| Informasi Buku | Detail Spesifikasi |
| Judul | Desawarnana: Saduran Kakawin Nagarakertagama Untuk Bacaan Remaja |
| Penyadur | Mien Ahmad Rifai |
| Penerbit | Komunitas Bambu |
| Tahun Terbit | 2017 |
| Jumlah Halaman | 112 hlm + xii |
| ISBN | 978-602-9402-77-3 |
apijiwa.id – Suatu waktu, ketika saya masih aktif mengajar di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di sebuah instansi pendidikan daerah di Kota Lumpia, sebuah peristiwa kecil terjadi di dalam kelas. Di tengah pelajaran yang sedang saya ampu—meskipun saat itu bukan jam pelajaran sejarah—seorang siswa yang cukup kritis tiba-tiba mengangkat tangan dan bertanya, “Pak, tadi ada guru sejarah yang menjelaskan bahwa kita bisa melihat kemegahan Majapahit di era Hayam Wuruk melalui Kitab Nagarakretagama. Apakah sekarang kitab itu masih ada, Pak?”
Mendengar pertanyaan yang cukup berbobot itu, saya menjawab, “Oh, Kitab Nagarakretagama asli yang berbentuk lontar tentu saja ada di Perpustakaan Nasional. Namun, ada juga banyak buku saduran dari kitab tersebut. Besok pagi, saya akan membawakan saduran Kitab Nagarakretagama versi yang sangat cocok untuk siswa SMK. Kita bahas bersama-sama setelah itu. Tugasnya adalah menggambar candi atau Mpu Prapanca, ya! Siapa yang tidak mengerjakan, wajib menyanyikan lagu JKT48 di halaman sekolah saat istirahat.”
Seketika itu juga, suasana kelas langsung pecah oleh gelak tawa riuh para siswa. Waktu terus berjalan hingga hari ini, dan masih banyak orang yang bertanya kepada saya, “Kalau mau membaca saduran Kitab Nagarakretagama, di mana, ya?”
Desawarnana yang Terlupa: Seperti Cinta yang Kandas
Seringkali, sejarah dan budaya hanya dijadikan pajangan semata atau sekadar kisah masa lalu yang tak pernah dikemas agar relevan dengan kehidupan hari ini. Akibatnya, akar kebangsaan kita seolah-olah terlupakan begitu saja.
Bagi saya, fenomena ini terjadi akibat adanya keterputusan budaya (cultural disconnect). Salah satu penyebab utamanya adalah ketidakmampuan kita untuk membaca, memahami, atau menyelami ajaran dan catatan berharga yang ditinggalkan oleh para leluhur bangsa.
Kondisi serupa terjadi pada karya fenomenal yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Beliau adalah sosok yang menyaksikan dan mengalami secara langsung kemegahan Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Meskipun Mpu Prapanca menulis kitab tersebut dalam kesendirian, beliau berhasil mencatat secara sangat terperinci berbagai aspek kehidupan di era Majapahit, mulai dari lingkungan istana, tradisi masyarakat, perjalanan suci bersama Hayam Wuruk, hingga berbagai peristiwa penting lainnya.
Perlu diketahui bahwa Desawarnana sebenarnya adalah nama asli dari kitab yang selama ini lebih populer kita kenal dengan nama Nagarakretagama. Di sekolah-sekolah, mungkin banyak guru yang sering bercerita tentang kebesaran kitab ini. Kendati demikian, tidak banyak guru yang secara khusus menceritakan detail isinya atau mengenalkan buku sadurannya kepada para siswa.
Hal tersebut tentu saja wajar terjadi, dan saya sama sekali tidak menyalahkan para guru. Bagaimanapun juga, iklim kurikulum di dunia pendidikan kita memang belum fully membimbing siswa untuk menjadi seorang pengamat atau peneliti kritis, meskipun istilah kurikulum sering berganti-ganti.
Kembali membahas mengenai Desawarnana atau Nagarakretagama, kitab aslinya berbentuk keropak lontar yang ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno, serta terikat dalam bentuk kakawin atau puisi tradisional.
Mpu Prapanca menulis mahakarya ini di tengah keterasingan, kesendirian, kesedihan, dan kesunyian di sebuah tempat bernama Kamalasana, jauh dari ibu kota Majapahit. Sebelumnya, Mpu Prapanca menjabat sebagai ketua urusan agama Buddha di Kerajaan Majapahit. Namun, karena suatu hal, beliau memilih meninggalkan ibu kota untuk menjemput kesunyian yang menemani proses penulisan kitab fenomenal ini. Di sinilah, dalam keterasingan, sang pujangga agung yang memiliki nama asli Dang Acarya Nadendra menorehkan karya abadi yang terus dikenang sepanjang masa.
Naskah Desawarnana sampai kepada kita dalam bentuk keropak lontar yang tertulis dalam bahasa Jawa Kawi dan menggunakan aksara Bali. Keropak itu ditemukan sewaktu tentara kolonial Belanda menjarah Puri Cakranegara di Pulau Lombok pada tahun 1894. Selama berpuluh-puluh tahun, keropak itu merupakan satu-satunya naskah Desawarnana yang diketahui orang. Namun, pada tahun 1978, ditemukan lagi empat keropak serupa di beberapa tempat di Bali, yang keseluruhannya merupakan turunan dari naskah yang lebih tua. Naskah Cakranegara sendiri bertahun 1740, sedangkan Mpu Prapanca secara jelas merampungkan Desawarnana pada tahun 1365.
