Advertisement

apijiwa.id – Tersembunyi di tengah Bumi Para Wali, sebuah bangunan bersejarah menyimpan jejak panjang perjalanan komunitas Tionghoa di Demak. Klenteng Poo An Bio bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga saksi bisu perjumpaan berbagai budaya dan tradisi di pesisir utara Jawa.

Di balik dinding berbalut warna merah dan ornamen khas Tionghoa, klenteng ini merekam kisah tentang komunitas perantauan, dinamika tata ruang kota, hingga kehidupan keagamaan yang terus bertumbuh. Keberadaannya terasa kian istimewa karena berdiri kokoh di sebuah kawasan yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat syiar Islam di Pulau Jawa.

Lantas, bagaimana rekam jejak sejarah Poo An Bio hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi Kota Wali?

Jejak Panjang dan Perpindahan Ruang Kota

Akar sejarah Klenteng Poo An Bio membentang jauh hingga akhir abad ke-17. Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, keberadaannya dapat ditelusuri sejak sekitar tahun 1690. Pada masa awal pendiriannya, klenteng ini tidak berada di lokasi sekarang, melainkan di kawasan yang kini masuk wilayah Kecamatan Bonang.

Secara kosmologis dan arsitektural tradisional Tiongkok, bangunan awal tersebut dirancang menghadap ke arah barat laut. Pemilihan lokasi pesisir ini selaras dengan posisi vital Demak sebagai jalur perdagangan dan mobilitas masyarakat kala itu—dua faktor penting yang membentuk cikal bakal komunitas Tionghoa di wilayah setempat.

Seiring bergesernya garis pantai dan dinamika permukiman, hubungan kawasan lama dengan pusat aktivitas kota turut mengalami perubahan. Pada tahun 1968, atas kesepakatan para sesepuh dan tokoh masyarakat Tionghoa Demak, lokasi Poo An Bio dipindahkan ke Jalan Siwalan Nomor 3, Stinggil, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak.

Berdampingan dalam Lingkaran Tradisi

Keputusan relokasi tersebut menempatkan Poo An Bio persis di sebelah timur Alun-alun Demak. Posisi baru ini membuat bangunan klenteng berada di jantung kota dan berdekatan dengan situs-situs bersejarah, termasuk Masjid Agung Demak. Berdirinya dua rumah ibadah dari tradisi yang berbeda dalam satu ruang perkotaan menjadi cermin keharmonisan dan keberagaman di Demak.

Dinamika politik nasional pada 1965 juga turut membawa perubahan pada tata kelola keagamaan komunitas Tionghoa di Indonesia. Menyesuaikan dengan kebijakan negara masa itu, Poo An Bio mengadopsi nama Vihara Budi Luhur. Penamaan ini erat kaitannya dengan tradisi Tri Dharma yang memadukan ajaran Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Hingga kini, vihara tersebut tetap berfungsi sebagai pusat spiritualitas bagi komunitas Tionghoa dan umat Buddha di Demak dan sekitarnya.

Secara visual, arsitektur Klenteng Poo An Bio menyajikan kontras estetika yang menawan. Dinas Pariwisata Demak bahkan melukiskan keberadaan klenteng ini ibarat “batu rubi merah di hamparan hijaunya zamrud” di tengah dominasi arsitektur Islami Bumi Wali.

Dominasi warna merah dan kuning emas menghiasi setiap sudut bangunan—lambang keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran dalam tradisi Tionghoa. Atapnya melengkung anggun dengan hiasan ornamen naga yang rincinya begitu terjaga. Di area altar, deretan rupang tertata dengan takzim di tengah harum semerbak hio dan pendar hangat lampion merah, menghadirkan nuansa peribadatan yang khusyuk dan tenang.

Oase Budaya dan Destinasi Perjalanan Spiritual

Di era modern, peran Klenteng Poo An Bio telah bertransformasi melampaui fungsi utamanya sebagai tempat ritual keagamaan. Berdasarkan penuturan para pegiat Komunitas Tionghoa Demak, klenteng ini kini menjelma menjadi simpul kegiatan sosial dan budaya yang dinamis.

Tempat ini tak hanya menjadi destinasi wisata religi bagi pengunjung yang ingin mempelajari keanekaragaman sejarah serta keindahan arsitektur Nusantara, tetapi juga berfungsi sebagai titik transit favorit bagi rombongan peziarah jalur Pantura yang menyusuri klenteng-klenteng pesisir utara Jawa.

Kehadirannya kian terasa hidup saban perayaan Imlek dan Cap Go Meh, saat kawasan Jalan Siwalan disemarakkan oleh pementasan Barongsai dan doa bersama—sebuah tradisi tahunan yang melampaui batas komunitas dan menjelma menjadi pesta rakyat bagi seluruh masyarakat.

Merawat Memori Kebinekaan Nusantara

Klenteng Poo An Bio atau Vihara Budi Luhur adalah bagian penting dari memori kolektif yang merekam jejak keterbukaan pesisir utara Jawa. Kehadirannya yang berdampingan dengan simpul-simpul peradaban Islam membuktikan bahwa sejarah Demak dibentuk oleh rajutan pelbagai tradisi dan budaya.

Dalam konteks Indonesia hari ini, keberadaan Poo An Bio menyampaikan pesan penting di tengah tantangan intoleransi dan polarisasi sosial. Kehadiran situs ini menegaskan bahwa perjumpaan lintas budaya dan keyakinan bukanlah hal baru, melainkan akar yang telah menopang kehidupan masyarakat Nusantara sejak dulu.

Merawat bangunan bersejarah seperti Poo An Bio bukan sekadar merawat struktur fisik tua, melainkan menjaga ingatan bersama tentang indahnya hidup berdampingan. Dari sebuah klenteng di pusat Kota Wali, kita diingatkan kembali bahwa keberagaman adalah warisan sejarah yang patut terus dijaga.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.