Advertisement

apijiwa.id – Pandemi COVID-19 adalah masa di mana “kemapanan” menjadi ilusi. Di saat raksasa kuliner dipaksa merumahkan ribuan karyawan dan menutup gerai legendaris mereka, sebuah anomali muncul dari sudut Yogyakarta. Roti Gembong Gedhe, sebuah jenama yang semula hanya berupa toko roti kecil di Gejayan, justru meledak dan melakukan ekspansi masif di saat mobilitas manusia sedang dibatasi ketat.

Fenomena ini bukan sekadar keberuntungan. Di baliknya, terdapat narasi tentang resiliensi keluarga dan kecerdasan strategi bisnis yang dijalankan oleh dua bersaudara, Rifawan Pradipta Kusuma (Adip) dan Afan Syahdana. Berawal dari upaya bertahan hidup, kini mereka berhasil mengomandoi jaringan yang menggurita dengan lebih dari 170 cabang di seluruh Pulau Jawa.

Membawa Tradisi Bangsawan ke Pasar Massal

Strategi fundamental Roti Gembong Gedhe adalah mengambil nilai eksklusivitas masa lalu dan mengubahnya menjadi konsumsi massal yang relevan. Berasal dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, roti gembong dulunya merupakan hidangan mewah yang hanya tersaji di meja para raja dan bangsawan sejak tahun 1575.

Adip melihat potensi besar dalam narasi “makanan jadul” ini. Ia melakukan demokratisasi terhadap kemewahan tersebut—sebuah konsep Democratic Luxury—di mana kualitas rasa premium dapat dinikmati oleh siapa saja dengan harga yang sangat terjangkau (Rp12.000 – Rp17.000). Yogyakarta, dengan karakter masyarakat yang menghargai nostalgia dan autentisitas, menjadi laboratorium pasar yang sempurna.

“Kami percaya bahwa dengan membawa nilai tradisi Indonesia serta menjaga kualitas bahan dan rasa, kami dapat mengangkat cita rasa kuliner roti bangsawan sehingga dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia.”

Dari Hobi Balap Menuju Kemandirian

Keberhasilan Roti Gembong Gedhe berakar pada tekanan yang melahirkan kreativitas—sebuah resiliensi psikologis. Bisnis ini lahir karena “ultimatum” sang ayah, Ery Yulianto Kusumo, kepada Adip: jika ingin terus menekuni hobi balap motornya, ia harus membiayainya secara mandiri.

Semangat “modal nekat” ini semakin kuat saat Afan Syahdana terpaksa pulang dari studinya di Singapura akibat lockdown pada Februari 2020. Dengan sisa uang sakunya, Afan tidak memilih untuk menunggu badai berlalu, melainkan langsung terjun membantu sang kakak. Bagi mereka, keterbatasan modal finansial bukan hambatan, melainkan pemicu untuk bergerak lebih gesit.

“Tidak usah menjadikan modal sebagai alasan. Paling penting itu modal dengkul, modal nekat, berani, dan aksi dulu. Karena Tuhan bersama anak-anak muda yang nekat.” — Afan Syahdana.

Struktur Kuat di Balik Identitas “Gedhe”

Momen penting terjadi pada Februari 2020, saat bisnis biro perjalanan umrah sang ayah terpuruk akibat pandemi. Seluruh anggota keluarga memutuskan untuk fokus total pada bisnis roti ini. Identitas merek pun dipertajam. Nama “Gedhe” (Besar) dipilih berdasarkan ide sang ayah yang sudah lama dipendam—sebuah nama yang memenuhi syarat utama retail: sederhana, deskriptif, dan sangat mudah diingat.

Pembagian peran dilakukan secara cermat dan terukur demi menjaga pertumbuhan bisnis yang eksponensial. Adip berfokus penuh pada sisi operasional dan produksi guna memastikan dapur tetap berjalan stabil. Sementara itu, Afan memegang kendali pemasaran dengan memanfaatkan media sosial secara organik untuk membangun kesadaran merek. Di sisi lain, Sang Ibu (Bu Fajar) bertanggung jawab mengelola antrean kemitraan yang kian membeludak.

Kemitraan Semi-Autopilot dan Clustering Strategy

Salah satu mesin penggerak utama pertumbuhan mereka adalah model kemitraan “tahu beres”. Berbeda dengan franchise konvensional, Roti Gembong Gedhe menggunakan sistem Semi-Autopilot. Investor cukup menanamkan modal sekitar Rp225 juta hingga Rp285 juta, sementara operasional, SDM, hingga laporan keuangan harian dikelola langsung oleh pusat.

Sistem bagi hasilnya pun sangat menarik: 10% dari omzet bruto, bukan laba bersih. Hal ini memberikan transparansi dan kepastian bagi mitra. Untuk memperkuat logistik dan brand awareness, mereka menerapkan Clustering Strategy—membuka cabang-cabang yang berdekatan dalam satu area sebelum berpindah ke wilayah lain.

Strategi ini terbukti efektif menjaga efisiensi distribusi bahan baku dan kini telah mencatatkan volume penjualan fantastis mencapai 30.000 potong roti per hari.

Handmade di Tengah Gempuran Otomatisasi

Di era di mana efisiensi sering mengorbankan rasa, Roti Gembong Gedhe tetap obsesif pada kualitas. Mereka sempat mencoba menggunakan mesin produksi dari China demi mengejar skala, namun akhirnya kembali ke metode handmade karena mesin gagal memenuhi standar tekstur yang diinginkan.

Penggunaan bahan baku tidak main-main; mentega (butter) dan susu didatangkan langsung dari New Zealand. Strategi pemasaran mereka pun unik, yakni “berani rugi” di awal. Roti yang tidak habis terjual hari itu tidak pernah dijual kembali esok hari, melainkan dibagikan gratis kepada warga sekitar sebagai alat branding organik. Kini, inovasi produk mereka terus berkembang dengan varian best-seller seperti Nucomaltine yang crunchy dan Abon Mayo.

“Meskipun harga bahan baku di pasar bergejolak, komitmen kami adalah tetap mempertahankan kualitas bahan baku terbaik agar pelanggan selalu mendapatkan tekstur roti yang lembut dan aroma yang menggugah selera.”

Masa Depan Roti Jadul di Era Digital

Roti Gembong Gedhe adalah bukti bahwa produk tradisional yang dikelola dengan manajemen modern dan keberanian mengambil risiko dapat menjadi pemenang krisis. Dengan rencana ekspansi ke seluruh penjuru Indonesia, “roti bangsawan” ini sedang bertransformasi menjadi kekuatan baru dalam industri bakery nasional.

Kisah mereka meninggalkan sebuah refleksi mendalam: di tengah ketidakpastian ekonomi yang mungkin kembali melanda, pilihan ada di tangan kita untuk tidak sekadar diam dan mengeluh, melainkan berani melompat dengan “modal nekat” demi menciptakan peluang baru.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.