apijiwa.id — Kemampuan menulis, membaca, menyimak, dan berbicara dalam bahasa Jawa mengantarkan Parista Karimatun Larasati, murid kelas XII D MAN 1 Yogyakarta, meraih juara pertama Olimpiade Bahasa Jawa tingkat SMA/MA se-Daerah Istimewa Yogyakarta.
Parista menjadi yang terbaik setelah melewati babak final yang berlangsung selama tiga hari, Rabu–Jumat (9–11 September 2026), di Hotel Ibis Adisucipto Yogyakarta. Kompetisi ini mempertemukan peserta terbaik yang sebelumnya lolos dari babak semifinal sebagai wakil dari kabupaten/kota di DIY.
Di babak penentuan, peserta menghadapi empat bentuk pengujian, yakni menulis, membaca, mendengar, dan berbicara. Model ujian tersebut membuat peserta tidak cukup hanya memahami konsep bahasa Jawa, tetapi juga dituntut mampu menggunakan bahasa secara tepat dalam berbagai situasi.
Tantangan semakin kompleks karena materi lomba memiliki cakupan yang luas. Selain kurikulum Bahasa Jawa tingkat SMA/SMK/MA di DIY, peserta harus menguasai pengetahuan mengenai bahasa, sastra, budaya, dan kearifan lokal Yogyakarta. Sejumlah soal juga menggunakan aksara Jawa.
Pengetahuan tentang unggah-ungguh, subasita, tata krama, dan undha-usuk basa menjadi salah satu bagian penting yang diujikan. Peserta juga berhadapan dengan materi tentang Yogyakarta, mulai dari Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman, sumbu filosofi dan garis imajiner, hingga batik, kuliner, seni pertunjukan, wisata budaya, toponimi, dan gastronomi.
Pada ranah bahasa dan sastra, materi mencakup macapat, tembang dolanan, pop Jawa, paribasan, bebasan, saloka, sanepa, sengkalan, cangkriman, wangsalan, dan dasanama. Pengetahuan tentang pujangga Jawa beserta karya-karyanya, tembung dan ukara, istilah tumbuhan serta anak hewan, hingga kosakata pertanian juga menjadi bagian dari kompetisi.
Aspek seni dan budaya turut memperluas medan yang harus dikuasai peserta. Upacara tradisional, seni pertunjukan, kalender Sultan Agung, busana tradisional Jawa, wayang, dan gamelan termasuk dalam materi yang diujikan.
Guru Bahasa Jawa MAN 1 Yogyakarta sekaligus pendamping Parista, Dina Wahyuningtyas, S.Pd., mengatakan bahwa persaingan pada babak final cukup ketat karena peserta yang tampil merupakan representasi terbaik dari masing-masing kabupaten/kota.
“Para peserta yang tampil di babak final merupakan peserta unggulan dari masing-masing kabupaten/kota. Karena itu, persiapannya membutuhkan usaha yang luar biasa. Parista belajar dengan tekun dan memperkuatnya dengan doa,” ujar Dina.
Performa peserta dinilai oleh tim juri dari sejumlah unsur yang memiliki kompetensi di bidang bahasa, sastra, dan budaya Jawa, di antaranya Balai Bahasa, Komunitas Aksara Jawa King Cobra, guru Bahasa Jawa tingkat SMK, serta komunitas pegiat aksara dan budaya Sego Jabung.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd. Menurutnya, prestasi Parista menunjukkan bahwa penguasaan bahasa dan budaya daerah tetap memiliki ruang penting dalam pengembangan kompetensi murid.
“Prestasi Parista menjadi bukti bahwa penguasaan bahasa, sastra, dan budaya Jawa dapat berjalan seiring dengan capaian akademik lainnya. Kami mengapresiasi ketekunan Parista dan pendampingan guru yang telah mengantarkannya meraih hasil terbaik,” ujar Edi.
Ia berharap capaian tersebut tidak berhenti sebagai prestasi personal, tetapi turut mendorong murid lain untuk mengenal dan mengembangkan potensi di bidang bahasa serta kebudayaan daerah.
“Kami berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi murid MAN 1 Yogyakarta untuk terus mengembangkan potensi sekaligus memiliki kepedulian terhadap bahasa dan budaya daerah sebagai bagian dari identitas Yogyakarta,” lanjutnya.
Gelar juara pertama yang diraih Parista menambah catatan prestasi MAN 1 Yogyakarta di bidang bahasa dan budaya. Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kompetisi bahasa daerah menuntut lebih dari sekadar kemampuan berbahasa, melainkan juga keluasan wawasan, ketelitian, dan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.















