Advertisement

apijiwa.id – Manusia selalu punya cara untuk mencari hiburan, baik di era digital saat ini maupun di masa lampau. Jika hari ini kita mengagumi kemegahan konser dan festival seni akbar, para leluhur di era Jawa klasik ternyata telah menguasai seni meracik tontonan kolosal yang sanggup menyedot perhatian seluruh penjuru negeri. Di tengah sunyinya malam berhiaskan cahaya pelita, panggung-panggung pertunjukan tradisional bukan sekadar tempat melepas penat, melainkan ruang perhelatan megah yang penuh daya pikat.

Lebih dari sekadar tontonan visual, panggung-panggung tersebut adalah teater raksasa tempat edukasi, seni, dan emosi manusia melebur menjadi satu. Setiap tabuhan gamelan dan gerak tubuh penari mampu mengendalikan detak jantung ribuan penonton yang hadir. Menjelajahi dunia hiburan Jawa klasik berarti membuka pintu ke masa ketika seni menjadi denyut nadi utama peradaban yang merajut kebersamaan seluruh isi kerajaan.

Dunia pertunjukan hari ini memang begitu meriah dan menjadi bagian penting dari industri kreatif. Menurut Departemen Perdagangan RI (2009), industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan keterampilan, kreativitas, dan bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan. Industri ini berfokus pada pemberdayaan daya cipta dan kreasi seseorang, di mana seni pertunjukan menjadi salah satu pilar utamanya. Melihat pesatnya perkembangan dunia seni pertunjukan saat ini, timbul rasa penasaran: bagaimana sebenarnya dinamika dunia seni pertunjukan pada era Jawa klasik?

Pintu ke Masa Klasik

Kembali ke masa klasik bukanlah bentuk nostalgia semata atau sekadar overproud terhadap masa lalu, melainkan upaya menyapa kembali jejak seni pertunjukan yang pernah ditorehkan oleh para leluhur Nusantara.

Seni pertunjukan wayang kulit. (apijiwa.id/Ari Tri Winarno)

Masa klasik—atau zaman Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia—berlangsung dari sekitar abad ke-4 hingga awal abad ke-16, ditandai dengan berdirinya Kerajaan Kutai hingga runtuhnya Majapahit. Periode ini sangat krusial karena sejarah Indonesia mulai dicatat secara tertulis melalui prasasti dan relief candi. Catatan-catatan tersebut tidak hanya memuat cerita epik atau aturan kerajaan, tetapi juga merekam kehidupan sosial masyarakat. Berdasarkan bukti-bukti sejarah itu, diketahui bahwa masyarakat masa klasik telah menikmati berbagai bentuk hiburan, khususnya seni pertunjukan seperti wayang, tari, musik, dan lawak.

Profesor Boechari dalam bukunya, Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti (2012), mencatat bahwa pada era Jawa klasik, profesi seniman sudah diakui secara resmi dan bahkan dikenakan pajak. Ini membuktikan bahwa seniman kala itu merupakan profesi formal yang terstruktur. Prasasti-prasasti kuno merekam daftar pekerja seni yang dikenai pajak, mulai dari pemukul gendang, penari wayang, penari topeng, hingga pelawak. Para seniman ini kerap berkeliling (show off) dari kampung ke kampung atau tampil dalam upacara adat penting, seperti penetapan tanah Sima (tanah perdikan bebas pajak).

Pertunjukan Wayang

Dalam prasasti masa klasik, pertunjukan wayang tercatat sebagai salah satu hiburan yang sangat populer. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa istilah khusus seperti awayang, ringgit, aringgit, dan haringgit. Kata ringgit sendiri berarti wayang, yang hingga kini masih digunakan dalam bahasa Jawa tingkat krama. Istilah-istilah ini umumnya tercantum dalam prasasti saat membahas daftar profesi saksi upacara penetapan tanah sima, rincian pekerjaan penduduk, serta aturan wilayah setempat.

Beberapa prasasti penting yang mencatat tentang pertunjukan wayang di antaranya:

  • Prasasti Wukajana (830 Saka / 908 M). Berasal dari masa pemerintahan Raja Mataram Kuno, Dyah Balitung. Prasasti ini terkenal karena memuat catatan tertulis tertua mengenai seni pertunjukan tradisional Jawa, menyebutkan sosok bernama Si Galigi yang sedang mawayang buat hyang (memainkan wayang untuk pemujaan arwah leluhur atau roh para dewa).
  • Prasasti Kuti (762 Saka / 840 M). Memuat istilah hariṅgit (dari kata dasar riṅgit) yang disandingkan dengan berbagai profesi penduduk lainnya.
  • Prasasti Garaman (975 Saka / 1053 M). Selain memuat aturan desa sima, prasasti ini mencatat berbagai pekerjaan warga setempat, termasuk seniman wayang dengan istilah ariṅgit.
  • Prasasti Sangguran (850 Saka / 928 M). Menceritakan kisah seorang dalang bernama Rahina yang hadir sebagai saksi upacara penetapan tanah sima dan menerima hadiah berupa perak serta kain. Prasasti ini juga mencatat bahwa Rahina mementaskan pertunjukan wayang pada malam hari setelah upacara selesai.

Soni Sadono, Brilindra Pandanwangi, dan Danil Kasputra dalam Jurnal Sejarah Indonesia (2025) menyebutkan bahwa masyarakat Jawa kuno telah mengenal berbagai jenis wayang, di antaranya:

  • Wayang Beber. Menurut Kitab Sastro Mirudo, mulai dibuat pada tahun 1283 M dan dimainkan dengan cara dibentangkan (dibeber).
  • Wayang Kulit Purwa. Keberadaannya diperkirakan ada sejak abad ke-11 M berdasarkan catatan dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa. Wayang Purwa umumnya membawakan cerita epik Mahabharata dan Ramayana yang dipadukan dengan kearifan lokal Jawa. Jenis ini mulai dipopulerkan sebagai hiburan masyarakat luas oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Kadiri, setelah sebelumnya lebih sering digunakan dalam ritual keagamaan.

