Advertisement

apijiwa.id – Jika Anda melintasi kawasan elit Soekarno-Hatta di Malang (Jawa Timur) hari ini, deretan ruko megah bernilai miliaran rupiah berdiri dengan gagah sebagai simbol kesuksesan. Di salah satu sudutnya, berkibar bendera Ayam Goreng Nelongso—sebuah imperium kuliner yang telah mengepakkan sayap hingga 71 cabang di seantero negeri. Namun, bagi sang pemilik, Nanang Suherman, kemegahan aset itu hanyalah puncak dari gunung es yang dasarnya terbentuk dari air mata dan keringat di dinginnya lantai SPBU.

Mundur ke satu dekade silam, hidup Nanang jauh dari kata layak. Akibat kebangkrutan bisnis biji plastik, ia terjerembab dalam jurang hutang sebesar Rp1,3 miliar. Tanpa atap untuk berteduh, ia dan istrinya terpaksa tidur berpindah-pindah dari satu SPBU ke SPBU lain. Bahkan, demi membiayai persalinan anak pertamanya, Nanang harus memulung sampah selama dua minggu di kawasan Soekarno-Hatta—kawasan yang ironisnya kini menjadi saksi kejayaannya.

Kisah Nanang bukan sekadar narasi keberuntungan, melainkan manifestasi dari resiliensi mental yang luar biasa. Dengan modal sisa Rp500.000, ia merajut kembali martabatnya yang terkoyak. Ada banyak pelajaran fundamental dari perjalanan “Nelongso” Nanang Suherman dalam mengubah derita menjadi raksasa bisnis kuliner.

Filosofi “Nelongso”

Nama “Nelongso” (bahasa Jawa: merana/sedih) tidak lahir dari ruang rapat yang nyaman, melainkan dari tekanan dan penindasan. Saat memulai usaha di sebuah Pujasera, Nanang sempat diintimidasi oleh pedagang senior yang melarangnya menjual menu “lalapan” agar tidak menyaingi mereka.

Terdesak, Nanang melakukan manuver cerdas: ia menjual “sego sambel” yang hanya berisi sayap dan ceker ayam—bagian yang saat itu dianggap sisa. Baginya, menu ini adalah simbol keterbatasan manusia yang kehilangan tangan dan kakinya.

“Nama Ayam Goreng Nelongso itu lahir karena menunya hanya sayap dan ceker. Ibarat manusia, itu tangan dan kakinya. Kalau tangan dan kaki kita diambil, kan ‘nelongso’ rasanya.”

Kejujuran emosional dalam penamaan ini justru menciptakan otentisitas. Pelanggan tidak hanya membeli makanan, mereka mengonsumsi sebuah cerita perjuangan. Nanang membuktikan bahwa brand yang berakar pada realitas manusiawi akan selalu memiliki tempat di hati konsumen.

Dengan modal sisa Rp500.000, Nanang membuktikan bahwa uang hanyalah alat, sedangkan mentalitas adalah mesin utamanya. Setiap musibah yang menimpanya selalu menjadi katalisator untuk lompatan yang lebih besar.

Urutan kejadian krusial dalam perjalanannya:

Pertama; Kehilangan Gerobak sebagai Jalan Keluar. Saat gerobak dagangannya dicuri, Nanang tidak meratap. Kehilangan itu justru memaksanya “hijrah” ke lokasi yang lebih strategis di Pujasera, yang kemudian menjadi cikal bakal kesuksesannya.

Kedua; Metafora Neon Box yang Bertahan. Saat salah satu cabangnya ludes terbakar hingga rata dengan tanah, ada satu detail yang mencengangkan: Neon Box bertuliskan “Ayam Goreng Nelongso” tetap berdiri tegak di tengah puing. Kejadian yang viral di media nasional ini menjadi iklan gratis yang masif, menegaskan pesan bahwa identitas brand-nya ditakdirkan untuk selamat meski fisik bangunannya musnah.

Bagi Nanang, keberuntungan adalah pertemuan antara kesiapan dan peluang yang diambil saat kondisi terdesak.

