Advertisement

apijiwa.id – Pernahkah kita merenungkan sebuah kontradiksi yang kerap terjadi setiap tahun? Di bulan yang seharusnya menjadi momen penyucian diri, banyak di antara kita justru mengakhirinya dengan tubuh yang terasa lebih berat, stamina yang merosot, atau bahkan munculnya keluhan kesehatan baru.

Secara fitrah, mengurangi frekuensi makan seharusnya mengantarkan tubuh pada derajat kesehatan yang lebih tinggi. Namun, realitanya, kita sering terjebak dalam siklus “balas dendam” yang mencederai ritme biologis kita sendiri.

Dr. Husen A. Bajry, pakar kesehatan holistik dan pendiri Holistic Tourist Hospital, memandang puasa bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan metode detoksifikasi tercepat dan paling efektif yang pernah ada. Namun, ada sebuah kebenaran tajam yang perlu kita maknai agar ibadah ini tidak sekadar menjadi perpindahan jam makan, melainkan sebuah simfoni penyembuhan seluler (cellular healing) yang utuh.

Puasa Islam, Puasa Terburuk di Dunia?

Kisah ini berawal ketika Dr. Husen A. Bajry menempuh studi doktoral di India. Saat mengajukan disertasi berjudul “Bajry Diet Fasting Therapy”—sebuah metodologi yang memadukan puasa Islam, terapi jus, dan terapi diet—ia justru menghadapi penolakan keras dari guru besarnya.

Sang Profesor, seorang penganut Hindu yang sangat mengenal komunitas Muslim, melontarkan pernyataan yang menggetarkan sanubari: ia menyebut puasa umat Islam adalah puasa terburuk dan paling berbahaya.

Kritik tersebut (sesungguhnya) bukan ditujukan pada esensi ajarannya, melainkan pada anatomi perilaku makan para penganutnya yang ia observasi secara langsung:

“Saya amati hampir di semua orang Islam yang saya kenal, ketika mereka berbuka puasa, mereka langsung minum dan makan, yang tidak jarang mereka makan hingga sekenyang-kenyangnya. Bahkan tidak sedikit saya melihat, mulut orang Islam makan dari sejak berbuka puasa sampai mau tidur, mulutnya (seakan) tidak pernah berhenti,” Kata sang Professor.

Menurut sang Profesor, memasukkan beban makanan padat dalam porsi besar secara tiba-tiba ke perut yang telah beristirahat selama 14 jam adalah sebuah kekeliruan fatal yang berisiko merusak lambung dan sistem metabolisme secara permanen.

Menanggapi kritik tajam tersebut, Dr. Husen memberikan pembelaan yang mencerahkan. Apa yang diobservasi oleh sang Profesor adalah perilaku “oknum”—kendati pelakunya sangat banyak, bukan cerminan dari tuntunan luhur sang Nabi. Dalam perspektif holistik, kita harus berani beranjak dari puasa formalitas (yang hanya mengejar keabsahan hukum fiqh dengan menahan lapar di siang hari) menuju puasa substansial.

Puasa substansial adalah tentang pengendalian diri yang sejati. Nabi tidak pernah mengajarkan pesta pora saat berbuka. Sebaliknya, beliau mengajarkan sebuah revolusi ekonomi dan biologis: mengurangi anggaran dapur selama Ramadan dan mengontrol asupan makanan dengan ketat.

Esensi puasa adalah membatasi asupan guna memberikan hak istirahat bagi organ tubuh, bukan sekadar memindahkan jadwal makan siang menjadi makan malam dengan porsi ganda.

Secara biologis, puasa adalah saat di mana tubuh melakukan self-cleaning atau pembersihan mandiri. Di dunia modern, kita hidup dalam gempuran toksin dari industri makanan—mulai dari pewarna, perasa, hingga pengawet, yang seringkali melampaui batas toleransi tubuh. Akumulasi sampah metabolisme inilah yang menjadi akar dari segala penyakit kronis.