Banyak pendapat menyatakan bahwa pertunjukan wayang kulit sebenarnya telah ada sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Jawa. Kemudian pada era Hindu-Buddha, kesenian ini berkembang pesat dengan mengadopsi kisah-kisah epik dari India.

Pada masa penyebaran Islam di Jawa, wayang kulit dialihfungsikan sebagai media edukasi dan dakwah. Kisah-kisah yang berkembang sebelumnya diracik ulang dengan nilai-nilai Islam seperti yang kita kenal sekarang. Salah satu tokoh utama yang dipandang sangat berjasa mengembangkan wayang sebagai media dakwah adalah Raden Mas Syahid (Sunan Kalijaga).

Alunan Musik, Olah Tari, dan Seni Humor Masa Klasik

Pada masa klasik, alat musik memiliki fungsi yang sangat beragam: mulai dari sarana ritual keagamaan, atribut tokoh tertentu, hingga hiburan sehari-hari. Keberadaan instrumen ini dapat dibuktikan melalui relief dinding Candi Borobudur yang merekam kelompok masyarakat sedang memainkan kendang, siter, kecapi, simbal, suling, dan saron.

Alat-alat musik tersebut turut mengiringi semaraknya seni tari yang dihadirkan dalam upacara penetapan tanah sima, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Taji (901 M) dan Prasasti Poh (905 M). Pada peristiwa itu, para pejabat hingga rakyat biasa menari bersama penuh semangat. Relief Borobudur dan Prambanan pun memperlihatkan bahwa struktur tarian tersebut telah selaras dengan kaidah seni tari klasik India dari kitab Natyasastra, yang membedakan antara tarian bergaya India untuk kaum bangsawan dan tarian rakyat untuk masyarakat umum.

Tradisi yang memadukan musik dan tari ini terus berkembang subur hingga era Tumapel/Singhasari dan Majapahit, sebagaimana dikisahkan dalam kitab Desawarnana (Nagarakretagama). Mpu Prapanca mencatat perayaan kolosal Srada Agung (upacara peringatan kematian Rajapatni Gayatri) yang menyajikan pelbagai kesenian rakyat—seperti tembang berbalas, penuturan dongeng, pertunjukan wayang, tari topeng, hingga adu ketangkasan—yang disaksikan langsung oleh rakyat dari berbagai lapisan.

Tak hanya tari dan musik, seni lawak juga menjadi bagian penting yang sangat digemari dalam kehidupan masyarakat Jawa kuno, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Poh (905 M). Pertunjukan komedi pada masa itu secara garis besar terbagi menjadi dua jenis, yaitu humor visual dan humor verbal. Humor visual mengandalkan kelucuan gestur, gerakan fisik, tarian, serta ekspresi tubuh; sedangkan humor verbal berfokus pada kelucuan melalui permainan kata, cerita satire, dan candaan cerdas.

Kepopuleran seni komedi ini juga diabadikan dalam Prasasti Alasantan (939 M), membuktikan bahwa tradisi humor telah lama hidup, diwariskan, dan terus bertransformasi hingga era-era berikutnya di Nusantara.

Menggaungkan Seni di Tengah Karut-Marut Negeri

Seni pertunjukan era Jawa klasik—mulai dari wayang, musik, tarian, hingga lawak—membuktikan bahwa kreativitas telah lama menjadi bagian yang terstruktur, diakui secara resmi, dan melekat erat dalam peradaban Nusantara. Melalui catatan prasasti dan relief candi, para leluhur berhasil meracik ruang hiburan kolosal yang tidak hanya merajut kebersamaan sosial, tetapi juga menghidupkan ruang ekspresi yang merdeka.

Relevansi sejarah ini terasa sangat kontras jika ditarik ke kondisi hari ini. Di satu sisi, proses berkarya seringkali dipersulit oleh kendala birokrasi, aturan kaku, serta hambatan administratif yang tidak esensial. Di sisi lain, para kreator dan masyarakat harus bertahan di tengah situasi negeri yang karut-marut; mulai dari lonjakan harga kebutuhan pokok dan BBM, maraknya praktik jual beli jabatan, korupsi yang menggerogoti keuangan negara, hingga belum optimalnya sektor pendidikan yang kerap diabaikan para pemangku kebijakan.

Jika di era Jawa klasik seniman ditempatkan sebagai bagian penting yang diatur dan diakui secara legal—bahkan dikenakan pajak sebagai bentuk formalitas profesi yang bermartabat—ironisnya, negara hari ini kerap absen dalam memberikan perlindungan dan ekosistem yang layak bagi para pekerja kreatif.

Padahal, semangat para seniman masa klasik yang tetap hidup di tengah dinamika zamannya dapat menjadi cerminan sekaligus kritik keras bagi realitas saat ini. Berkarya pada hakikatnya adalah bentuk kritik sosial yang paling jujur dan elegan. Di masa lalu, unsur humor verbal dalam lawak dan kisah simbolik dalam wayang difungsikan sebagai sarana menyuarakan kegelisahan rakyat tanpa takut dibungkam.

Hari ini, ketika hukum dan birokrasi terasa tumpul ke atas tetapi tajam ke bawah, menjadikan karya sebagai medium perlawanan dan kritik menjadi semakin mendesak. Seni harus terus mengambil peran sebagai kontrol sosial, ruang refleksi, dan pengingat nurani agar penyelewengan kekuasaan serta ketidakadilan tidak pernah dibiarkan melenggang bebas tanpa perlawanan.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.