apijiwa.id – Kedatangan Nabi Muhammad Saw telah dikabarkan jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan, sebagaimana tercantum dalam kitab Taurat. Hal ini menjadi keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh nabi dan rasul lainnya, apalagi manusia biasa.
Demikian ditegaskan oleh Kepala SD Islam YATPI Godong, Kiai Ali Mahsun, S.Pd.I., M.Pd., saat menyampaikan ceramah dalam Pengajian Maulid Nabi Muhammad saw 1448 H yang digelar Dewan Kemakmuran Musholla (DKM) Thoriqul Ikhlas, Desa Bugel, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Kamis (27/8/2026) usai salat Magrib berjemaah.
Dalam ceramahnya, Kiai Ali Mahsun menyoroti keagungan akhlak Rasulullah Saw sebagai keistimewaan utama. Ia mengutip jawaban istri Nabi yang menjelaskan bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an (khuluquhul Qur’an). Tak hanya itu, Kiai Ali juga mengajak para jemaah untuk merenungi fase perjalanan hidup manusia—mulai dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, menikah, memiliki anak, hingga akhirnya menua dan wafat.
Kiai asal Desa Harjowinangun itu melemparkan pertanyaan retoris mengenai arah tujuan manusia setelah memasuki usia tua, guna mengingatkan bahwa akhir perjalanan manusia adalah kematian dan kehidupan akhirat.

Sebagai bekal menghadapi akhirat, Kiai Ali mengimbau jemaah untuk tidak melalaikan ibadah. Ia meminta kaum ibu untuk segera mengambil wudu serta memakai mukena saat azan berkumandang, begitu pula kaum bapak untuk mengenakan sarung dan peci demi menunaikan salat berjemaah di musala. Menurutnya, berfokus mengejar urusan duniawi dengan meninggalkan ibadah hanya akan membawa hasil yang muspro atau sia-sia.
Pesan ceramah Kiai Ali Mahsun tersebut sejalan dengan arahan Ketua Dewan Kemakmuran Musholla (DKM) Thoriqul Ikhlas, Badiatul Muchlisin Asti. Dalam sambutannya di hadapan pengurus DKM dan jemaah, Badiatul menyampaikan bahwa kegiatan sederhana ini menjadi momen penting untuk mengenal sosok Nabi lebih dalam.
Setelah 12 hari berturut-turut melantunkan pembacaan Maulid Al-Barzanji setiap malam, jemaah diharapkan tidak sekadar membaca teks bahasa Arabnya tanpa memahami maknanya, tetapi juga ma’rifat (mengenal) dan meneladani keagungan akhlak beliau sebagai wujud mahabbah atau rasa cinta yang sejati.











