Advertisement

apijiwa.id – Asia-Pasifik ini kalau diibaratkan kedai kopi, sudah seperti warkop 24 jam yang asapnya bukan dari air mendidih, tapi dari jutaan batang rokok yang menyala serentak. Di sinilah strategi pengurangan bahaya tembakau mencoba masuk seperti barista baru yang menawarkan kopi hitam tanpa gula—lebih sehat, tapi tetap bikin melek.

Dalam kacamata humaniora, memaksa orang berhenti merokok itu sama sulitnya dengan memaksa bapak-bapak berhenti main catur di pos ronda. Kata Prof. Tjandra Yoga Aditama, perubahan kebiasaan itu butuh pendekatan lembut, bukan bentakan.

Jepang memulai revolusi tembakau dipanaskan dan hasilnya lebih cepat dari barista bikin espresso doppio. Penurunan perokok dari 21% ke 16% membuat banyak negara tercengang: kok bisa? Dalam teori kesehatan perilaku, manusia akan berubah kalau disediakan alternatif yang tidak membuat hidup terasa “kurang enak”.

Pengguna Jepang pindah ke produk baru seperti pelanggan pindah ke kopi literan murah meriah—efektif banget. Humor akademiknya begini: ternyata yang dibutuhkan bukanlah larangan keras, tetapi teknologi yang bisa “merokok tanpa merasa merokok.”

Selandia Baru bahkan lebih lucu. Pemerintahnya bilang vaping itu alternatif lebih aman, dan warganya langsung mengikuti seperti netizen mengikuti tren kopi dalgona waktu pandemi. Hasilnya? Tingkat merokok turun lebih cepat dari diskon kilat marketplace.

Rawat inap PPOK pun ikut turun, seolah paru-paru warga Selandia Baru sedang bersenang-senang. Humaniora mengajarkan bahwa manusia cenderung berubah kalau tidak dinyinyiri berlebihan. Jadi, pendekatan negara ini sukses karena ikut prinsip: bantu dulu, baru nasehati. Kayak barista yang ngasih tester kopi dulu, baru promosi besar-besaran.

Swedia lain cerita. Mereka hampir bebas asap, meski tetap mengonsumsi nikotin lewat snus dan kantong nikotin. Ini seperti orang yang berhenti minum kopi tubruk tapi pindah ke cold brew—lebih halus, tapi tetap bikin hidup terasa waras. Tingkat kematian akibat kanker lebih rendah 34% dibanding negara Uni Eropa lain, bikin banyak akademisi melongo.

Kata Dr. Pandu Riono, tugas kesehatan masyarakat bukan memarahi, tetapi mengarahkan dengan bukti. Swedia sudah seperti pelanggan tetap warkop yang tiba-tiba sadar: hidup sehat ternyata tak menyakitkan.

Asia-Pasifik dengan 600 juta perokoknya mirip antrean panjang beli kopi gratis di pembukaan kedai baru. Semua berjubel, tapi tak ada yang benar-benar tahu mau berhenti. Di negara-negara berpenghasilan menengah, alat berhenti merokok yang efektif sering terlalu mahal, sehingga rokok jadi pilihan paling “terjangkau walau berisiko”.

Ini contoh klasik bagaimana faktor sosial membentuk perilaku. Humaniora bilang: jangan salahkan orang, salahkan sistem yang tidak memberi pilihan lebih baik. Makanya, pengurangan bahaya bukan sekadar solusi, tapi opsi paling realistis.

Di India dan Bangladesh, gutka dan tembakau oral sudah seperti kerupuk pada nasi goreng—selalu ada dan susah dilepaskan. Masalahnya, risiko penyakitnya serius. Mengganti produk itu dengan kantong nikotin ibarat mengganti kerupuk keras dengan roti lembut—lebih aman, meski rasanya beda.

Dalam teori transisi perilaku, peralihan kecil punya dampak besar. Tetapi, peralihan ini tidak bisa dipaksakan. Orang perlu waktu, seperti butuh waktu memahami kenapa kopi hitam tanpa gula dianggap lebih nikmat oleh para senior yang “jiwanya sudah pahit duluan.”

Indonesia… ah, ini dia. Negeri dengan kreativitas tanpa batas, termasuk dalam urusan merokok. Dari merokok sambil naik motor, sambil panen sawit, sampai sambil mancing tengah malam. Tingkat konsumsi tinggi, edukasi sering kedodoran.

Kata Prof. Zubairi Djoerban, kebijakan kesehatan itu harus berani mengikuti bukti meski tidak selalu populer. Indonesia punya peluang besar jika mau memakai pendekatan pengurangan bahaya, karena menunggu orang berhenti total itu seperti menunggu mantan kembali—bisa saja terjadi, tapi peluangnya kecil tanpa strategi cerdas.

FCTC sebenarnya punya pasal tentang pengurangan bahaya, tapi sering diperlakukan seperti bubuk kopi yang mengendap: ada, tapi tak diaduk. WHO pun belum sepenuhnya mengakomodasi inovasi ini. Padahal, di negara yang sudah mencoba, hasilnya terlihat jelas.

Secara humaniora, mengabaikan bukti demi idealisme adalah tindakan yang “kurang bijak”—ibarat barista menolak memakai mesin kopi modern hanya karena “tradisi.” Dunia kesehatan tidak boleh takut pada teknologi, selama risikonya lebih rendah dan diawasi ketat.

Keberhasilan Jepang, Swedia, dan Selandia Baru menunjukkan pola lucu tapi masuk akal: berikan alternatif yang realistis, masyarakat akan berubah tanpa drama. Pengurangan bahaya bukan mempromosikan nikotin, tetapi meminimalkan risiko.

Dalam ilmu kesehatan masyarakat, ini adalah strategi pragmatis seperti mengganti gorengan minyak hitam dengan gorengan minyak baru—tetap gorengan, tapi tidak langsung bikin kolesterol protes. Negara-negara Asia Pasifik harus jujur pada kenyataan: solusi total tidak selalu berhasil, tapi solusi bertahap sangat mungkin.

Akhirnya, pengurangan bahaya tembakau adalah seni menawarkan jalan lebih aman tanpa memaksa. Seperti barista berkata, “Kalau belum siap kopi pahit, coba dulu kopi susu tanpa gula.” Perokok juga begitu—butuh transisi, bukan ultimatum.

Asia-Pasifik tidak bisa lagi membiarkan 600 juta orang terus berasap tanpa arah. Waktunya memadukan bukti ilmiah, empati humaniora, dan humor secukupnya agar edukasi tidak terasa seperti ceramah. Kalau bisa membuat kesehatan jadi lebih ringan, kenapa harus dibuat rumit?

Tidak ada asap yang lebih bijak daripada udara bersih. Tugas kita bukan sekadar menyuruh orang berhenti, tetapi memberi pilihan yang membuat mereka mampu berubah. (Prof. Zubairi Djoerban).

Horas Hubanta Haganupan.

Horas …Horas … Horas.

Facebook Comments Box

Penulis: Aswan NasutionEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.