apijiwa.id – Aroma rendang yang mendunia seringkali terbentur oleh dinding lemak dan hambatan struktural pada rantai pasok. Selama puluhan tahun, kuliner tradisional Indonesia—khususnya masakan Padang—terjebak dalam sebuah paradoks: ia dipuja sebagai makanan terlezat di dunia, namun sekaligus diberi label “zona merah” bagi kesehatan karena kadar kolesterolnya yang tinggi. Di sisi lain, masa simpan yang singkat menjadi tembok besar bagi ekspansi global.
Namun, stigma tersebut kini resmi terpatahkan melalui sebuah rekonsiliasi cerdas antara warisan leluhur dan ilmu pengetahuan. Di panggung IMA UMKM Award 2023, dua entitas kreatif—DBFoods dan Imago Raw Honey—berhasil membuktikan bahwa inovasi adalah kunci untuk menembus ortodoksi kuliner. Kemenangan mereka atas 475 peserta lainnya bukan sekadar perayaan kemenangan finansial, melainkan sebuah manifestasi dari visi global UMKM yang berani mendobrak batas tradisi.
Revolusi “Healthy Minang”: Ketika Rendang Menjadi Low Fat
Pivot strategis yang dilakukan oleh DBFoods adalah sebuah langkah berani dalam menyentuh “pakem” resep warisan demi relevansi pasar modern. Melalui riset dan pengembangan (R&D) yang mendalam, mereka meluncurkan varian “Low Fat” dan “Less Salt”—menjadi yang pertama di Indonesia untuk kategori masakan Minang siap saji.
Analisis pasar menunjukkan bahwa inovasi ini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk menembus pasar premium dan internasional. Pasar Barat serta jaringan ritel kelas atas seperti Ranch Market (di mana 70% produknya adalah impor) memiliki standar nutritional labeling yang sangat ketat. Tanpa pengurangan lemak dan garam, rendang tradisional sulit memenuhi syarat kesehatan global. DBFoods berhasil mempertahankan autentisitas rasa yang telah dijaga sejak tahun 1969, sambil membuka gerbang bagi konsumen yang sadar kesehatan.
“Ketika lulus kuliah pada tahun 2009, saya melihat peluang bisnis dari modernisasi dan penerapan teknologi pangan pada usaha makanan padang keluarga yang saat itu masih diproduksi secara tradisional. Maka dari itu, saya pilih pulang ke Padang, dan belajar mengolah resep warisan sekaligus memodernisasi proses produksinya.” — Herry Kurniadi, Founder DBFoods.
Melawan Batas Kedaluwarsa: Teknologi Vacuum dan Masa Simpan 6 Bulan
Hambatan klasik UMKM makanan adalah logistik. DBFoods menjawab tantangan ini dengan mengadopsi teknologi vacuum pouch dan pengemasan individual yang higienis. Inovasi ini memungkinkan produk mereka bertahan hingga 6 bulan di luar kulkas tanpa menggunakan bahan pengawet kimia, MSG, maupun protein hewani tambahan.

Solusi teknis ini menjadi kunci utama bagi DBFoods untuk membuka gerbang pasar spesifik dengan potensi yang sangat masif. Di sektor religi, DBFoods secara strategis menargetkan penguasaan 20% pangsa pasar makanan siap saji bagi jemaah Haji dan Umrah pada periode 2026–2030. Langkah ini diambil untuk memenuhi kebutuhan logistik jemaah yang memerlukan hidangan praktis tanpa mengorbankan kualitas rasa tradisional.
Selain membidik pasar domestik dan jemaah, keunggulan teknis ini juga dirancang untuk memfasilitasi ekspansi internasional melalui ekspor regional. Standardisasi yang tinggi akan memudahkan penetrasi pasar ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Kedua negara tersebut dikenal memiliki regulasi dan standar keamanan pangan yang sangat ketat, yang kini dapat dipenuhi dengan baik oleh DBFoods.
Seluruh target ambisius tersebut didukung penuh oleh peningkatan kapasitas industri yang signifikan. Dengan mengoperasikan rumah produksi baru, kapasitas produksi DBFoods kini mampu mencapai 8 ton per bulan. Lonjakan volume ini tidak hanya memenuhi lonjakan permintaan pasar, tetapi juga mengukuhkan posisi DBFoods sebagai produsen Dendeng Balado terbesar di Indonesia.
Resiliensi: Evolusi Tiga Generasi dari Titik Nol
Penting untuk dipahami bahwa kesuksesan Herry Kurniadi bukanlah fenomena semalam. Ia adalah generasi ketiga yang memodernisasi resep keluarga yang sudah ada sejak 1969. Namun, perjalanan modernisasi ini sempat dihantam badai besar. Herry harus merelakan seluruh aset perusahaannya terjual habis demi membiayai pengobatan orang tuanya.
