apijiwa.id – Dulu, kelor, bagi sebagian masyarakat dipercaya sebagai tanaman pengusir makhluk halus. Ilmu pengetahuan menguak sisi lain, ternyata kelor merupakan tanaman yang memiliki kandungan gizi yang luar biasa dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Salah satunya ditunjukkan oleh Susilowati, seorang dosen gizi Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi, Jawa Barat.
Bagi Susilowati, kelor bukan sekadar tanaman pekarangan. Ia adalah tree’s of hope—pohon harapan yang tumbuh dari keyakinan bahwa solusi persoalan gizi dan kesehatan masyarakat dapat berangkat dari pangan lokal yang sederhana, terjangkau, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Dari sanalah perjalanan panjang saya bersama kelor dimulai, bukan sebagai produk, melainkan sebagai gagasan dan gerakan literasi gizi,” ujar ibu dua orang anak ini kepada apijiwa.id.
Sebagai dosen gizi, Susilowati memandang isu gizi bukan hanya persoalan kekurangan asupan, melainkan spektrum yang luas: mulai dari gizi kurang hingga obesitas dan penyakit tidak menular.
Berawal dari Penelusuran Literatur
Ketertarikannya pada kelor bermula dari penelusuran berbagai literatur ilmiah yang mengungkap kekayaan nutrisi dan senyawa bioaktif tanaman ini. “Semakin dipelajari, semakin kuat keyakinan saya bahwa kelor memiliki peran strategis dalam mendukung upaya perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh,” tambahnya.
Keyakinan tersebut mulai diwujudkan secara nyata pada tahun 2020 melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Bersama tim, Susilowati memanfaatkan lahan tidur di lingkungan kampus UNJANI Cimahi dengan membangun rumah tanam dan demplot percontohan kelor.
Inisiatif ini ditujukan sebagai ruang pembelajaran, riset, dan edukasi—baik bagi mahasiswa maupun masyarakat. Visi awalnya adalah menghadirkan pusat pembibitan dan pembelajaran kelor.
“Seiring waktu, gagasan itu berkembang menjadi cita-cita menjadikan Cimahi sebagai salah satu pusat unggulan pengembangan Moringa oleifera berbasis edukasi, riset, dan pemberdayaan masyarakat,” tandas perempuan berjilbab ini.
Kelor (Moringa oleifera Lam.), menurutnya, telah lama mendapat perhatian dunia sebagai tanaman dengan manfaat yang luas. Dalam dua dekade terakhir, ia dikenal dengan berbagai sebutan seperti miracle tree atau tree for life karena hampir seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kelor mengandung beragam vitamin, mineral, asam amino esensial, antioksidan, serta senyawa alami yang berperan penting dalam menjaga kesehatan. Kombinasi tersebut menjadikannya salah satu tanaman dengan kepadatan gizi yang tinggi.

Pengendalian Obesitas
Bagi Susilowati, kelor tidak hanya relevan untuk mengatasi persoalan gizi kurang dan stunting. Tanaman ini juga memiliki potensi besar dalam mendukung pencegahan dan pengendalian obesitas serta penyakit tidak menular. Sejumlah penelitian yang ia lakukan menunjukkan pemanfaatan kelor sebagai bagian dari pendekatan pendamping dalam penanganan hipertensi dan diabetes melitus.
“Temuan-temuan tersebut memperkuat pandangannya bahwa kelor dapat menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif kesehatan masyarakat, terutama di tengah meningkatnya beban penyakit kronis,” terang istri Ahmed Kojack, seorang ahli bahasa dan pengajar bersertifikat internasional.
Ironisnya, menurut Susilowati, kelor justru banyak tumbuh di wilayah yang masih menghadapi persoalan gizi dan kesehatan. Fakta ini menegaskan bahwa solusi seringkali telah tersedia di sekitar masyarakat itu sendiri, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Tantangan utamanya, menurutnya, adalah literasi. Di Indonesia, kelor kerap dipahami melalui narasi budaya yang diwariskan turun-temurun dan sering dikaitkan dengan aspek mistis, sementara pemahaman berbasis gizi, kesehatan, dan sains masih relatif terbatas.
