apijiwa.id — Sejumlah aktivis keumatan dan pelaku bisnis Muslim berkumpul di Gedung Dakwah Annas, Jalan Martanegara No. 30, Kota Bandung, dalam acara “Sosialisasi Wakaf Produktif dan Silaturahmi Bersama Muslim Singapura” pada Selasa (13/10/2026). Acara berlangsung hangat lantaran para peserta memiliki keresahan yang sama terkait pengembangan ekonomi umat, khususnya melalui optimalisasi wakaf produktif.
Sebagai fasilitator acara, Anton Minardi menyampaikan dalam kata pengantarnya bahwa potensi wakaf umat harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Ia mengakui, selama ini masyarakat lebih familiar dengan wakaf barang tidak bergerak. Namun, hadirnya konsep wakaf produktif diharapkan dapat memberikan manfaat yang jauh lebih luas.
“Saya hadir di sini sebagai fasilitator dan seluruh keputusan akan dikembalikan kepada forum. Semoga dari pertemuan ini lahir formula yang tepat untuk diimplementasikan kelak,” ujar Anton.
Sementara itu, Achmat Rizani—pendiri Yayasan Cahaya Pena Emas sekaligus konsultan wakaf produktif asal Indonesia yang kini berdomisili di Singapura—menjelaskan bahwa kekayaan Singapura banyak bersumber dari sektor perdagangan (trading) yang melibatkan Indonesia. Oleh karena itu, ia mendorong para pelaku usaha lokal untuk berperan aktif memanfaatkan potensi bisnis, khususnya di sektor kuliner khas Bandung yang sangat menjanjikan.
“Jangan sampai kuliner Bandung justru diakui dan dikembangkan oleh pihak lain. Mari kita manfaatkan kesempatan ini bersama-sama agar ekonomi umat dapat maju dan berkembang,” tegas Achmat.
Untuk merealisasikan hal tersebut, Achmat menawarkan dua program utama bagi pengusaha kuliner Bandung: Imporium Indonesia dan Warung Sunda Singapura. Imporium Indonesia bertindak sebagai penampung produk-produk Indonesia untuk dipasarkan di Singapura sesuai regulasi yang berlaku. Sedangkan Warung Sunda Singapura mengusung konsep foodcourt khusus penyedia produk kuliner asal Kota Bandung.
Gagasan ini disambut positif oleh Hari Nugraha. Ia menekankan bahwa Ziswaf (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf) adalah pilar utama kemajuan ekonomi umat jika dikelola secara terintegrasi dan profesional.
“Sesi berbagi (sharing) seperti ini sangat dibutuhkan karena umat Islam harus maju secara mandiri. Kita semua perlu memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin,” tutur Hari.
Senada dengan Hari, Irene Widyati—seorang pengusaha Muslimah di bidang cookies—mengakui tantangan yang dihadapi UMKM, seperti anggapan remeh dari konsumen yang lebih menyukai produk dari merek-merek besar. Bagi Irene, peluang menembus pasar Singapura merupakan kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan.
“Kita butuh kebersamaan untuk membangun ekonomi umat agar bisa mandiri dan bersaing secara sehat melalui produk-produk berkualitas,” ungkap Irene.
Menutup rangkaian acara, Anton Minardi menyimpulkan dua poin utama yang menjadi fokus bersama: optimalisasi wakaf produktif dan penguatan muamalah (bisnis). Wakaf produktif harus dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan umat, sementara di sektor muamalah, umat Islam dituntut siap bersaing di tengah tren bisnis global.
“Hal ini perlu dirumuskan dan disepakati bersama agar rencana yang disusun hari ini benar-benar berjalan dan mendatangkan keberkahan bagi kita semua,” pungkas Anton.












