberhasilan Almaz adalah hasil dari “menyusun puzzle” infrastruktur operasional dan logistik yang matang selama belasan tahun berkarir di industri ritel besar. Kegagalan tujuh brand sebelumnya justru menjadi otot yang memungkinkan Almaz bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi pemain baru.
Salah satu pilar identitas yang membuat Almaz sangat dekat di hati konsumen adalah komitmen sosialnya yang transparan. Brand ini secara spesifik mengalokasikan 5% dari Operating Income (pendapatan operasional) untuk membantu masyarakat di Palestina serta berbagai kegiatan amal lokal.
Melalui program “Almaz Berbagi,” setiap gerai juga rutin membagikan makanan gratis dan paket sembako bagi masyarakat di sekitar lokasi outlet. Strategi ini menciptakan fenomena Conscious Consumerism di Indonesia, di mana setiap gigitan ayam goreng dirasakan sebagai bentuk solidaritas nyata.
Keterikatan emosional ini membuat konsumen merasa memiliki andil dalam misi kemanusiaan yang lebih besar. Bagi mereka, memilih Almaz bukan sekadar soal selera, melainkan sebuah pernyataan nilai bahwa bisnis harus memiliki napas sosial yang menghidupi sesama.
Menu yang Menantang Dominasi Barat
Almaz secara cerdik menawarkan variasi menu yang menjadi antitesis dari menu standar KFC atau McDonald’s. Mereka menggabungkan preferensi lokal Indonesia dengan identitas kuliner Saudi yang kuat untuk menciptakan diferensiasi pasar yang unik.
Beberapa keunggulan menu Almaz yang menjadi favorit pelanggan antara lain:
Pertama; Garlic Sauce. Saus bawang putih khas Timur Tengah yang menjadi identitas pembeda utama.
Kedua; Nasi Kebuli. Pilihan pendamping kaya rempah yang jauh lebih aromatik dibandingkan nasi putih biasa.
Ketiga; Bumbu Oranye. Karakteristik rempah yang meresap hingga ke tulang dengan warna oranye yang khas.
Keempat; Minuman Tematik. Sajian unik seperti Saudi Date Milk (susu kurma) dan Chocomilk Saudia yang memperkuat nuansa perjalanan religi.
Momentum Emas dan Strategi Fisik “Superstore”
Peluncuran Almaz bertepatan dengan momentum gerakan boikot terhadap brand internasional, namun kekuatannya tidak hanya mengandalkan sentimen pasar. Almaz melakukan langkah berani dengan konsep “Superstore”—mengambil alih lokasi-lokasi strategis yang dulunya ditempati oleh raksasa global.
Di Bandung, Almaz menggantikan eks-Burger King; di Bogor, mereka berdiri di bekas lahan Starbucks; sementara di PGC Cililitan, mereka menempati eks-KFC. Langkah ini secara simbolis dan fisik menunjukkan bahwa brand lokal kini siap menduduki ruang-ruang yang dulu dianggap sebagai domain eksklusif merek global.
Menariknya, narasi Almaz sebagai “pengganti brand global” lebih banyak didorong secara organik oleh masyarakat, bukan melalui kampanye pemasaran perusahaan. Spekulasi publik yang menyebut Almaz sebagai “brand Muhammadiyah” atau “PKS” karena warna oranyenya justru menjadi motor pertumbuhan yang tak terduga.
“Kami tidak pernah mengomunikasikan itu, tapi customer dan masyarakat yang menyebarkan narasi bahwa inilah pengganti KFC dan McD. Ada yang bilang brand dari Muhammadiyah atau PKS. Narasi-narasi itu berkembang sendiri di grup WhatsApp dan sosial media,” jelas Okta Wirawan dalam wawancara bersama IDN Times.
Dengan target ambisius mencapai lebih dari 200 outlet pada akhir tahun 2025, Almaz Fried Chicken telah membuktikan bahwa brand lokal mampu mengguncang pasar yang sangat jenuh. Keberhasilan ini bukan sekadar soal memindahkan konsumen dari brand Barat ke brand lokal, melainkan soal menawarkan nilai baru.
Perjalanan Almaz memberikan pelajaran penting bagi industri F&B di Indonesia. Apakah masa depan industri kini bukan lagi soal siapa yang paling besar, melainkan siapa yang paling mampu menyeimbangkan antara kualitas produk yang autentik dengan nilai-nilai kemanusiaan yang relevan secara lokal?
Almaz telah membuktikan bahwa ketika sebuah bisnis dibangun dengan akar yang kuat, strategi yang matang, dan misi yang tulus, ia tidak hanya tumbuh—ia akan menjadi bagian dari identitas masyarakatnya.












