Advertisement

apijiwa.id – Sebagai seseorang yang memiliki pengalaman sebagai penulis debut, saya menganalogikan proses pengiriman karya ke sebuah redaksi seperti mencuci pakaian. Tampaknya memang mudah: hanya merendam, mencuci, dan menjemur pakaian. Namun, coba saat Anda mencuci dalam keadaan tangan terluka. Pakaian belum terendam semua, tidak tercuci dengan bersih, dan noda pakaian masih menetap.

Mengirimkan tulisan ke redaksi sebuah media juga seperti itu. Kelihatannya hanya menyelesaikan tulisan dan mengirimkan ke media yang diinginkan. Akan tetapi, di balik semua itu, ada rasa keraguan dan keinginan yang hadir bersamaan.

Apalagi saya, seorang penulis debut, yang dengan beraninya mengirimkan tulisan ke media yang telah diisi oleh para penulis berpengalaman. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pengalaman ini, khususnya kepada penulis debut, yang ingin memiliki karya di media yang sama dengan para penulis senior.

Pengalaman Mengirimkan Karya ke Meja Redaksi

Meja redaksi dalam dunia kepenulisan menjadi tempat penyaringan atau kurasi atas sebuah karya. Penyaringan tersebut terdiri dari perencanaan, pengumpulan, dan penyuntingan, serta keputusan pemuatan karya.

Meja redaksi ini, menjadi tahapan kedua yang harus dihadapi oleh seorang penulis setelah mengirimkan karyanya. Setelah proses kurasi, penulis akan memperoleh hasil akhir dari produk tulisannya antara pesan “selamat” atau “mohon maaf” dari tim redaksi.

Bagi para penulis berpengalaman, redaksi merupakan ruangan yang menjadi tempat sehari-hari tulisan mereka, karena sudah biasa bolak-balik ke ruangan tersebut.

Akan tetapi, bagi para penulis debut, redaksi serasa tempat besar yang sulit untuk menghuninya, sehingga membutuhkan proses yang lebih ekstra dan memiliki kesabaran yang ekstra juga.

Tahap awal yang saya rasakan sebagai penulis debut, ketika saya ingin mengirimkan karya adalah merasakan keraguan. Alasannya, karena saya mengetahui bahwa karya-karya yang dimuat di media tersebut umumnya diisi oleh para penulis yang telah lebih dulu berkecimpung di dunia penulisan. Artinya, pengalaman mereka lebih dalam dan jauh jika disandingkan dengan saya.

Meskipun demikian, saya harus menghadapi kenyataan tersebut. Di sisi lain, saya juga merasakan keinginan yang kuat agar karya saya dimuat dan nama saya berada dalam satu media dengan para penulis tersebut.

Saat saya membaca syarat dan ketentuan yang tertera di media yang saya tuju, saya mempelajari hal tersebut supaya tidak salah menulis, sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

Kemudian, saya menulis karya dengan ditemani secangkir kopi, agar proses menulis lebih santai. Akhirnya, produk dari tulisan telah jadi dengan membutuhkan tiga sampai empat hari untuk memperdalam riset dan isi yang termuat pada tulisan.

Setelahnya, saya mengirimkan karya dan tibalah di tahap penungguan hasil kurasi di meja redaksi. Sehubungan redaksi yang saya tuju tidak menentukan jangka waktu pemuatan tulisan, baik saat diterima maupun ditolak, sehingga saya bolak-balik mengecek email seminggu setelah tulisan saya kirimkan.

Ternyata, pemberitahuan kepada saya tidak ada. Pada saat itu, saya merasa sedih dan bertanya-tanya tentang penyebab tulisan saya tidak ada pemberitahuan, padahal saya sudah menunggu selama satu bulan dan saya sudah memenuhi ketentuan yang ada. Saya iseng menelusuri redaksi itu untuk mengetahui apakah ada karya-karya terbaru.

Betapa girangnya saya, karena tulisan dan nama saya dimuat sebelum jangka waktu satu bulan. Saat itu, saya sadar bahwa redaksi tersebut hanya tidak memberitahu pemuatan tulisan saya, bukan tidak memuat karya saya.

Enam Tips Menulis dari Pengalaman Penulis Debut

Sebagai penulis debut, saya tidak dapat langsung memberikan tips yang banyak atau di luar dari pengalaman saya. Oleh karena itu, saya sudah menentukan kiat-kiat yang boleh Anda lakukan supaya karya pertama Anda menembus redaksi yang Anda tuju.

Akan tetapi, cara yang saya lakukan ini tidak untuk memaksa Anda. Saya hanya ingin membantu Anda, khususnya penulis debut, supaya karya Anda dapat dipublikasikan oleh media yang Anda inginkan. Maka dari itu, simak baik-baik kiat-kiat ini agar Anda paham.

1. Tentukan redaksi yang Anda inginkan

Cari terlebih dahulu media-media yang menerima tulisan sesuai dengan karya yang dapat Anda tulis. Misalnya, jika Anda dapat menulis fiksi, carilah  media yang terbuka untuk jenis karya tulis tersebut.

Namun jika Anda lebih cenderung menulis nonfiksi, carilah media yang menerima karya itu. Saat ini, ada banyak media yang terbuka untuk karya tulis, baik fiksi mapun nonfiksi. Sesuaikanlah dengan kemampuan Anda.

