Advertisement

apijiwa.id – Inspirasi bisnis bisa muncul dari mana saja, bahkan di tengah jatuh bangunnya sebuah usaha. Meski sempat terhenti, Novan Hermawan Saputra membuktikan kegigihannya dengan terus memproduksi kerajinan pop art. Hiasan dinding ini ternyata sangat diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga orang dewasa.

Novan mengaku awalnya merintis usaha ini bersama rekan, namun karena perbedaan visi, ia akhirnya memilih untuk berjuang sendiri. “Saya melihat fenomena itu dan coba menjalankannya bersama teman dengan omzet yang cukup lumayan. Namun, karena tak sejalan, akhirnya kami  berbisnis masing-masing,” terang Novan dalam sebuah kesempatan kepada apijiwa.id.

Pada tahun 2019, Novan melihat celah bisnis pop art yang masih langka di Bandung. Hanya dengan modal awal Rp300 ribu dan memanfaatkan limbah multiplex gratis dari Kota Cimahi, ia mulai bereksperimen.

Setelah sempat mencoba ketebalan 3–5 cm, ia akhirnya menemukan ukuran ideal di angka 2 cm meskipun saat itu alat produksinya masih sangat sederhana. Usaha ini berkembang pesat; bermula dari omzet Rp800 ribu, pendapatannya melonjak hingga stabil di angka Rp10 juta hingga Rp20 juta per bulan selama setahun. Sayangnya, meski bisnis sedang di puncak, perbedaan prinsip membuatnya harus berpisah jalan dengan rekan bisnisnya.

Menjalankan bisnis sendirian ternyata memberikan pelajaran berharga bagi Novan bahwa membangun tim yang solid jauh lebih penting daripada bekerja sendirian. Melalui brand “Kamar Produksi”, ia mengakui bahwa operasional saat ini belum maksimal karena harus membagi waktu dengan pekerjaan utamanya.

Meski begitu, ia sangat mengandalkan kekuatan media sosial, seperti TikTok dan Shopee, serta promosi via WhatsApp yang terbukti efektif meningkatkan penjualan. Menurut pria kelahiran 1995 ini, adaptasi digital adalah kunci agar bisnis tidak tertinggal.

“Kalau bisnis saat ini tak menggunakan media sosial, maka akan sulit berkembang. Media sosial itu bisa membuat promosi menjadi efektif,” tutur pria kelahiran Bandung, 10 November 1995.

Dalam hal teknis, proses produksinya cukup simpel: kayu dipotong sesuai ukuran (standar 20×30 cm atau 30×46 cm) dengan ketebalan 2 cm, lalu foto ditempel menggunakan lem dan didiamkan semalaman sebelum dikemas. Meskipun Novan sibuk sebagai pelatih atletik, ia tetap menyempatkan diri menyetok ukuran standar dan menerima pesanan khusus di sela-sela rutinitasnya.

Novan Hermawan Saputra membuktikan kegigihannya dengan terus memproduksi kerajinan pop art melalui Kamar Produksi. (Deffy Ruspiyandy)

Novan menetapkan skema harga yang berbeda untuk pembeli langsung dan pengecer (reseller). Untuk ukuran 20 x 30 cm, harga normalnya adalah Rp20.000, sementara ukuran 30 x 46 cm dijual seharga Rp50.000. Khusus bagi reseller, ia memberikan harga lebih rendah, yakni Rp17.000–Rp18.000 untuk ukuran kecil dan Rp40.000 untuk ukuran besar.

Terkait durasi pengerjaan, pesanan satuan biasanya selesai dalam 1–2 hari, namun untuk pesanan skala besar hingga 1.000 buah, waktu produksinya bisa memakan waktu satu hingga empat minggu.

Novan menerapkan kebijakan minimal pemesanan sebanyak dua buah. Terkait pengiriman, biaya ongkir ditanggung oleh pembeli, terutama untuk pesanan dalam jumlah besar. Namun, bagi pelanggan yang berdomisili di kota yang sama, ia memberikan fleksibilitas dengan layanan antar langsung atau opsi ambil sendiri di tempat.

Semua ini dijalankannya selaras dengan prinsip hidupnya, yaitu ingin menjadi sosok yang kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain, bukan sekadar untuk kepentingan pribadi.

Pop art sendiri merupakan dekorasi dinding tiga dimensi dengan efek visual yang tampak nyata, sebuah tren yang sebenarnya sangat populer di pasar internasional. Saat ini, jangkauan pasar Novan sudah mencakup wilayah Bandung, Jakarta, Bekasi, Banten, hingga sebagian Kalimantan.

Meski memiliki potensi ekspor, Novan belum merambah pasar luar negeri karena prosedur yang rumit, serta belum menyentuh wilayah Papua akibat terkendala biaya pengiriman yang tinggi. Sebagai ayah yang baru saja dikaruniai putra, Novan kini berupaya membangkitkan kembali bisnisnya meskipun harus menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan modal, lokasi, serta kebutuhan akan tim produksi yang jujur dan berdedikasi.

Untuk tahun 2026, fokus utama Novan adalah mengaktifkan kembali roda bisnisnya secara bertahap sambil menyusun tim yang solid sebelum melangkah ke produksi skala besar. Dengan target keuntungan di kisaran 30-40%, ia melayani berbagai segmen, mulai dari pesanan personal seperti foto keluarga hingga instansi sekolah untuk kebutuhan foto kelas dan wisuda.

Sebagai seorang sarjana pendidikan, Novan berharap tahun ini menjadi momentum kebangkitan usahanya agar ia bisa mewujudkan niat mulianya: berbagi ilmu sekaligus membuka pintu rezeki bagi orang lain. “Saya ingin kembali membangun bisnis ini untuk berbagi ilmu dan rezeki,” tuturnya.

Saat ini, seluruh proses pengerjaan produk dilakukan Novan di Jalan Manunggal 2C RT 02/10, Kelurahan Cijerah, Bandung Kulon, Kota Bandung. Bagi pelanggan yang berminat, pemesanan dapat dilakukan secara praktis melalui WhatsApp.

Menutup percakapan, ia menyampaikan harapannya agar di tahun 2026 ini “Kamar Produksi” dapat bangkit kembali dan mencapai kemajuan yang lebih besar. “Semoga tahun 2026 ini Kamar Produksi bisa kembali berkembang,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.