Edukasi Sebagai Strategi
Kesadaran itulah yang mendorong dirinya memilih jalur edukasi sebagai strategi utama. Ia aktif menulis artikel, melakukan riset, dan menyusun buku untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan praktik sehari-hari.
“Saya telah menulis sepuluh buku di bidang gizi dan kesehatan masyarakat. Dua di antaranya secara khusus membahas kelor. Buku pertama mengulas budidaya kelor serta pemanfaatannya sebagai pangan lokal untuk perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat. Buku kedua berfokus pada MPASI berbahan kelor, yang diluncurkan pada Desember 2025,” jelas Susilowati.
Buku MPASI kelor disusunnya sebagai panduan praktis berbasis tumbuh kembang anak dan prinsip gizi seimbang. Tidak berhenti pada tataran konseptual, buku yang ditulisnya ini telah digunakan dalam kegiatan lapangan oleh salah satu organisasi nonpemerintah (NGO) yang bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Pengalaman ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa literasi gizi berbasis pangan lokal dapat menjembatani ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kebutuhan riil masyarakat,” imbuh perempuan yang mengidolakan Nabi Muhammad Saw, ibu, dan suami.
Di lingkungan kampus, kelor juga menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran yang ia terapkan. Tanaman ini disisipkan dalam materi perkuliahan, praktikum mahasiswa, hingga kegiatan pameran inovasi gizi.
“Mahasiswa sengaja saya dorong untuk melihat kelor sebagai contoh nyata bahwa solusi masalah gizi dan kesehatan masyarakat tidak selalu mahal atau bergantung pada bahan impor, melainkan dapat bersumber dari pangan lokal yang dikelola dengan pengetahuan yang tepat,” tegas Susilowati yang memiliki hobi bersepeda.
Inisiatif Lintas Sektor
Upaya tersebut kini tengah diperluas olehnya melalui inisiatif lintas sektor. Susilowati bersama tim sedang menyusun sebuah proyek pemberdayaan kelor dalam kerangka Cimahi Smart City, yang mengintegrasikan aspek kesehatan masyarakat, edukasi, dan pemberdayaan warga.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat, dalam memanfaatkan kelor sebagai sumber daya lokal strategis. “Saya berharap gagasan tersebut dapat segera direalisasikan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat Cimahi,” tutur dosen yang suka traveling, reading, dan writing.
Di balik kiprahnya sebagai akademisi dan penggiat literasi gizi, Susilowati memegang filosofi hidup yang sederhana namun kuat, yang terinspirasi dari Al-Qur’an Surat Ar-Rahman ayat 60 “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.”
“Prinsip ini menjadi landasan dalam setiap langkah saya. Kepuasan terbesarnya bukan diukur dari capaian pribadi, melainkan dari ketika ilmu pengetahuan mampu berubah menjadi energi positif dan solusi nyata bagi masyarakat,” kata Susilowati yang suka memasak dan bereksperimen resep baru.
Melalui kelor yang ia maknai sebagai tree’s of hope, Susilowati menegaskan bahwa harapan akan gizi dan kesehatan masyarakat tidak harus lahir dari sesuatu yang mahal dan jauh. Ia tumbuh dari pengetahuan, kepedulian, dan keberanian merawat pangan lokal sebagai bagian dari jati diri bangsa.
Buku karya Susilowati yang telah terbit antara lain: Gizi dalam Daur Kehidupan, Ekologi Pangan dan Gizi, Masih tentang Kelor, dan MPASI Kelor: Resep Sehat Terstandar untuk Tumbuh Kembang Optimal, serta beberapa buku ajar gizi lainnya.