Manajemen Karakter

Dalam mengelola banyak karyawan di 71 cabang, Nanang memiliki filosofi rekrutmen yang unik. Ia tidak silau dengan CV mentereng atau tenaga profesional yang sudah jadi. Prinsip utamanya adalah mengutamakan karakter di atas keterampilan teknis.

Ia percaya bahwa mengajarkan keterampilan memasak atau manajemen bisa dilakukan dalam hitungan bulan, namun membentuk kejujuran dan loyalitas membutuhkan waktu seumur hidup. Dengan merekrut “orang baik” lalu “memintarkan” mereka, Nanang berhasil membangun struktur organisasi yang solid dan minim konflik internal, yang menjadi fondasi utama ekspansi bisnisnya yang agresif.

Juga, meskipun berawal dari gerobak kaki lima, Nanang sudah memiliki visi korporasi. Ia menyadari bahwa rahasia keberlanjutan bisnis kuliner skala besar terletak pada standardisasi. Ia terinspirasi dari Indomie—sebuah produk yang rasanya tetap konstan siapapun yang memasaknya.

Pertama; Sistem di Atas Sosok. Nanang memastikan bisnisnya tidak boleh tergantung pada sosok sentral (dirinya sendiri). Ia menciptakan SOP agar rasa ayamnya tetap stabil di puluhan cabang.

Kedua; Struktur Korporat Sejak Dini. Sejak masih mengelola satu gerobak, ia sudah membagi timnya ke dalam struktur formal; ada yang berperan sebagai direktur, manajer, hingga supervisor. Langkah ini memastikan bahwa organisasi sudah “bermental besar” sebelum bisnisnya benar-benar membesar.

Support System

Di balik figur Nanang yang tangguh, ada dukungan keluarga yang menjadi jangkar emosionalnya. Sang istri, Yeni Isnawati, adalah saksi bisu masa-masa paling kelam. Nanang mengenang momen emosional saat istrinya rela tidur beralaskan kardus di bawah meja lapak gerobak setelah pulang kerja.

“Saat suasana sepi, saya mendengar celotehan (igauan) dan dengkur istri saya yang kelelahan di bawah meja. Di situ saya bersumpah, ini harus menjadi penderitaan terakhir bagi keluarga saya,” kenang Nanang.

Selain itu, ia sangat mensyukuri didikan mertuanya yang “keras namun tidak kejam”. Saat Nanang ingin menyerah dan berniat transmigrasi, mertuanya menolak memberikan bantuan finansial instan, melainkan mendidiknya untuk bertanggung jawab atas keputusannya sendiri.

“Penting bagi kita membedakan antara ‘keras’ dan ‘kejam’. Mendisiplinkan untuk membentuk karakter itu keras dan perlu, tapi merendahkan martabat itu kejam. Jika karakter tidak dibentuk sejak awal, kita tidak akan pernah menjadi orang yang berguna.”

Era Singa dan Rusa

Perjalanan Nanang Suherman dari memulung sampah hingga memiliki 71 cabang adalah bukti bahwa kesulitan hanyalah proses penyaringan bagi mereka yang layak menang. Nanang menutup kisahnya dengan metafora “Singa dan Rusa” yang sangat relevan bagi dunia bisnis modern.

Dalam kehidupan, tidak peduli Anda terlahir sebagai singa (perusahaan besar) atau rusa (UMKM kecil), kuncinya adalah satu: Anda harus berlari lebih cepat dari yang lain. Singa yang lambat akan mati kelaparan, dan rusa yang lambat akan mati dimangsa. Di era sekarang, ukuran bukan lagi jaminan; hanya kecepatan untuk beradaptasi dan berkembanglah yang menentukan kelangsungan hidup.

Kisah ini meninggalkan sebuah refleksi tajam bagi kita: Di tengah kesulitan yang sedang Anda hadapi saat ini, peluang “Nelongso” apa yang sedang Anda abaikan karena terlalu sibuk meratapi nasib? Ingatlah, neon box kesuksesan Anda mungkin sedang menunggu untuk dinyalakan di tengah puing kegagalan hari ini.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.