apijiwa.id – Kadang ketakutan anak bukan karena dunia yang menakutkan, tapi karena orangtuanya yang terlalu sering berkata: “Awas, nanti jatuh!” Dulu, saya adalah anak yang takut pada segalanya: gelap, petir, bahkan bayangan hantu. Kalau lampu kamar mati, saya lari seperti pelari nasional tanpa medali.
Saudara saya menganggapnya lucu. Mereka tak tahu bahwa di kepala anak kecil, bayangan bisa menjelma monster yang menakutkan. Lucunya, rasa takut itu bukan bawaan lahir, melainkan hasil didikan rumah tangga.
Kata para psikolog, anak yang tumbuh di bawah larangan berlebihan akan membawa surat izin takut seumur hidup. Dunia terasa menakutkan, bukan karena ancamannya nyata, tapi karena ia tak pernah diajari menghadapi.
Di rumah kami dulu, setiap langkah diiringi sirene peringatan: “Awas jatuh!”, “Jangan ke situ!”, “Nanti kotor!”, “Awas capek!” Hidup terasa seperti menjalani pelatihan militer untuk menjadi waspada, bukan berani.
Anak seperti saya akhirnya percaya bahwa keberanian itu berbahaya dan kepatuhan adalah keselamatan. Padahal, kata Carl Jung, Nothing has a stronger influence psychologically on their environment than the unlived life of the parent. Mungkin orangtua saya pun dulunya takut, lalu menurunkannya lewat kata-kata yang penuh kekhawatiran.
Yang paling menakutkan bukan hantu, tapi suara bentakan. Anak yang dimarahi karena nilai turun, bukan dibimbing karena salah hitung, akan menyamakan kesalahan dengan bencana. Saya dulu begitu. Takut gagal, takut dimarahi, takut semua hal.
Ironinya, orangtua sering berkata “Harus berani!” tapi marah ketika anak berani berbeda pendapat. Seperti kata Ki Hajar Dewantara, anak-anak hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Tapi sering kali, kodrat itu dipaksa menjadi fotokopi ketakutan orang dewasa.
Anak-anak Indonesia punya tiga makhluk menakutkan versi rumah: hantu, tukang suntik, dan polisi. Semua muncul dari ucapan klasik orang tua: “Nanti kamu ditangkap, lho!” Akibatnya, anak tumbuh percaya bahwa hukum lebih menyeramkan dari keadilan.
Ini contoh sederhana bagaimana humor dewasa bisa jadi trauma anak. Kita ingin anak patuh, tapi tanpa sadar menanamkan paranoia sosial: takut otoritas, takut salah bicara, takut menjadi diri sendiri. Sebuah warisan yang tidak tercatat di Kartu Keluarga, tapi menempel di karakter.
Suatu hari, ketika anak jatuh dari sepeda, dan dunia tak runtuh. Lutut lecet, tapi rasa bangga muncul: anak berani mencoba. Luka itu ternyata lebih manis daripada ketakutan yang menahun.
Dari situ anak belajar bahwa keberanian tidak lahir dari keberhasilan, tapi dari kesediaan untuk gagal. Soe Hok Gie pernah menulis, hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya. Dan tanda tanya terbesar masa kecil saya ternyata bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi: kapan anak boleh salah tanpa dimarahi?
Anak tidak butuh orangtua yang sempurna; mereka butuh tempat aman untuk kembali setelah takut. Maka, ketika anak menangis karena gelap, peluklah dulu sebelum memberi nasihat. Validasi (kemampuan diri untuk menghargai pencapaian ataupun emosi yang dialami) emosi mereka—karena keberanian tumbuh dari rasa diterima, bukan disuruh.
Anak tidak butuh ceramah tentang keteguhan, anak butuh seseorang yang berkata, “Tidak apa-apa takut, yang penting kita hadapi bersama”. Dari situlah anak tahu, keberanian bukan soal tidak takut, tapi soal tahu ke mana harus berpulang.
Kalimat sederhana bisa mengubah masa depan. Awas! menanamkan ketegangan, tapi “Ayo coba!” menanamkan rasa percaya. Anak tidak lahir dengan keberanian, ia belajar dari setiap tantangan kecil yang disambut dengan pujian tulus.
Maka, berhentilah mencetak anak penurut; bantu mereka jadi anak yang tahu cara berpikir sendiri. Karena hidup bukan ujian hafalan, tapi latihan menghadapi ketidakpastian. Setiap keberanian kecil, bahkan sekadar bicara di depan kelas, adalah tanda anak sedang membangun tulang punggung jiwanya.
Ketika anak tidak lagi takut bayangan, anak akan tahu, bayangan hanya muncul ketika ada cahaya. Begitu pula ketakutan: ia menandakan ada keberanian yang sedang menunggu ditemukan. Maka, jika dulu anak lari dari gelap, maka kini anak berjalan menembusnya.
Anak akan belajar. Mendidik anak bukan soal menjauhkan mereka dari bahaya, tapi mengajari mereka menyalakan lampu dalam diri. Seperti pepatah Batak, Na so sabar, so jadi; na sabar, jadi raja di ujung (Yang tak sabar takkan berhasil; yang sabar akan jadi mulia pada akhirnya).
Kadang keberanian terbesar adalah mengalah pada ketakutan sendiri—dan tetap melangkah.
Aswan Nasution — penulis yang gemar menertawakan ketakutan masa kecilnya sebelum menuliskannya menjadi refleksi hangat. Percaya bahwa setiap anak lahir berani, sampai seseorang mengatakan “Tak Boleh.”
Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas













