Advertisement

apijiwa.id – Di tengah perdebatan rencana eksplorasi panas bumi di lereng Gunung Ungaran yang kembali menghangat dan memicu kekhawatiran publik, tersimpan persoalan lain yang tidak kalah penting. Proyek dengan target pengeboran hingga kedalaman kurang lebih 2.000 meter demi menghasilkan daya listrik sebesar 55 megawatt tersebut bukan sekadar memicu kecemasan terkait isu lingkungan dan ancaman terhadap keberlangsungan sumber mata air. Para pemerhati sejarah dan kebudayaaan turut menyuarakan keprihatinan mendalam karena kawasan lereng Gunung Ungaran menyimpan kekayaan sejarah masa klasik Nusantara yang masih underrated—sangat rentan tergerus oleh masifnya pembangunan infrastruktur energi modern.

Situasi tersebut secara langsung mengingatkan kita pada kawasan Desa Candirejo, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Wilayah ini menyimpan banyak jejak peradaban masa lalu yang belum sepenuhnya dieksplorasi oleh para peneliti. Setidaknya, terdapat empat titik situs berupa artefak batu masa klasik yang tersebar di desa ini. Keberadaan situs-situs tersebut merupakan bukti autentik tingginya peradaban masa lampau yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan, bukan justru terabaikan di tengah hiruk-pikuk modernisasi serta ekspansi proyek industri yang masif.

1. Situs Yoni Jalan Prambanan

Menyusuri jalanan Desa Candirejo, embusan angin lereng Gunung Ungaran yang sejuk menyapa, membawa aroma khas pegunungan yang menenangkan jiwa. Di sinilah, tepat di kompleks pangkalan gas LPG lokal di kawasan Jalan Prambanan, Situs Yoni berada dalam diamnya yang panjang.

Sebuah artefak yoni tanpa lingga tergeletak begitu saja tanpa perlindungan memadai. Minimnya informasi serta sosialisasi membuat artefak bersejarah ini kerap diabaikan. Kondisinya pun cukup memprihatinkan karena tidak jarang dijadikan tempat pembuangan sampah plastik oleh warga sekitar yang belum memahami nilai penting sejarahnya.

Situs Yoni Jalan Prambanan kondisinya cukup memprihatikan karena kerap jadi tempat pembuangan sampah. (apijiwa.id/Ari Tri Winarno)

Dalam tradisi Hindu klasik, yoni biasanya selalu berpasangan dengan lingga sebagai satu kesatuan utuh. Secara filosofis, lingga disimbolkan sebagai manifestasi Dewa Siwa (unsur maskulin), sementara yoni melambangkan Dewi Parwati (representasi feminin). Penyatuan harmonis keduanya diyakini sebagai simbol kesuburan semesta raya serta sumber utama terciptanya kehidupan baru.

2. Situs Yoni PDAM (Situs Yoni Garuda)

Tidak jauh dari lokasi pertama, di kawasan Jalan Borobudur atau kompleks Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), terdapat artefak unik yang kerap disebut warga sebagai Situs Yoni Garuda PDAM. Dinamakan demikian karena lokasinya berada tepat di samping instalasi PDAM dan memiliki keunikan berupa motif burung garuda yang dipahat detail di bagian bawah cerat yoni.

Bentuk artefak yang tidak biasa ini memicu perdebatan panjang di kalangan peneliti; sebagian berpendapat benda ini merupakan yoni lapik (alas arca), sementara pendapat lain menduga kuat artefak tersebut adalah yoni berpasangan dengan lingga yang kini sudah tidak utuh.

Kompleksitas pahatan relief di situs ini amat menarik sekaligus mengundang rasa iba karena banyak bagian yang mengalami kerusakan parah. Di bawah cerat yoni, kita dapat menjumpai relief motif garuda dengan bagian muka yang sudah rusak, serta seekor hewan bulus yang juga mengalami kerusakan cukup parah pada bagian wajahnya. Tidak hanya itu, terdapat pula pahatan tiga ekor ular atau naga yang bagian kepalanya telah terpotong atau hancur lebur. Kerusakan juga menimpa arca Nandi yang ditemukan dalam kondisi tanpa kepala yang memprihatinkan. Padahal, dalam mitologi Hindu, Nandi merupakan lembu wahana atau kendaraan suci Dewa Siwa yang menyimbolkan dharma, kesetiaan abadi, serta kepatuhan mutlak kepada Sang Pencipta.

