Advertisement

apijiwa.id — Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Mulyo, Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, menunjukkan konsistensi dalam mentransformasi budi daya padi dari sistem konvensional menuju semi organik. Langkah ini terbukti meningkatkan produktivitas lahan secara signifikan sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani lokal.

Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha, menyampaikan bahwa sistem pertanian semi organik jauh lebih menguntungkan. Berdasarkan data lapangan, hasil panen padi semi organik mampu mencapai 9,2 ton per hektar dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP). Angka ini jauh melampaui hasil pertanian non-organik yang rata-rata hanya menghasilkan 6,2 ton per hektar.

“Pertanian organik ini harus terus dikembangkan dan disosialisasikan. Jika dalam satu tahun bisa panen dua kali, pendapatan para petani tentu akan meningkat pesat,” ujar Ngesti.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati Semarang didampingi Sekretaris Daerah Valeanto Sukendro, Kepala Dinas Pertanian Moh. Edy Sukarno, Kepala Pelaksana BPBD Alexander Gunawan, serta Kepala Bakesbangpol Suyana.

Ngesti menambahkan, kunci sukses para petani Desa Kemetul terletak pada modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan). Pemerintah Kabupaten Semarang terus memperkuat penyediaan teknologi modern guna menekan biaya produksi.

“Sebagai contoh, penggunaan mesin penanam padi (transplanter) terbukti menghemat biaya operasional hingga Rp1,1 juta per hektar. Efisiensi ini makin optimal berkat penggunaan drone pemupukan dan mesin pemanen (combine harvester) mini. Saat ini, combine harvester telah disiapkan di 11 kecamatan untuk mempercepat proses pemanenan,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Sido Mulyo, Marjuki, menyebutkan saat ini ada 20 petani yang aktif mengelola 10 hektar lahan Dem Area semi organik. Program yang berjalan sejak dua tahun lalu ini kini telah memasuki musim tanam tahun ketiga dengan tren produktivitas yang terus meningkat.

Marjuki menjelaskan, pada tahun pertama panen mencatatkan hasil 5 ton per hektar, lalu naik menjadi 6 ton per hektar pada tahun kedua, hingga akhirnya melampaui capaian padi konvensional. Selain volume panen, nilai jual beras pascamoleng (selep) turut melonjak dari Rp600.000 menjadi Rp700.000 per kuintal.

Kepala Desa Kemetul, Agus Sudibyo, mengapresiasi kemandirian warganya dan menegaskan bahwa gerakan kembali ke alam ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan materi.

“Gerakan pertanian semi organik ini esensinya adalah menyediakan beras yang lebih sehat dan aman dikonsumsi oleh masyarakat luas,” tandasnya.

Facebook Comments Box

Penulis: Heru SantosoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.