Advertisement

apijiwa.id – Bayangkan sebuah siang yang memanggang di sudut Kota Bandung, atau momen-momen syahdu saat menanti kumandang azan Magrib di bulan suci. Di hadapan Anda tersaji semangkuk es dengan serutan kristal yang menggunung, disiram sirup merah delima yang memikat, dan dipenuhi harta karun buah-buahan segar.

Indonesia memang kaya akan khazanah minuman tradisional; kita mengenal es dawet yang legit, es doger dan selendang mayang khas Betawi, hingga es kuwut dari Bali yang eksotis. Namun, di tengah riuh rendahnya “persaingan” rasa tersebut, Es Oyen muncul sebagai primadona yang memiliki daya pikat tersendiri.

Di balik sensasi dinginnya yang memanjakan lidah, tersimpan narasi panjang tentang perjuangan perantau dan sebuah misteri nama yang ternyata jauh lebih artistik daripada sekadar nama panggilan biasa.

Bukan Es Campur Biasa

Jika dilihat sekilas, Es Oyen mungkin tampak menyerupai es campur pada umumnya. Namun, rahasia kelezatannya terletak pada harmoni komposisi isiannya yang dikurasi dengan apik. Di dalam setiap mangkuknya, Anda akan menemukan kelembutan daging kelapa muda dan alpukat, kenyalnya kolang-kaling, aromatik buah nangka yang semerbak, serta butiran sekoteng yang menjadi identitas utamanya.

Refleksi menarik muncul dari kehadiran sekoteng ini. Secara tradisional, sirup sekoteng identik dengan minuman hangat penghalau dingin. Transformasi dari bahan yang biasanya disajikan panas menjadi elemen kunci dalam hidangan es yang menyegarkan adalah sebuah sentuhan jenius kuliner.

Perpaduan tekstur dan rasa inilah yang menjadikan Es Oyen sebagai menu takjil paling diburu, sebuah simfoni rasa manis dan segar yang berhasil menyatukan tradisi lama ke dalam mangkuk kekinian.

Dari sisi historis, jejak sejarah membawa kita kembali ke dekade 1950-an. Legenda ini bermula ketika seorang pria gigih bernama Haji Bashar Sudjana memutuskan untuk merantau dari kampung halamannya.

Bersama sang istri, Tati Sutihat, ia meninggalkan Kampung Cisalak, Desa Sukalilah, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, untuk mengadu nasib di Kota Bandung. Modal utamanya bukanlah harta benda, melainkan warisan keahlian membuat sirup sekoteng dari orang tuanya.

Membangun ikon kuliner ternyata membutuhkan ketabahan yang luar biasa. Awalnya, Bashar menjajakan racikannya dengan cara dipikul, sebelum akhirnya beralih menggunakan gerobak. Lokasi dagangnya pun terus berpindah-pindah mengikuti arus keramaian kota.

Barulah pada tahun 1962, jejak pengembaraan kulinernya menemui pelabuhan tetap di Jalan Sukajadi No. 18. Ketekunan Bashar selama belasan tahun tersebut adalah bukti bahwa sebuah legenda tidak lahir dalam semalam, melainkan dipahat melalui keringat dan konsistensi.

Misteri Nama “Oyen”

Salah satu teka-teki paling menarik adalah asal-usul nama “Oyen”. Banyak orang terjebak dalam mitos bahwa itu adalah nama panggilan sang pemilik atau bahkan nama burung peliharaan yang populer di masa lalu. Namun, sejarah mencatat kisah yang jauh lebih puitis. Nama tersebut lahir dari persinggungan antara dunia kuliner dan seni rupa pada tahun 1970.

Merujuk pada buku berjudul 200 Ikon Bandung: Ieu Bandung, Lur! (Buku Pertama, 2020) yang diterbitkan oleh PT Pikiran Rakyat Bandung, nama Oyen merupakan pemberian seorang pelukis asal Yogyakarta pada tahun 1970, setelah pelukis tersebut melukis wajah Haji Bashar Sudjana di atas kanvas.

Lukisan bersejarah itu sempat dipajang dengan bangga di salah satu kiosnya di depan RS Immanuel, Jalan Kopo. Sayangnya, ada gurat melankolis dalam sejarah ini; lukisan asli yang menjadi cikal bakal nama melegenda tersebut kini telah hilang karena rusak oleh suatu sebab. Meski fisiknya telah tiada, nama “Oyen” tetap abadi, menjadi merek dagang yang tak terpisahkan dari identitas kuliner Bandung.

Dewasa ini, Es Oyen telah melampaui batas geografis asalnya. Popularitasnya tidak lagi terkunci di sudut-sudut Jalan Sukajadi, melainkan telah melanglang buana ke berbagai daerah dan provinsi di Indonesia. Kehadirannya kini bersanding sejajar dengan ikon-ikon kuliner Bandung lainnya yang telah lebih dulu melakukan invasi rasa, seperti seblak, cireng, dan cilok.

Diterimanya Es Oyen secara luas menunjukkan bahwa minuman racikan Haji Bashar memiliki cita rasa universal yang mampu melintasi sekat budaya. Lebih dari sekadar minuman, Es Oyen telah bertransformasi menjadi “duta gastronomis” yang membawa identitas Bandung ke seluruh pelosok negeri. Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah usaha keluarga yang dimulai dari pikulan mampu tumbuh menjadi warisan budaya yang dicintai oleh masyarakat lintas generasi.

Lebih dari Sekadar Pelepas Dahaga

Es Oyen adalah pengingat bahwa di balik setiap hidangan yang kita nikmati, terdapat lapisan sejarah dan kreativitas yang mendalam. Kesegarannya bukan sekadar soal es dan sirup, melainkan hasil dari perjalanan panjang Haji Bashar Sudjana dari pelosok Garut hingga menjadi maestro kuliner di Bandung.

Nama “Oyen” sendiri menjadi simbol unik bagaimana sebuah interaksi tak terduga dengan seorang seniman mampu melahirkan branding yang bertahan hingga lebih dari setengah abad. Jadi, saat Anda menyeruput semangkuk Es Oyen berikutnya, rasakanlah jejak perjuangan tahun 1950 yang terlarut di dalamnya.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.