3. Situs Yoni Makam Mbah Dowo

Penjelajahan berlanjut ke titik ketiga yang terasa jauh lebih senyap dan sakral, yakni di area kompleks pemakaman umum Desa Candirejo. Di sinilah terletak Situs Yoni Makam Mbah Dowo.

Makam tersebut sangat dihormati dan dipercaya turun-temurun sebagai tempat peristirahatan leluhur atau sesepuh pendiri kampung. Nuansa magis masih terasa kental di antara rimbunnya pepohonan. Lokasi ini kerap digunakan untuk kegiatan spiritual atau ziarah oleh warga lokal maupun pendatang.

Situs Yoni Makam Mbah Dowo. (apijiwa.id/Ari Tri Winarno)

Keberadaan yoni di dalam kompleks pemakaman umum menunjukkan adanya kesinambungan fungsi ruang secara turun-temurun—di mana tempat yang dulunya dianggap keramat pada masa klasik tetap dijaga oleh masyarakat lewat tradisi ziarah hingga hari ini.

4. Situs Yoni SUTET

Titik keempat yang melengkapi catatan sejarah di kawasan ini adalah Situs Yoni SUTET. Lokasinya berada persis di kebun warga, tepat di bawah naungan instalasi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang menjulang tinggi.

Yoni ini berdampingan secara kontras langsung dengan infrastruktur kelistrikan modern. Berdasarkan informasi warga, kawasan sekitar menara SUTET ini dulunya sempat menyimpan temuan arca lain yang bernilai tinggi sebelum terpaksa dipindahkan. Karena letaknya yang menempel persis di bawah menara tegangan tinggi tersebut, masyarakat kemudian menjulukinya sebagai Yoni SUTET.

Situs Yoni SUTET terletak persis di kebun warga tepat di bawah naungan instalasi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi yang menjulang tinggi. (apijiwa.id/Ari Tri Winarno)

Dugaan Asal-Usul Artefak Candirejo

Banyak kalangan berpendapat bahwa seluruh artefak berharga di atas asli berasal dari wilayah Desa Candirejo sejak ratusan tahun lalu. Kawasan ini diduga kuat dulunya merupakan area percandian kuno yang sezaman dengan kompleks Candi Gedong Songo di lereng gunung yang sama.

Jika dugaan ini benar, hal tersebut selaras dengan hasil penelitian Niken Wirasanti dalam karyanya Candi & Lingkungan (2023). Buku tersebut menggambarkan bahwa ruangan sakral di kawasan lereng gunung memiliki penanda khas berupa struktur batu andesit dan bata kuno, fasilitas jambangan air, serta media ritual utamanya berupa arca dan Lingga-Yoni.

Secara filosofis, lingkungan pegunungan menyiratkan suasana tenang dan hening yang ideal untuk mendukung kegiatan spiritual tingkat tinggi. Keheningan tersebut dimaknai sebagai simbolisasi perjalanan rohani manusia yang menjauhkan diri dari keinginan duniawi demi mencapai tujuan akhir kehidupan. Selain itu, tempat yang tinggi sejak dulu diyakini lebih dekat dengan pusat kosmos.

Harmoni Transisi Energi dan Pelestarian Warisan Leluhur

Perdebatan antara proyek eksplorasi energi hijau dan pelestarian warisan budaya di lereng Gunung Ungaran mencerminkan dilema klasik pembangunan nasional. Di satu sisi, percepatan transisi energi demi mencapai target bauran energi terbarukan adalah prioritas strategis negara. Namun di sisi lain, ambisi tersebut seringkali mengabaikan aspek perlindungan lingkungan, sumber air, serta penyelamatan artefak sejarah masa klasik Nusantara seperti situs-situs yoni di Candirejo. Kasus ini menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh dilakukan secara serampangan atau “asal tabrak” tanpa memperhitungkan daya dukung ekologis dan kultural wilayah setempat.

Kebijakan pembangunan yang baik di Indonesia harus bergeser dari pendekatan top-down yang represif menuju tata kelola yang partisipatif, transparan, dan berkelanjutan. Pemerintah bersama para pemangku kepentingan wajib mengedepankan kajian yang jujur dan ketat sebelum membuka lahan baru di kawasan rawan ekologis.

Sosialisasi yang komprehensif serta pelibatan masyarakat lokal—termasuk para budayawan dan pemerhati sejarah—harus menjadi syarat mutlak agar proyek strategis nasional tidak mencederai kearifan lokal. Di sisi lain, masyarakat, akademisi, dan budayawan juga perlu terus menggalakkan diskusi bersama agar warisan sejarah dan budaya ini senantiasa terjaga serta nilai-nilai luhurnya tetap hidup di tengah masyarakat.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.