Kehilangan aset berharga tidak membuat pendiri DBFoods menyerah. Ia justru merefleksikan nilai kegagalan tersebut sebagai fase “persiapan” mental dan operasional menuju skala bisnis yang jauh lebih besar. Berbekal kejujuran finansial dan disiplin yang ketat pasca-kegagalan, proses rekonstruksi modal pun dimulai secara mandiri. Bisnis ini dibangun kembali dari nol menggunakan modal pribadi sebesar Rp2,5 juta, yang kemudian ditambah dengan dana patungan dari rekan-rekan sebesar Rp7,5 juta. Total modal awal Rp10 juta tersebut dialokasikan secara efisien untuk pengadaan peralatan produksi dasar.
Langkah disiplin tersebut membuahkan transformasi luar biasa pada skala dan volume bisnis DBFoods saat ini. Dari yang awalnya hanya beroperasi di dapur rumahan, kini DBFoods telah menjelma menjadi entitas bisnis mapan dengan omzet mencapai Rp4,2 miliar per tahun, atau sekitar Rp350 juta per bulan.
Skalabilitas ini didukung oleh volume produksi yang stabil di angka 140.000 pack per tahun. Dengan menetapkan harga yang sangat kompetitif, yaitu Rp30.000 per pack, DBFoods berhasil mengukuhkan posisinya di pasar sekaligus membuktikan bahwa kegagalan adalah batu loncatan menuju kesuksesan yang terukur.
“Superfood” Lokal Menembus Amerika: Strategi Imago Raw Honey
Jika DBFoods merevolusi makanan olahan, Imago Raw Honey berhasil memposisikan kekayaan hayati Indonesia sebagai komoditas global. Mereka mengkurasi madu murni dari kawasan Gunung Gede Pangrango hingga hutan-hutan di Jawa Tengah untuk menghasilkan produk premium yang kini telah menembus pasar Amerika Serikat.
Keberhasilan Imago terletak pada penajaman fungsi produk yang relevan dengan kebutuhan dunia pasca-pandemi. Melalui produk unggulannya, Imago Detox Honey (Itox), mereka tidak sekadar menjual madu, melainkan menjual solusi “imunitas” dan “detoksifikasi”. Strategi branding sebagai superfood fungsional inilah yang membuat produk lokal ini mampu bersaing dengan standar kualitas di pasar Amerika Serikat yang sangat kompetitif.
Kekuatan Ekosistem: Peran Strategis Pemberdayaan Perbankan
Keberhasilan yang diraih oleh DBFoods dan Imago tidak terjadi di ruang hampa, melainkan lahir dari dukungan ekosistem yang solid. Ada peran krusial dari jejaring pendukung seperti Indonesia Marketing Association (IMA) serta pendampingan intensif dari BRI melalui program Pengusaha Muda BRILiaN. Sinergi ini memberikan manfaat konkret yang menjadi stimulus utama bagi kedua UMKM tersebut untuk “naik kelas” secara akseleratif.
Salah satu dampak paling signifikan dari program ini adalah modernisasi visual pada lini produk mereka. Melalui pembaharuan desain dan tampilan kemasan, produk DBFoods dan Imago kini tampil lebih estetis, profesional, dan relevan dengan selera pasar premium serta siap bersaing di kancah internasional. Peningkatan aspek visual ini juga diimbangi dengan pembenahan manajemen profesional, di mana para pelaku usaha dibekali pelatihan tata kelola bisnis yang akuntabel serta strategi pemasaran berbasis data (data-driven marketing).
Tidak berhenti pada kesiapan internal, program Pengusaha Muda BRILiaN juga membuka akses pasar yang lebih luas melalui fasilitasi business matching. Program ini secara aktif mempertemukan para pelaku UMKM dengan jejaring korporasi besar dan mitra strategis. Langkah ini terbukti efektif dalam memperluas jalur distribusi, membuka peluang kolaborasi baru, dan mempercepat penetrasi produk ke pasar skala nasional maupun global.
“Dalam kondisi yang semakin kompetitif, UMKM adalah tulang punggung ekonomi kita, sekaligus penyedia lapangan kerja yang penting. Kami berkomitmen memberikan platform bagi UMKM Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional.” — Erik Hidayat, VP SME and Entrepreneurship IMA Pusat.
Masa Depan Kuliner Tradisional di Panggung Dunia
Perjalanan DBFoods dan Imago Raw Honey menegaskan satu hal: tradisi tidak harus statis. Warisan kuliner Minang dari tahun 1969 atau madu hutan dari lereng gunung dapat menjadi komoditas global yang kompetitif asalkan ada keberanian untuk melakukan modernisasi melalui teknologi pangan dan strategi pemasaran yang jeli.
Teknologi adalah jembatan yang menghubungkan kearifan lokal dengan standar kesehatan global. Keberhasilan ini adalah bukti bahwa dengan visi yang kuat, UMKM Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu memimpin di pasar internasional. Kini, saatnya bagi Anda, para calon inovator, untuk mengambil peran dan menciptakan inovasi nyata yang mampu membawa warisan lokal di sekitar Anda berbicara di panggung dunia.












