apijiwa.id – Aroma solar dan debu Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, pernah menjadi santapan harian bagi Suyoto. Di sela deru mesin pabrik tempatnya bekerja sebagai buruh, ia merangkap sebagai tukang ojek pelabuhan demi menyambung napas dapur di rumah.
Lahir dari keluarga petani miskin di Sragen yang tak sanggup membiayainya kuliah, pria lulusan STM ini sempat terjebak dalam realitas ekonomi yang menghimpit. Menikah muda di usia 20 tahun dengan Endang Sri Mulyani, ia segera menyadari bahwa upah buruh dan recehan hasil ngojek tidak akan pernah cukup memberi masa depan bagi putranya, Bima Handaru Baskoro, apalagi mewujudkan impian besarnya: membawa orang tua ke Tanah Suci.
Namun, sejarah membuktikan bahwa nasib bukanlah garis mati. Perjalanan hidup pria yang akrab disapa Kang Ioto ini adalah manifestasi hidup dari QS. Ar-Ra’d: 11: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”
Perubahan hidup Ioto bukan turun tiba-tiba dari langit, melainkan dijemput melalui transformasi radikal yang mengguncang zona nyaman.
Keberanian Mengambil Langkah
Jumat, 13 September 2013, menjadi penanda sejarah bagi Ioto. Hari itu, ia memutuskan resign dari pekerjaan buruhnya. Langkah ini bukan lahir dari kesombongan karena sudah punya tabungan melimpah, melainkan dari sebuah kalkulasi logis yang menyakitkan: ia menyadari bahwa selama ia bertahan di jok ojek dan lantai pabrik, impian membawa orang tuanya umrah secara matematis adalah kemustahilan.
Ia berhenti bukan karena sudah sukses, tapi karena yakin bahwa jalan menuju mimpinya tidak akan pernah ditemukan di tempatnya berdiri saat itu. Ia melompat ke dalam ketidakpastian dengan satu bekal keyakinan spiritual.
Ioto memegang teguh sebuah hadis yang menjadi landasan filosofisnya bahwa 10 pintu rezeki, 9 di antaranya ada pada jalur perniagaan atau perdagangan.
Ioto memulai bisnisnya benar-benar dari angka nol. Dengan modal laptop bekas dan keberanian, ia menempuh perjalanan ke Bogor selama dua hari hanya untuk mempelajari dasar-dasar internet marketing. Hasilnya, ia meluncurkan situs www.anekamesinsemarang.com.
Inilah titik di mana literasi digital menjadi akselerator hidupnya. Sukses di dunia maya, Ioto tidak lantas meninggalkan dunia nyata. Ia berkolaborasi dengan rekannya, Solikhin, untuk mendirikan bengkel las di Sawah Besar, Semarang.
Berkat strategi pemasaran digitalnya, bengkel las tersebut bahkan berhasil menembus kontrak pengerjaan di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Langkah ini menunjukkan bahwa adaptasi teknologi adalah kunci bagi pelaku usaha kecil untuk naik kelas sebelum akhirnya ia menemukan panggilan sejatinya di bisnis travel umrah.
Keteguhan di Titik Terendah
Transformasi Ioto menuju bisnis umrah dimulai dari sebuah undangan seminar lewat BlackBerry Messenger (BBM) dari orang tak dikenal. Meski awalnya ragu akan penipuan, ia akhirnya bergabung dengan DGi Travel (cikal bakal Samira Travel) pada akhir 2015. Namun, tahun 2017 menjadi tahun “padang pasir” bagi Ioto.
Tanpa pengalaman, tanpa ilmu marketing formal, dan tanpa komunitas, Ioto berjuang sendirian. Sepanjang tahun 2017, ia hanya berhasil memberangkatkan dua jemaah. Secara finansial, ia babak belur.
Sang istri bahkan sempat memintanya berhenti dan mencari pekerjaan yang lebih pasti. Namun, integritas terhadap impian membuatnya tetap teguh melakukan syiar Baitullah dengan penuh luka fisik. Ia harus menghadapi ban motor yang bocor hingga dua kali sehari saat berkeliling menawarkan program umrah.
Di sisi lain medan Semarang yang penuh perjuangan. Ia seirng harus menerjang banjir Semarang hingga motornya mogok total, namun ia tetap melanjutkan langkah. Ia tetap gigih, membagikan brosur di lampu merah dan naik-turun bus umum demi menyebarkan informasi umrah dari kampung ke kampung.
“The Miracle of Tahajud”
Di tengah badai ujian 2017, Ioto menyadari bahwa strategi pemasaran sehebat apa pun akan buntu tanpa restu Pemilik Langit. Ia mulai memperbaiki hubungannya dengan Sang Pencipta melalui salat sepertiga malam secara konsisten. Strategi “Jalur Langit” ini memberikan ketenangan batin yang luar biasa di tengah tekanan ekonomi.
Jawaban atas doa-doanya hadir dalam wujud fisik saat ia bertemu dengan Ustaz Fauzi Wahyu Muntoro di Tanah Suci pada 2016. Mereka sempat sekamar, dan hubungan itulah yang nantinya membuka jalan bagi Ioto untuk dipercaya memimpin kantor cabang di Semarang.
Kesuksesannya bukan sekadar hasil algoritma internet, tapi sinkronisasi antara ikhtiar bumi yang berdarah-darah dan ketukan pintu langit yang konsisten.
Salah satu bukti kesuksesan sejati Ioto adalah keberaniannya untuk berbagi. Sejak transformasi ekonominya memuncak, ia tak lagi menikmati hasilnya sendiri. Kebahagiaan terbesarnya terjadi pada Februari 2019 saat ia mampu memberangkatkan ayah dan istrinya ke Tanah Suci.
Transformasi ini kian lengkap ketika ia membawa kedua anaknya, Luthfun Nisa dan Bima Handaru Baskoro, serta guru ngaji anaknya, Kiai Musyafak, untuk beribadah di Baitullah. Bahkan, sebuah paradox menarik terjadi pada tahun 2020: saat dunia dilumpuhkan pandemi COVID-19 dan banyak orang menjual aset, Ioto justru diberikan rezeki untuk membeli mobil pertamanya.
Ia kini tak lagi dipandang sebagai tukang ojek yang mencari nafkah di debu pelabuhan.
Ioto sering berkelakar tentang profesi barunya: Ia tetaplah seorang tukang ojek. Namun, bukan lagi ojek pelabuhan, melainkan ‘tukang ojek jemaah’ yang bertugas mengantarkan tamu-tamu Allah dari Tanah Air menuju Baitullah.”
Perjalanan yang Belum Usai
Kini, Ioto mengomandani Samira Travel Cabang Semarang yang berkantor di Jalan Kauman, tepat di belakang Masjid Agung Kauman yang bersejarah. Di bawah kepemimpinannya, cabang ini meraih rekor MURI sebagai travel dengan jemaah terbanyak dan dipercaya oleh Pemerintah Kota Semarang.
Dengan motto “Mudah, Murah, dan Mantap”, ia telah membuktikan bahwa nasib seorang buruh STM bisa berubah total di tangan mereka yang berani melangkah.
Kisah Suyoto mengingatkan kita bahwa latar belakang bukanlah beban, melainkan landasan pacu. Keberanian untuk resign, kemauan belajar literasi digital, keteguhan di titik nadir, dan sujud di sepertiga malam adalah ramuan yang mengubah takdir.












