Advertisement

apijiwa.id — Menikmati kelezatan masakan Padang di Kota Bandung kini tidak lagi harus selalu mendatangi restoran fisik. Lewat konsep jualan keliling bernama “Si Paling” (singkatan dari Padang Keliling), kuliner khas Minang ini kini hadir menyapa penikmatnya di berbagai sudut Kota Kembang. Menggunakan sepeda listrik (selis) yang dimodifikasi dengan gerobak, para penjual dengan mudah ditemui dan siap melayani pembeli di tempat.

“Sebenarnya, di kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar, layanan ini sudah ada. Namun untuk Bandung, kami baru hadir mulai akhir Juli 2026 melalui event di Cihampelas Walk,” terang Muhammad Andhika, Admin Region Si Paling Kota Bandung.

Andhika menjelaskan bahwa operasional di lapangan secara resmi dimulai pada 6–7 Agustus 2026. Penjualan diawali dari 4 unit selis, lalu bertambah secara bertahap menjadi 8, 12, hingga 18 unit. Meski demikian, saat ini ada sekitar 13 unit selis yang beroperasi aktif.

“Rekrutmen penjual sangat mudah, tidak terbatas usia maupun pendidikan. Syarat utamanya bisa mengendarai selis, mampu menjual dan menghitung menu, sehat fisik, serta punya semangat untuk maju,” tambah Andhika, yang kini masih aktif mencari karyawan baru agar seluruh armada selis yang ada dapat terpakai optimal.

Potensi Pasar dan Strategi Pemasaran

Pemilihan Bandung sebagai lokasi ekspansi tidak lepas dari potensi pasarnya yang besar. Bandung dikenal sebagai wilayah yang sangat potensial bagi penikmat masakan Padang. Selain itu, masyarakat Kota Kembang cenderung menyukai hal-hal yang sedang viral—kategori yang diharapkan dapat dicapai oleh “Si Paling”.

Price list menu yang ditawarkan Si Paling. (apijiwa.id/Deffy Ruspiyandy)

Di bawah naungan PT Cipta Ruang Usaha, pemasaran “Si Paling” di Bandung terus berjalan dan mulai mengisi titik-titik strategis, terutama kawasan perkantoran. Untuk memperluas jangkauan, pihak manajemen juga berencana bekerja sama dengan influencer.

“Pemilihan lokasi jualan ditentukan oleh manajemen, tetapi bisa juga berdasarkan masukan dari Rider (sebutan untuk penjual). Sebagai warga lokal, Rider kerap menyarankan lokasi yang ramai atau area langganan mereka. Dalam waktu dekat, kami juga berencana ekspansi ke Kota Cimahi,” jelasnya.

Para Rider bekerja dari hari Senin hingga Sabtu, sementara hari Minggu diliburkan. Hal ini dikarenakan fokus area penjualan berada di kawasan perkantoran yang cenderung tutup pada akhir pekan.

Setiap hari, para Rider tiba pukul 08.00 WIB untuk mengantre persediaan makanan, lalu mulai berjualan dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. “Jika stok habis lebih cepat, Rider bisa pulang lebih awal. Namun jika permintaan masih tinggi, mereka bisa melakukan refill (isi ulang) dengan memesan via grup WhatsApp, dan tim manajemen akan mengantarkannya langsung ke lokasi,” kata Andhika.

Dapur Si Paling Bandung didukung oleh 2 orang chef, 2 orang helper, dan 4 orang tim manajemen. Aktivitas memasak dimulai sejak pukul 04.00 hingga 08.00 WIB.

Untuk pilihan menu, hidangan utama yang ditawarkan mencakup telur dadar, rendang, dan dendeng batokok. Selain itu, ada juga beragam olahan ayam yang disajikan berganti-ganti setiap harinya, seperti ayam cabai hijau, ayam pop, ayam bakar, hingga ayam gulai. Meski demikian, untuk saat ini pilihan menu olahan ikan, tunjang, dan kikil masih belum tersedia.

Soal harga, porsi Nasi Padang keliling ini dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau. Pembeli dapat menikmati Paket 1 Lauk plus nasi dengan harga berkisar antara Rp16.000 hingga Rp21.000, atau Paket 2 Lauk plus nasi yang dipatok seharga Rp33.000 hingga Rp38.000 saja.

Capaian Omzet dan Harapan Kedepan

Dalam tiga bulan pertama beroperasi, Si Paling Region Bandung berhasil membukukan omzet sekitar Rp60 juta hingga Rp80 juta per bulan. Rata-rata pendapatan harian tiap Rider berkisar antara Rp250.000 hingga Rp350.000, bahkan bisa mencapai Rp600.000 saat ramai.

“Target ideal kami sebenarnya 50 porsi per hari per Rider, meski hasil harian memang sulit diprediksi. Namun, pencapaian saat ini sangat kami syukuri karena diraih dengan kerja keras. Kami bahkan pernah meraih omzet tertinggi kedua setelah Bekasi,” ungkap pria yang baru pertama kali mengelola bisnis kuliner ini.

Pada tahun 2026 ini, manajemen Region Bandung menargetkan penjualan rata-rata Rider mencapai 1.300 porsi per bulan agar mampu menjadi wilayah dengan omzet tertinggi. Saat ini armada yang tersedia mencakup 19 unit selis dan 1 unit bajaj (yang masih menanti izin operasional dan pertimbangan efisiensi bahan bakar).

Melalui usaha ini, Andhika berharap “Si Paling” dapat makin dikenal luas sekaligus mampu membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya bagi masyarakat.

“Kami terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung,” pungkasnya.

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Redaksi Apijiwa.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *