apijiwa.id – Sejak sore itu, hujan gerimis. Langit senja tak nampak di ufuk barat. Segerombol anak jalanan terus berdiri di persimpangan jalan, menadah tangan, meminta belas kasihan dari orang-orang yang berlalu-lalang dengan kendaraan. Tanpa malu, dan terus meminta, sampai ada yang mau memberi tumpangan kepada mereka yang telah berjuang keras melewati hari dengan perut keroncongan.
Di bawah pohon beringin, anak-anak jalanan berkumpul, berteduh sembari mencari solusi, sebab sudah sehari mereka tak mendapat makanan. Di sebelah pohon beringin tersedia sebuah kantin yang dikontrakan untuk melaksanakan program nasional: Program Makan Bergizi Gratis.
Tergerak hati salah seorang dari mereka, mencoba melangkah ke kantin tersebut. Di sana ia mendapati si pemilik kantin sedang menulis nota belanja bahan mentah untuk dimasak pada esok hari. Si pengemis hendak menguatkan hatinya, agar tidak takut meminta pada si pemilik kantin.
“Bu, pak. Permisi. Apakah ada makanan sisa hari ini? Atau yang sudah basi pun boleh,” tanya si pengemis dengan wajah lesu.
Keduanya menoleh secara bersamaan. Si ibu menunjukan ekspresi geram, dahi berkerut seolah pertanyaan si pengemis tersebut memiskinkan mereka.
“Hei kau. Sebaiknya bekerja, bukan mengemis. Lagian untuk apa sih minta makanan sisa. Emang masaknya pakai kuali kamu, makanya meminta makanan sisa. Sana. Pulang!” Setelah berceramah panjang lebar, ibu pemilik kantin itu mengusir si pengemis.
Nasib buruk. Wajah pucat pasi, pakaian kusut, tubuh kurus kering. Sudah sehari tidak dapat makanan, malah diusir dari kantin yang menyediakan makan bergizi gratis bagi anak sekolah, ibu menyusui dan ibu hamil.
Ia, pengemis itu kemudian membelai perut keroncongnya. Berharap segumpal nasi sisa dapat mengisi lambungnya yang sudah kosong sejak seharian. Tetapi harapan itu sirna oleh ibu pemilik kantin yang tak ingin memberi sisa makanan itu padanya.
Pengemis itu berlalu. Membasuh air mata yang menetes dari kelopak matanya. Langkahnya kian terantuk, menyepak bebatuan di dalam perjalanan pulang ke tempat mereka berkumpul.
Dari jauh, beberapa temannya menebar senyum menjemput kepulangannya, berharap ia membawa sisa makanan yang dibagikan kepada anak sekolah dan ibu hamil, juga ibu-ibu yang sedang menyusui.
“Gimana kak, apa mereka kasih kita makanan?” tanya salah satu dari mereka dengan penuh selidik dan perhatian. Si pengemis yang barusan pulang itu menggeleng kepalanya dengan wajah lesu.
“Kita tidak diberi makan secara gratis oleh pemerintah. Kita sudah dilahirkan untuk hidup di jalanan dan tidak berhak mendapat tumpangan dari pemerintah,” tuturnya sembari meneteskan air mata yang sejak tadi sesak di bola matanya.
“Ayo kita pulang. Hujan sejak tadi tidak berhenti, saya kuatir. Tempat tidur kita pasti sudah becek ditiris air hujan,” ajak yang lain dengan kuatir, sebab atap tempat tinggal mereka bocor.
Mereka bergegas pulang dengan harapan yang gugur bersama air hujan. Malam itu, mereka tidur tanpa alas perut dan alas lantai. Nyamuk pun menjauh seolah tak ada darah yang perlu dihisap.
Paginya, mereka bangun. Mencoba berjalan lagi ke emperan toko, ke persimpangan jalan untuk menadah tangan memohon pertolongan. Dan hingga siang hari, mereka melihat lagi, di bawah pohon beringin itu, ibu-ibu hamil mengantri, demikian anak-anak sekolah, dan ibu-ibu menyusui.
“Sekejam itukah orang-orang ini, membagi makanan bergizi gratis kepada mereka, sedangkan kami di sini telah menahan lapar sejak kemarin siang,” monolog salah satu pengemis di dalam batinnya.
“Kita memang tidak ada dalam daftar penerima makan bergizi gratis, sudah pasti kita tidak menerimanya, walau kita lebih lapar dari pada mereka yang di sana, yang sedang menerima makan bergizi gratis,” kata pengemis yang sejak kemarin telah berupaya meminta makan sisa kepada si pemilik kantin.
Mereka mencoba mengumpulkan keberanian untuk mencoba meminta lagi, siapa tahu hari ini si ibu pemilik kantin itu sudah lebih baik dari kemarin.
“Permisi, Bu. Pak. Kami lapar, apakah ada makanan sisa? Kalau ada, jangan di buang yah. Kami ingin memakan yang sisa itu,” ujar salah seorang dari mereka itu kepada pemilik kantin.
Saking sibuknya, mereka tidak menghiraukan para pengemis itu dan dalam keadaan riuh, ada seorang anak sekolah dengan lugu dan jujurnya mengatakan bahwa masakan makan bergizi gratis itu tidak lezat.
“Makanan ini tidak enak,” kata si anak itu dengan wajah memelas.
Para pendamping yang mendengar itu pun langsung membentak dengan kalimat yang penuh intervensi dan diskriminatif.
“Heh, bocah. Udah dikasih makan gratis, malah protes. Emang sekaya apa sih kamu?” cemooh salah satu pendamping itu dengan kalimat sinis.
Anak itu hanya diam, tidak lagi menggubris lontaran kata-kata sinis tersebut. Raut wajahnya menunjukan rasa takut yang dalam. Meskipun makanan tersebut tidak sesuai selera seharusnya didiamkan saja, agar tidak terjadi diskriminasi dalam acara pembagian makan bergizi gratis.
Tambah pendamping itu, “Kamu lihat tuh yang di sana?” katanya sambil menunjuk ke arah anak-anak pengemis berkumpul, “Mereka sudah tidak makan sejak hari kemarin. Mereka butuh makanan, tetapi kamu yang mendapatkannya hari ini tidak ingin bersyukur,” ceramahnya pendamping itu dengan nada ketus.
Di seberang sana, anak-anak pengemis itu terus memegang perut. Ada pula yang sedang menelan ludah menyaksikan lahapnya anak-anak sekolah menyantap makan siang gratis dari pemerintah.
Di mana rasa kemanusiaan dan keadilan. Seolah para pengemis ini dianaktirikan pemerintah. Belum lagi mereka yang tidak sekolah. Apakah mereka yang tidak sekolah ini boleh mendapat makan bergizi gratis? Entahlah.
Petir menyambar, guntur bergemuruh. Langit sudah gelap, siang ini. Hujan kembali menguyur sampai membubarkan acara makan bergizi gratis. Demikian juga anak-anak jalanan tadi, mereka telah kembali melakukan aktivitas mereka.