Menikmati Desawarnana Melalui Saduran Mien A. Rifai
Bagi pembaca yang ingin menikmati karya ini dengan cara yang lebih ringan, salah satu saduran yang sangat baik adalah buku karya Mien Ahmad Rifai.
Mien Ahmad Rifai sebenarnya adalah seorang ilmuwan terkemuka di bidang botani. Meskipun demikian, sosok yang akrab disapa Pak Mien ini memiliki keahlian mendalam di bidang kebudayaan, khususnya kesusastraan. Beliau bahkan tercatat sebagai anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Sepanjang hidupnya, Pak Mien telah menerima berbagai penghargaan bergengsi di bidang riset, pendidikan, dan kebudayaan. Latar belakang inilah yang membuat Pak Mien dikenal luas tidak hanya sebagai ilmuwan botani, tetapi juga sebagai budayawan ulung.
Mien Ahmad Rifai menghadirkan kembali catatan-catatan penting Mpu Prapanca dalam bentuk saduran yang terasa sangat unik. Apa yang membuatnya unik? Kitab Desawarnana dikemas dengan pilihan bahasa yang ringan, cair, dan sangat mudah dipahami oleh siapa saja, terutama para pelajar. Bahkan, masyarakat yang sedang bersantai di warung kopi pun bisa membahas saduran kitab ini hingga pagi menyapa.
Memang benar bahwa Pak Mien tidak mencantumkan bait demi bait pupuh secara utuh sebagaimana para penyadur akademik lainnya. Namun, justru strategi penulisan inilah yang menjadi daya tarik utamanya. Melalui buku saduran ini, kita dapat mengenal catatan sejarah Mpu Prapanca dengan cara yang jauh lebih menyenangkan (happy and fun).
Bagaimanapun juga, sejarah dan budaya memang seharusnya dikemas sedemikian rupa agar tetap hidup, dicintai, dan dimaknai oleh generasi penerus sepanjang matahari masih bersinar, sehingga akar kearifan bangsa ini tidak redup seperti hati yang trauma oleh masa lalu yang kandas.
Secara garis besar, buku saduran karya Mien Ahmad Rifai ini merangkum narasi keemasan Majapahit secara utuh dan runut. Pak Mien membukanya dengan menelusuri silsilah serta dinamika keluarga Sang Prabu Hayam Wuruk, sebelum akhirnya memboyong pembaca melangkah lebih jauh menyelami kemegahan fisik Istana Majapahit dan tata ruang ibu kotanya. Tidak berhenti pada lanskap megah kerajaan, pembaca juga diajak menyusuri lorong-lorong waktu untuk menyaksikan langsung dinamika tradisi unik yang hidup di tengah masyarakatnya.
Keintiman narasi ini kian terasa saat Pak Mien merekam jejak perjalanan panjang Hayam Wuruk kala menyapa daerah-daerah bawahannya. Rangkaian riwayat tersebut kemudian dipungkasi oleh kisah dramatis yang sarat emosi, yakni detik-detik berpulangnya Sang Mahapatih Gajah Mada ke pangkuan Sang Pencipta.
Menutup Jarak, Menanam Jejak
Buku saduran karya Mien Ahmad Rifai ini menawarkan jalan keluar yang menyegarkan di tengah keringnya apresiasi terhadap warisan leluhur. Sejarah dan budaya bangsa tidak semestinya berhenti menjadi pajangan kaku di dalam lemari museum atau sekadar hafalan ujian yang lekas dilupakan begitu lembar jawaban dikumpulkan. Lebih dari itu, narasi masa lampau mampu dihadirkan kembali sebagai kompas untuk membaca realitas kehidupan hari ini yang kerap terasa membingungkan.
Keterputusan budaya (cultural disconnect) yang melanda masyarakat kita hari ini telah melahirkan berbagai krisis yang nyata. Kita kerap menyaksikan hilangnya integritas publik, maraknya praktik korupsi, hingga mentalitas masyarakat yang mudah rapuh akibat terjebak dalam lingkaran janji-janji manis kampanye yang berujung pada kekecewaan. Dalam keseharian yang penuh retorika kosong, masyarakat seringkali menjadi korban ilusi kemakmuran sesaat.
Di sinilah relevansi Desawarnana alias Nagarakretagama melalui sentuhan ringan Mien Ahmad Rifai menemukan urgensinya. Ketika sejarah didekatkan dengan cara yang cair, humanis, dan membumi, ia bertransformasi menjadi ruang refleksi yang menyadarkan kita bahwa sebuah peradaban besar tidak dibangun dalam waktu semalam, melainkan melalui keringat, ketekunan, dan fondasi nilai yang kokoh.
Mungkin kita tidak akan pernah menjadi seorang rakawi atau pujangga yang piawai merangkai bait-bait sastra agung seperti Mpu Prapanca. Namun, dengan meluangkan waktu untuk menelusuri jejak-jejak sejarah bangsa ini, setidaknya kita memiliki daya tahan mental dan nalar kritis yang lebih kuat. Pemahaman mendalam terhadap akar budaya sendiri akan menghindarkan kita dari rasa trauma masa lalu, sekaligus membentengi diri agar tidak mudah goyah atau tertipu oleh janji-janji palsu di ruang-ruang kekuasaan saat ini.