Sangat mudah  untuk mendapatkan beragam media. Kita dapat mencari di Google dengan menggunakan kata seperti “media yang menerima cerpen, media yang menerima artikel”. Bisa juga “media-media yang menerima karya fiksi dan nonfiksi”.

Berbagai nama media akan bermunculan, bahkan ada juga karya tulis penulis yang dimuat dalam suatu media dan membahas tentang media-media yang terbuka menerima tulisan.

2. Baca dan Pahami Syarat dan Ketentuan yang Berlaku

Syarat dan ketentuan yang ada pada media yang Anda tuju sangat penting untuk dibaca dan dipahami. Pada syarat dan ketentuan tersebut, meliputi topik tulisan, jenis tulisan, dan huruf yang harus digunakan, serta ukurannya. Ditambah lagi, waktu kurasi, benefit yang ditawarkan, dan ketentuan subjek email saat ingin mengirim tulisan, serta hal lainnya.

Jangan sampai tidak memenuhi salah satu syarat dan ketentuan yang ada, sebab syarat dan ketentuan itu dibuat untuk dipenuhi oleh penulis. Jika satu saja tidak dipenuhi, redaksi dapat menolak tulisan Anda. Maka dari itu, menulislah sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan dan jangan sampai melenceng sedikit pun.

3. Baca Karya Penulis yang Dipublikasikan

Untuk mengetahui kualitas-kualitas tulisan yang dimuat di sebuah media, Anda saya sarankan membaca tulisan-tulisan yang ada. Sebuah tulisan memiliki kedalaman riset yang berbeda tergantung dengan pengetahuan dan keinginan penulis untuk menginformasikan sesuatu informasi kepada khalayak.

Bacalah setiap tulisan itu dan boleh Anda bedah. Maksudnya adalah Anda membagi sebuah tulisan menjadi tiga bagian yang terdiri dari pembuka, pembahasan atau isi, dan penutup. Pelajari pada bagian pembuka tentang isinya dan apa yang dimuat pada bagian tersebut, begitu juga dengan bagian-bagian selanjutnya.

Setiap bagian tersebut, memiliki isi yang berbeda dan penyampaian informasi yang berbeda. Oleh karena itu, Anda dapat mempelajarinya dan menerapkannya pada tulisan Anda.

4. Berani Menulis Walaupun Harus Bersaing dengan Para Penulis Berpengalaman

Seperti yang saya alami, yaitu mengalami keraguan dan keinginan saat ingin mengirimkan tulisan ke media yang sering memuat karya dari para penulis berpengalaman.

Awalnya saya mengalami keraguan, tetapi akhirnya, setelah saya memberanikan diri untuk mengirimkan karya, akhirnya saya memperoleh kemenangan. Karya dan nama saya berada di antara para penulis berpengalaman yang telah ada.

Saya berharap Anda berani melakukan apa yang telah saya lakukan. Jika Anda tidak berani, Anda tidak akan memperoleh kemenangan dari karya yang Anda buat. Setelah keberanian itu ada, maka menulislah. Jika Anda tidak menulis, karya untuk dikirimkan tidak akan benar-benar ada.

5. Hasilkan Karya Terbaik Anda

Menulislah saat keadaan Anda tenang dan santai. Sebab, jika Anda di posisi tersebut, pikiran Anda akan terfokus pada kegiatan yang sedang Anda lakukan. Jangan menulis hanya untuk ditolak redaksi.

Artinya, Anda jangan menulis asal-asalan, seperti tidak sesuai syarat dan ketentuan, isi tulisan yang tidak koheren antara paragraf yang satu dengan paragraf lainnya, dan penggunaan kata yang tidak tepat atau masalah EYD, serta hal lainnya. Ditambah lagi, informasi yang Anda sampaikan tanggung.

Untuk meminimalisasi kesalahan-kesalahan tersebut, Anda sebaiknya memanfaatkan tools untuk membantu proses menulis, seperti ejaan id, kunci tts, dan tesaurus, serta typoonline. Lalu, untuk memperdalam kualitas tulisan, Anda dapat mencari dari berbagai sumber tentang isi tulisan Anda. Sumber-sumbernya, seperti buku, jurnal, dan kamus. Tergantung kebutuhan Anda,

Kirimkan karya terbaik Anda supaya Anda percaya diri untuk menembus meja redaksi yang Anda tuju.

6. Gunakan Jalur Langit untuk Memanifestasikan

Jalur langit adalah menggapai suatu keinginan dengan berdoa. Seperti semboyan ora et labora, artinya bekerja dan berdoa. Setelah memaksimalkan dalam pekerjaan, yakni menulis, maka berdoalah untuk membantu memanifestasikan keinginan Anda. Yakinilah hasil kerja keras Anda dan yakini juga doa yang Anda utarakan.

Terakhir dari Penulis

Terakhir dari saya yang sudah memiliki pengalaman penulis debut lolos meja redaksi adalah menuliskan dan mengirimkan suatu karya di tengah-tengah para penulis berpengalaman menjadi sesuatu yang sangat menantang.

Saya menyadari juga bahwa media yang memiliki para penulis yang lebih baik di atas saya adalah media yang saya sangat inginkan sebagai tempat berlabuh untuk karya tulis saya.

Keberanian yang saya miliki pada akhirnya mampu membuat saya membagikan pengalaman ini. Saya sangat berharap kepada Anda dan khususnya penulis debut mampu menembus meja redaksi di tengah nama-nama besar yang menghuni redaksi yang Anda tuju.

Facebook Comments Box

Penulis: Cindy May SiagianEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.