Advertisement

“Dirimu yang selama ini ada di situ, mengapa hanya dalam sesaat ke tempat diriku  berada? Hissatsu Teleport..”

apijiwa.id – Begitulah potongan lirik dari salah satu lagu terkenal JKT48 berjudul Hissatsu Teleport (Jurus Rahasia Teleport). Bicara soal grup idola yang digandrungi banyak orang ini, dunia hiburan tanah air memang seringkali menyimpan kisah menarik yang luput dari perhatian publik.

Di balik tarian dinamis, lagu pop yang penuh semangat, dan senyum manis khas seorang idola, tersimpan sebuah fakta mengejutkan: salah satu anggotanya memiliki garis keturunan bangsawan. Sosok tersebut adalah Freyanashifa Jayawardana, atau yang akrab disapa Freya JKT48. Meski bukan oshi saya, kali ini saya ingin mengulas betapa menariknya sosok Freya sang pewaris darah biru ini.

Lahir di Tangerang pada 13 Februari 2006, gadis yang dikenal dengan julukan “Senyuman Karamel” ini ternyata merupakan keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II, salah satu penguasa Kesultanan Yogyakarta. Sekilas, kehidupan idola remaja memang identik dengan gaya hidup perkotaan yang serba modern. Namun jika menelusuri silsilah keluarganya, jejak sejarah Freya terhubung langsung ke masa lalu di balik tembok Keraton Yogyakarta.

Jejak Silsilah, Gelar Bangsawan, dan Harmoni di Panggung Pop

Darah biru yang mengalir dalam diri Freya berasal dari sisi sang ayah. Ayahnya merupakan seorang pria berdarah Jawa yang memiliki pertalian darah kuat dengan Sri Sultan Hamengkubuwana II. Menariknya lagi, berdasarkan catatan keluarga yang kerap diperbincangkan para penggemar, silsilah ini diperkuat dari dua arah sekaligus: garis kakek dari pihak ayah terhubung langsung ke Sri Sultan Hamengkubuwana II, sementara garis nenek dari pihak yang sama tersambung hingga ke Sri Sultan Hamengkubuwana VIII.

Di dalam catatan sejarah Nusantara, Sri Sultan Hamengkubuwana II dikenal sebagai figur penguasa Yogyakarta abad ke-18 hingga permulaan abad ke-19 yang berkarakter kuat serta berani menentang kekuasaan kolonial Inggris dan Belanda. Memiliki leluhur seorang tokoh perjuangan dan raja besar tentu memberikan kebanggaan tersendiri, sekaligus menempatkan Freya ke dalam jaringan keluarga besar salah satu kesultanan Islam paling berpengaruh di Pulau Jawa.

Berkat silsilah sah yang diakui secara adat istiadat, Freya berhak menyandang gelar kebangsawanan keraton secara resmi. Nama lengkapnya yang tercatat secara administratif di dokumen hukum adalah Raden Rara Freyanashifa Jayawardana. Fakta uniknya, gelar kebangsawanan ini tidak serta-merta dicantumkan dalam keperluan sehari-hari sejak ia masih kecil.

Gelar Raden Rara tersebut baru resmi disematkan pada identitas resminya, termasuk Kartu Tanda Penduduk (KTP), tepat pada saat usianya menginjak 17 tahun. Momen ulang tahun ketujuh belas yang biasanya dirayakan dengan pesta meriah oleh kalangan remaja sebayanya, justru menjadi penanda penting bagi Freya sebagai simbol kedewasaan serta kesiapannya menyandang nama besar leluhurnya.

Menyandang status sebagai keturunan raja tentu menuntut pembawaan diri yang selaras dengan nilai-nilai budaya yang dianut. Lingkungan keraton sangat identik dengan kepatuhan terhadap tata krama (unggah-ungguh), keanggunan, ketenangan, serta penghormatan mendalam pada tradisi turun-temurun. Di sisi lain, panggung JKT48 merepresentasikan dunia hiburan modern yang bergerak cepat, dinamis, kompetitif, dan penuh sorotan lampu panggung.

Hebatnya, Freya mampu menyelaraskan dua dunia yang tampak bertolak belakang ini dengan sangat luwes. Ketika berada di atas panggung, ia tetap bertransformasi menjadi seorang idola yang profesional, lincah, serta penuh energi untuk membawakan berbagai lagu hits JKT48 demi menghibur para penonton. Kendati demikian, didikan keluarga bernuansa Jawa yang kuat tetap tercermin jelas dalam perangai kesehariannya. Banyak rekan sesama profesi maupun para penggemar yang memberikan testimoni bahwa Freya merupakan sosok yang baik hati, tidak sombong, santun, bertutur kata halus, serta memiliki sopan santun yang tinggi saat berinteraksi dengan siapa pun.

Dari Pesona “Gusti Freya” Hingga Cermin Sang Maharaja

Satu hal yang membuat masyarakat semakin menaruh rasa hormat adalah perangai Freya yang senantiasa low profile. Ia tak pernah memanfaatkan latar belakang bangsawannya untuk mendulang popularitas instan apalagi sekadar pamer di ruang digital.