Ketika sistem pencernaan berhenti bekerja, energi yang biasanya terkuras untuk mengolah makanan dialihkan sepenuhnya untuk melakukan perbaikan seluler. Dr. Husen mengungkapkan fakta medis yang luar biasa:

Pertama; Akselerasi Pembuangan Racun: Saat berpuasa dengan benar, organ hati dan limpa mampu membuang racun 10 kali lipat lebih banyak dibandingkan kondisi biasa. Kedua; Restorasi Organ: Tanpa adanya beban makanan berat, tubuh memiliki kesempatan untuk memperbaiki kerusakan jaringan yang selama ini terabaikan.

Ketiga; Efek Anti-Aging Nyata: Pengeluaran racun yang masif menghasilkan dampak visual berupa wajah yang lebih berseri dan peremajaan sel yang menghambat penuaan dini.

Siklus nutrisi yang mencederai fitrah tubuh seringkali dipicu oleh apa yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka. Mengacu pada pendekatan yang sering dipaparkan oleh Dr. Zaidul Akbar, seorang praktisi kesehatan Islam, proses detoksifikasi akan terhenti seketika jika kita terus memasukkan “makanan sampah” yang rendah gizi namun tinggi toksin.

Berikut adalah daftar hitam yang harus kita waspadai: Sirup: Cairan yang sarat akan gula pasir dan pemanis buatan. Gorengan: Makanan yang diolah dengan minyak trans yang merusak elastisitas sel. Karbohidrat Simpleks: Segala jenis makanan berbasis tepung-tepungan (kue, biskuit, dll). Nasi Putih: Karbohidrat yang telah kehilangan mineral esensialnya. Zat Aditif: Makanan kemasan yang mengandung pengawet kimia. Dan Gula Pasir: Sumber inflamasi utama yang memicu lonjakan gula darah secara drastis.

Kembali ke Keutuhan Alam

Untuk mencapai hasil kesehatan yang transformatif, kita perlu menerapkan prinsip “Sederhanakan dan Utuhkan”. Berhenti mengonsumsi makanan yang telah melalui proses pabrikan panjang (ultra-processed food) dan kembalilah ke sumber nutrisi yang murni:

Pertama; Sumber Manis Alami: Pilihlah kurma, madu, atau buah-buahan segar seperti nanas dan anggur sebagai pembuka yang ramah bagi lambung.

Kedua; Lemak Fungsional: Gunakan minyak zaitun atau Virgin Coconut Oil (VCO) untuk mendukung kesehatan sel.

Ketiga; Karbohidrat Kompleks: Ganti nasi putih dengan beras merah, beras hitam, ubi jalar, singkong, atau kentang.

Kelima; Optimasi Protein: Dalam pendekatan Dr. Zaidul, utamakan protein nabati yang bisa didapatkan dari alpukat dan brokoli.

Pro-Tip untuk detoksifikasi optimal ala Dr. Zaidul: Jika kita menginginkan revolusi kesehatan total selama Ramadan, batasi asupan protein hewani (seperti daging) hingga hanya 15-20% saja dalam sebulan. Secara praktis, konsumsilah protein hewani cukup satu kali dalam seminggu. Strategi ini akan memastikan mesin pencernaan kita benar-benar beristirahat dan proses pembersihan tubuh berjalan di level maksimal.

Pada akhirnya, Ramadan bukanlah ritual tahunan untuk sekadar menunda lapar, melainkan sebuah kesempatan emas bagi tubuh untuk memulihkan diri dari beban toksin yang kita tumpuk sepanjang tahun. Tubuh kita memiliki hak untuk beristirahat dan puasa adalah cara terbaik untuk menunaikan hak tersebut.

Jangan menunggu hingga tubuh terkulai lemah karena penyakit kronis sebelum memutuskan untuk berubah. Jadikan bulan suci ini sebagai titik balik transisi gaya hidup. Pilihan ada di tangan kita.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.