Sejak pertama kali bergabung dengan JKT48 melalui Generasi 7 pada tahun 2018, ia memilih dikenal murni sebagai “Freya”—seorang gadis muda yang merintis karier dari titik terbawah, melewati masa penjenjangan sebagai trainee, hingga menjelma menjadi salah satu anggota paling bersinar dan dipercaya mengemban posisi kapten. Di luar panggung, kepedulian sosialnya juga terlihat dari aksinya membuat konten belajar bahasa isyarat untuk teman-teman disabilitas.

Ketika informasi mengenai darah birunya terkuak dan viral di ruang publik sejak 2023, respons para penggemar justru dipenuhi humor kreatif yang hangat. Alih-alih merasa ada canggung atau jarak, fans menjadikan fakta tersebut sebagai bahan candaan estetik di media sosial. Julukan-julukan bernada penghormatan ala istana seperti “Kanjeng Roro Freya”, “Gusti Freya”, hingga “Tuan Putri” kerap menghiasi kolom komentar unggahannya. Unsur kebangsawanan ini memberi warna unik yang membedakan citra Freya dari idola remaja lainnya.

Gaya interaksi ini berlanjut hingga ke dunia nyata. Candaan unik di dunia maya—seperti kelakar penggemar yang berandai-andai ingin membangunkan candi untuk sang idola—membuat suasana saat meet and greet maupun panggilan video terasa jauh lebih akrab. Di luar kesibukannya memimpin JKT48, Freya juga terus mengasah bakat seninya ke layar lebar melalui sejumlah film Indonesia, seperti Kuasa Gelap, 1 Kakak 7 Ponakan, dan Harga Teman.

Meskipun hingga kini belum ada catatan valid yang menghubungkan silsilahnya dengan Prabu Hayam Wuruk, karakteristik Freya sekilas mengingatkan kita pada sosok maharaja legendaris Majapahit tersebut. Hayam Wuruk dikenal sebagai penguasa berdarah biru yang memiliki keahlian dan kecintaan tinggi terhadap seni pertunjukan—mirip dengan dedikasi Freya sebagai seniman panggung era modern.

Merujuk pada Kakawin Nagarakretagama (Desawarnana) yang disadur oleh Mien Ahmad Rifai, gambaran kepiawaian seni Prabu Hayam Wuruk terekam indah dalam momen perayaan tahunan kerajaan:

“…Sang Prabu ikut berdiri mengimbangi dan berkenan menyumbangkan selaras dua laras tembang. Sekalian yang hadir menjadi tercengang dan kagum mendengarkan suara Sri Rajasanagara yang begitu empuk dan serindai.”

“Dalam kemasan busana panggung, Sang Prabu tampil sangat anggunnya. Beliau maju ke tengah pentas bersama seorang pendamping dengan disertai oleh delapan pengiring…”

Pemandangan historis tersebut memperlihatkan adanya kemiripan nuansa dengan aksi panggung Freya saat bernyanyi dan menari bersama anggota JKT48 lainnya. Perpaduan harmonis antara garis keturunan bangsawan dan kecintaan mendalam pada dunia seni membuktikan bahwa pesona seorang figur publik selalu berhasil memikat hati masyarakat lintas generasi.

Meneladani Karakter Luhur Sang Idola

Perjalanan Freyanashifa Jayawardana—dari seorang gadis muda yang merintis karier dari bawah hingga menjelma menjadi figur publik terkemuka—memberikan teladan bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil. Latar belakang darah biru yang dimilikinya tidak lantas membuatnya tinggi hati atau mencari jalan pintas demi meraih popularitas. Sebaliknya, nilai-nilai luhur seperti kesantunan (unggah-ungguh), tutur kata yang lembut, dan sikap rendah hati yang konsisten ia tunjukkan merupakan cerminan dari didikan keluarga yang kuat.

Sikap ini membuktikan bahwa gelar atau latar belakang istimewa bukanlah sarana untuk menyombongkan diri, melainkan pengingat untuk senantiasa membawa diri dengan bijak di mana pun berada.

Kisah hidup Freya juga mencerminkan hubungan yang sehat dan harmonis antara seorang idola dan para pendukungnya. Respons kreatif para penggemar yang menyapanya dengan sebutan hangat seperti “Kanjeng Roro”, hingga candaan ringan di media sosial, menunjukkan bahwa interaksi dalam komunitas idola dapat dibangun atas dasar apresiasi yang positif.

Menjadi penggemar yang bijak berarti mendukung karya, prestasi, dan kerja keras sang idola secara sehat—baik melalui dukungan moral, mengapresiasi karya filmnya, maupun menjaga sikap santun saat meet and greet. Dengan menjauhi budaya penggemar yang toksik dan berlebihan, ruang interaksi antara idola dan penggemar dapat terus tumbuh secara harmonis serta memancarkan energi kebaikan bersama.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.